Tampilkan postingan dengan label tereliye. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tereliye. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Januari 2016

[Review] Bulan

0


Judul : Bulan [Bumi #2]
Pengarang : Tere Liye 
Penerbit : GPU
Tebal : 424 Halaman
Tahun Terbit : Cetakan kesatu, Maret 2015
Kategori : Teenlit, Adventure, Fantasi
ISBN : 978-602-03-1411-2
Harga : Rp. 88.000,-
Status Buku : Pinjam @iJak
Ratingku : 5/5
 Bisa dibeli di bukupediacom

Raib, Seli, dan Ali menjalani kehidupan sehari-hari mereka kembali setelah 6 bulan berlalu sejak pertempuran yang terjadi di Perpustakaan Sentral yang ada di dunia Bulan. Walaupun banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran mereka, semua itu harus mereka tahan. Miss Selena guru matematika sekaligus prajurit dari klan bulan memberi instruksi kepada mereka untuk menunggu. Miss Selena berjanji akan menjawab segala pertanyaan mereka bertiga ketika segala kekacauan di klan bulan diselesaikan. Banyak sekali yang harus Miss Selena urus. Mereka bertiga hanya bisa bersabar menanti.
Lumayan, walau absurb! lol
Setelah akhirnya Miss Selena muncul ketika Ali mulai berulah, lagi, yang mengakibatkan mereka bertiga berakhir di ruang BP. Mereka beritiga merasa lega karena sebentar lagi semua pertanyaan yang berkecamuk akan segera terjawab. Namun, sayang Miss Selena sendiri juga belum mengetahui banyak hal. Berita baiknya kemunculan Miss Selena adalah untuk mengajak mereka bertiga berdiplomasi dengan klan Matahari. Leluhur Seli. Tamus, si hitam, musuh mereka sewaktu terjadi peperangan di dunia Bulan memang sudah terkurung bersama Tanpa Mahkota di petak penjara Bayangan di Bawah Bayangan. Tapi hal itu masih tetap mengkhawatirkan seandainya Tamus bisa lolos dari penjara tersebut. Untuk itu klan Bulan berencana untuk menjalin kerja sama dengan Klan Matahari.
Perjalanan mereka bertiga ke Klan Matahari tanpa diduga menjadi suatu petualangan berbahaya. Mereka tidak pernah menyangka akan diikutsertakan dalam kompetensi Festival Bunga Matahari Klan Matahari. Festival yang diadakan tiap tahun oleh Klan Matahari untuk menemukan Bunga Matahari pertama yang mekar di dunia Matahari.

*************

Rasanya sungguh bahagia bisa membaca buku ini. Walau sayang sekali di iJak hanya ada buku kedua dari series Bumi ini. Saya pertama kali tahu novel series ini adalah dari fanpage penulis. Beberapa bab diposting secara gratis oleh penulis. Dan saya yang awalnya agak skeptis merujuk judul buku yang cuma satu kata yaitu Bumi hanya iseng mengisi waktu luang membaca tulisan baru Tere Liye. Dan tanpa disangka saya langsung jatuh cinta dengan tulisan penulis. Saya tahu ada beberapa cerita yang ditulis penulis agak menyerempet ke genre fantasi, tapi baru kali ini saya membaca tulisan penulis yang berbau fantasi. Penulis yang satu ini selalu membuat saya takjub. Hampir semua genre sudah pernah ditulis dan selalu menghasilkan karya yang bagus. Semakin salut ketika menurut pengakuan penulis bahwa beliau menulis ketika hanya ada waktu luang dan viola dalam beberapa bulan saja penulis bisa menghasilkan satu buku series ini. Hmm, hebat kali penulis produktif yang satu ini.
Dan, penamaan tokoh pada cerita ini yang membuat saya takjub di awal membaca series bumi ini adalah, Raib. Nama yang aneh. Hingga beberap bab diketahui bahwa sang tokoh utama mempunyai kekuatan bisa menghilang. Berasa tertipu sekali saya waktu itu karena jelas-jelas persamaan dari kata Raib sendiri kan hilang. Saya makin semangat membaca kisah-kisah Raib yang waktu itu dengan kekonyolan remaja Raib menghilangkan jerawat yang mucul di wajahnya. Konyol, kan?
Namun, sayangnya penulis memberi kabar bahwa novel Bumi akan segera naik cetak dan postingan di FB dihentikan oleh penulis. Saya pun rada kecewa mengingat sudah penasaran. Hingga akhirnya novel Bumi sudah terbit dan saya sempat melupakannya. Dan karena sampai saat ini saya belum berkesempatan membaca buku Bumi aka kere akhirnya saya nekat loncat membaca buku kedua series ini. Dengan berbekal nanya-nanya ke teman yang sudah membaca buku kesatu. Dan tentu saja saya harus berterima kasih kepada Irnari @Treasure Island yang sudah memberi spoiler. :3
Baiklah, kita bahas tentang buku kedua ini.
Di buku kedua ini beberapa rahasia terkuak bahwa Raib adalah keturunan Dunia Bulan, Seli keturuan Dunia matahari dan Ali, yah, dia keturunan dari bangsa paling rendah, Bumi. Mereka bertiga masih mempunyai banyak pertanyaan setelah apa yang terjadi pada mereka selama ini. Hanya saja walau bagaimana pun rasa penasaran memang masih menggerogoti mereka bertiga. Apa lagi Miss Seline yang menghilang.


“Ketahuilah, mau seberapa maju teknologi dunia ini, mau bagaimanapun mereka mengubah peraturan kompetensi, maka sejatinya kompetensi ini tetap tentang alam liar. Kamu tidak akan membutuhkan kekuatan besar, atau senjata-senjata terbaik untuk menemukan bunga pertama mekar. Kamu cukup memiliki keberanian, kehormatan, ketulusan, dan yang paling penting, mendengarkan alam liar tersebut.” (Nenek Hana-p.147)


Setelah kedatangan Miss Seline, mereka tidak diberi pilihan untuk melontarkan kebingungan mereka karena harus mengikuti festival Bunga Matahari. Kompetensi yang terpaksa mereka ikuti demi kemulusan perjanjian yang akan dibuat dengan Dunia Matahari. Kompetensi yang akan diikuti mereka adalah menemukan bunga matahari mekar pertama. Mereka harus melawan 9 grup lain yang mengikuti kompetensi Bunga Matahari. Ada 4 tantangan yang harus mereka pecahkan dan saya harus mengakui bahwa petulangan mereka ini benar-benar seru. Seandainya dibuat movie pastinya keren!
Setelah mereka berdua sampai di Dunia Matahari di tengah hiruk pikuk kehebohan festival Bunga Matahari yang terlintas di benak saya adalah pertandingan Quiddick yang pernah didatangi Harry. Dan beberapa petualangan Ra dkk mengingatkan saya juga ketika Harry mengikuti kompetensi Piala Api dengan Cedric. Ah, mungkin penulis benar-benar terinspirasi dari novel Harry Potter, tapi entahlah.
Lagi-lagi penulis selalu memberi akhir yang membuat saya lemes. Ada satu kejadian yang membuat saya sedih dan hampir menangis saking tidak relanya. Jempolan banget deh penulis ini. Walau memang petualangan mereka berdua hampir selalu mulus, twist di akhir itu lho yang benar-benar jleb banget menghantam saya, Ra, Seli, dan Ali. Aargh .... kenapa pula harus dibuat seperti itu! Efek dramatisirnya memang dapet banget sih, tapi .... T_T



“Sungguh ada banyak sekali hal di dunia ini yang bisa jadi kita susah payah menggapinya, memaksa ingin memilikinya, ternyata kuncinya dekat sekali : cukup dilepaskan, maka dia datang sendiri. Ada banyak masalah di dunia ini yang bisa jadi kita mati-matian menyelesaikannya, susah sekali jalan keluarnya, ternyata cukup diselesaikan dengan ketulusan, dan jalan keluar atas masalah itu hadir seketika.” (Raib-p.209)


Saya selalu menyukai tulisan penulis, cara penulis bercerita itu memang khas sekali. Selalu ada kalimat-kalimat khas penulis sekali di tiap bukunya. Seakan penulis tidak pernah kehilangan identitas dirinya. Contoh yang jelas adalah buku ini. Buku ini mengambil tema fantasi, dikhususkan untuk remaja tapi anehnya penulis tidak memakai gaya bahasa khas remaja. Penulis masih tetap menulis dengan gaya tulisannya yang tidak baku tapi tidak terlalu gaul. Anehnya tidak ada keanehan ketika saya membaca novel remaja tapi menggunakan bahasa resmi. Novelnya tetap asik saja dibaca. Selalu khas Tere Liye. Dan tidak terasa sebagai novel terjemahan walau genrenya fantasi. Tetap terasa bahwa setingnya adalah remaja Indonesia walau dengan segala hal-hal ajaib di dalamnya.
Satu hal yang membuat saya super kecewa adalah cover buku ini. Ampun, saya benar-benar gagal paham mengapa dibuat seperti itu. Boro-boro terlihat seperti novel fantasi, khas remaja pun tidak. Saya mikirnya seperti cover-cover novel romance! xD
Setelah membaca buku ini tentunya saya makin penasaran dengan buku selanjutnya. Yang katanya akan terbit pada tahun 2016 ini. Semoga saja saya bisa membaca buku kelanjutan bumi ini. :)


Minggu, 24 Maret 2013

'Berjuta Rasanya'

1



Judul : Berjuta Rasanya
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Penerbit Mahaka
Halaman : 205 Halaman
Tahun Terbit : Cetakan VI, November 2012
Kategori : Fiksi, Romance, Kumcer
Harga : Rp. 40.000,-
ISBN : 978-602-9474-03-9
Sumber Gambar : disini 
 Bisa dibeli di bukupediacom

Terakhir kali aku merasakan bahwa tidak ada salahnya menyukai buku kumcer adalah ketika aku membaca kumcer dari Primadonna Angela yang berjudul ‘Satsuki Sensei’ sejak saat itu aku mulai membaca beberapa kumcer lagi. Tapi tetap saja fakta bahwa aku kurang tertarik membaca kumcer alasan sepele adalah karena karena berupa cerpen tentu saja hobi sekali membuat akhir yang open ending, hal yang bikin penasaran ini lah yang aku tidak suka. Begitu juga dengan buku bertajuk kumcer yang dibuat oleh Tere Liye walau hampir tidak ada cerita yang kubenci dari 15 cerpen semuanya open ending. Mungkin ada beberapa yang beranggapan bahwa lebih baik open ending biar pembaca bisa menentukan sendiri bagaimana nasib tokoh kesayangannya. Tapi tidak bagiku yang merasa sebal karena walau seberapa inginnya aku tentang nasib baik para tokohnya tetap saja Penulis adalah Tuhan yang menentukan nasib para tokohnya bukan pembaca.

Jumat, 14 September 2012

'Negeri Para Bedebah'

0

Dsc09874
Judul : Negeri Para Bedebah

Pengarang : Tere Liye

Tahun Terbit : Cetakan I, Juli 2012

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 440 hal

Kategori : Action, Fiction, Dewasa

Harga : Rp.  60.000,- 

ISBN : 978-979-22-8552-9

 

Disaat meluangkan waktu sejenak dari segala kesibukan aktifitasku di sebuah hotel dengan alasan tidak ingin diganggu siapapun, pukul satu dini hari tepatnya, seseorang tanpa malu datang berkunjung memberi kabar buruk padaku.

Seseorang tersebut memberitahu bahwa Bank Semesta yang dipimpin oleh Om Liem terpaksa harus ditutup. Aku sama sekali tidak dengan keadaan Bank Semesta yang kupedulikan hanya kesehatan Tante Liem yang memburuk. Dan juga aku sama sekali tidak peduli seandainya memang Om Liem harus di penjara.

Tetapi semua itu tidak boleh terjadi. Om Liem harus Lari. Bank Semesta tidak boleh ditutup. Ada yang aneh dengan kasus Bank Semesta ini seakan ada hantu dari masa lalu yang selalu membayangi keluarga kami, untuk itulah dalam dua hari ini aku akan melakukan apapun untuk mengungkap semuanya. Dendam puluhan tahun yang lalu. Termasuk menjadi bedabah dan buronan.

 

Keren!!! Keren!!! Keren!!!!

Sumpah ga ada kata yang tepat selain kata ‘keren’ buat menjabarkan keistimewaan buku ini. Awalnya aku bener-bener terkecoh banget dengan judul dan bab pembuka dimana obrolan santai Thomas yang mengintimidasi Julia mengenai dampak kekayaan yang sangat merusak melebihi dampak kemiskinan. Aku pun ga ada bedanya dengan Julia yang mempunyai pikiran betapa sombongnya tokoh utama yang satu ini sekaligus wow! Aku ikutan takjub dengan penjelasan detail Thomas yang memang sesuai bahwa dia lulusan terbaik dua sekolah bisnis terkenal dan penasihat keuangan profesional tahu betul seluk beluk lingkaran setan yang diakibatkan oleh uang!

Aku bukan pengamat politik, aku juga bukan pengamat ekonomi dan aku juga jarang sekali—malah ga pernah—ngikutin berita yang ada di TV. Mana ngerti aku tentang segala pencucian uang, krisis ekonomi global, dan segala aktivitas ekonomi lainnya. Tapi seperti biasa dengan gaya bahasa Tere Liye yang mengalir apa adanya membuat semua itu terasa bukan sesuatu yang sulit untuk dipahami dan tampak sangat sederhana. Seperti yang sudah diwanti-wanti oleh Bang Tere, novel ini bukan bercerita tentang anak-anak dan keluarga seperti novel-novel Bang Tere sebelumnya melainkan tentang penghianatan, penghianatan, dan penghianatan. Memang benar adanya ini novel dengan genre tebaru Bang Tere ditambah dengan sangarnya cover buku ini dan label NOVEL DESAWA di belakang cover. Tapi aku melihatnya tidak seperti itu, bagiku novel Bang Tere tuh ga pernah jauh-jauh dengan tema anak-anak dan keluarga. Kesimpulanku yang kudapat Thomas adalah laki-laki yang terluka di masa lalu, anak-anak yang terluka di masa kecilnya dan sama sekali luka tersebut belum terobati walau sesukses ataupun seterkenl dan sesibuk jadwal Thomas—yang bahkan melebihi jadwal Presiden. Seperti yang dituturkan Thomas sendiri ‘Aku adalah anak muda yang dibakar dendam masalalu’. Thomas sama sekali tidak peduli dengan nasib Om Liem yang bakal di penjara, Bank Semesta yang bakal di bail-out, apalagi mengurusi segala hal darimana datangnya dana kampanye. Satu hal yang diinginkan Thomas adalah keadilan. Keadilan untuk Mama-Papa-nya yang terbakar. Pembalasan Tommi yang bukan lagi hanya seorang anak kecil yang berumur 10 tahun yang tidak bisa apa-apa.

Di mulai lah misi balas dendam Thomas dengan segala bantuan dari teman-teman Thomas—Rudi, Erik dan Randy, dan juga sekertarisnya Maggie serta wartawan cantik—Julia :D—untuk menyelamatkan Bank Semesta. Nah proses penyelamatan Bank Semesta ini lah yang sangat menarik dan bikin deg-degan. Dengan ide dadakan Thomas yang sangat hebat dan brilian. Satu persatu bidak catur yang diinginkan Thomas berperan memainkan perannya dengan sangat baik.

Katakter yang aku sukai tentu saja Thomas semenjak bab pertama aku sudah jatuh cinta sama Thomas ketika menjaili Julia :D. Dan dengan alaminya Julia menjadi partner yang cocok dengan Thomas walaupun Julia sempat dibikin jengkel oleh Thomas. Tetapi selain Thomas entah kenapa aku menyukai tokoh Rudi apalagi ketika Rudi terbengong-bengong melihat jalannya konvensi partai dan juga Rudi adalah partner Thomas ketika menjalankan bidak catur ‘PUTRA MAHKOTA’. Dan memang ketika bagian tentang pertemuan dengan Putra Mahkota lah yang aku sukai, dimulai dengan mengancam Erik untuk menghubungi Putra Mahkota, janjian di Denpasar dan ide gila Rudi saat berangkat dan ditambah ide gila Thomas menjalani prosesi pendaratan mereka. Semua cerita di bagian ini sangat komplit dan bikin tegangnya lama. Karena bagian-bagian yang lain di buku ini walau bikin tegang tapi kurang banyak porsinya. Selain itu juga bagian ketika Thomas membayangkan adegan pelarian dari polisi dengan menyamar sebagai Pilot yang mengingatkan dia akan film lawas, dipikiranku langsung! Catch Me If You Can! Jadi kangen sama film abang Leo :D dan ternyata ada bagian yang sama dengan film ini jangan-jangan novel ini sedikit banyak terinspirasi dari film abang Leo, apalagi temanya sama ‘sini tangkep aku kalau bisa’ :D. Selain Thomas cs ada tokoh keluarga Thomas selain Om Liem yaitu Opa. Mau ga mau nasihat-nasihat bijak yang diberikan Opa kepada Thomas mengingatkanku pada Pak Tua di novel Bang Tere sebelumnya (ini resensiku). Ide-ide brilian Thomas pun bisa dibilang terilhami dari cerita-cerita Opa yang selalu diceritakan semenjak Thomas remaja sampai-sampai Thomas menjulukinya sebagai cerita kaset rusak yang diputar berulang-ulang.

Alur dalam buku ini maju mundur mengisahkan masa lalu Thomas dan diceritakan dengan sudut pandang pertama yaitu Thomas. Masalah typo pastinya ada walau beberapa dan tidak begitu menggangu. Tetapi ada satu hal yang bikin aku aneh tentang umur Thomas ketika tragedi kelam masa kecilnya terjadi karena ada dua kali atau lebih aku lupa yang kuingat dihalaman 119 yaitu ‘Aku bukan lagi anak kecil enam tahun yang berlari-lari mengantar susu’. Nah jelas-jelas waktu itu Thomas sudah berumur sepuluh tahun.

Bisa dibilang novel ini ada di urutan pertama novel Bang Tere yang aku sukai setelah Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Dan entah ini kebetulan atau apa kerennya dua novel ini mempunyai alur yang sama! Sama-sama mengambil alur waktu yang singkat! Cerita Thomas yang Cuma terjadi selama dua hari sedangkan cerita Tania Cuma satu jam tiga belas menit! Mungkin hal ini jugalah yang menurutku membuat kedua novel ini istimewa :D. Hal ini yang bikin tegang juga kali ya.

Untuk ending yang diberikan aku ga banyak berkomentar banyak karena selain aku sedikit dikit bisa menebak, novel ini memiliki ending yang khas Tere Liye banget. Kalau pun novel ini akan ada sekuelnya—walau kecil kemungkinannya—tentu saja aku sangat menunggunya :D

Berbicara tentang cover, aku suka sekali sama cover sangar buku ini cocok sekali dengan isi bukunya. Dan judulnya yang nyentrik pun sangat cocok yaitu Negeri Para Bedebah yang tanpa sengaja mempunyai kesamaan denga judul puisi karya Adhie M. Massardi. Dan menurut Bang Tere hal ini murni ketidaksengajaan dan sudah dikonfirmasi juga bahwa tidak ada masalah atas kesamaan judul ini. Dan ternyata dulu sekitar tahun 2002 Bang Tere pernah bergelut sebagai pengamat politik di surat kabar dan yah makanya novel ini bisa sekeren dan bikin aku takjub :D.

(info ini ku dapat dari FB Bang Tere, saya lupa-lupa inget, pas timeline-nya saya ubek-ubek tidak ketemu >,<)

Novel ini sangat cocok dibaca siapapun khususnya buat para penggemar novel Bang Tere yang ga bakal mengecewakan karena mengambil genre baru, tetapi harus tahu juga bahwa novel ini termasuk novel dewasa :)

Untuk Thomas pedebah ulung aku kasi nilai 5 :)

 

Quotes yang kusukai

Thomas hal 321

‘Aku baik-baik saja, Ram. Tidak selalu apa yang kau dengar seburuk sebenarnya’


Lainnya

Puisi Negeri Para Bedebah

Karya:Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah

Lautnya pernah dibelah tongkat Musa

Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah

Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?

Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah

Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah

Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah

Orang baik dan bersih dianggap salah

Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan

Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah

Karena hanya penguasa yang boleh marah

Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah

Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah

Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum

Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah

Usirlah mereka dengan revolusi

Bila tak mampu dengan revolusi,

Dengan demonstrasi

Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi

Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Sumber di sini

Minggu, 05 Agustus 2012

'Bidadari-Bidadari Surga'

0

Album_pic
Judul : Bidadari-bidadari Surga

Pengarang : Tere Liye

Tahun Terbit : Cetakan VI, Maret 2010

Penerbit : Republika

Kategori : Fiction, Romance

 

‘Pulanglah. Sakit kakak kalian semakin parah. Dokter bilang mungkin minggu depan, mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti malam. Benar-benar tidak ada waktu lagi. Anak-anakku, sebelum semuanya terlambat, pulanglah....’

Pesan 230 karakter tersebut dengan kecepatan bagai rudal tanpa ada yang dapat mencegahnya terkirim ke empat nomor telepon genggam. Tak peduli di manapun itu berada. Tak peduli sedang apapun pemiliknya. Kabar itu segera terkirimkan. Melesat mencari empat nomor telepon genggam yang dituju.

Ke empat nomor telepon tersebut adalah milik Dalimunte yang saat itu sedang menjadi pembicara di simposium internasional fisika, Ikanuri dan Wibisana yang baru saja menginjakkan kaki di tanah Roma demi menyelesaikan tender hak pembuatan sasis salah satu mobil balap tersohor produksi Itali, kemudian telepon genggam Yashinta yang sedang mengamati aktivitas alap-alap kawah di tubir kawah Semeru.

Tanpa mempedulikan semua aktivitas yang sedang mereka lakukan saat itu mereka berempat bergegas menuju Lembah Lahambay, tanah kelahiran mereka titik balik keberhasilan mereka berempat.

 

Sudah bisa dipastikan novel-novel Tere Liye tidak pernah mengecewakan pembaca. Salah satunya novel ini. Awalnya kupikir novel ini tentang hebatnya peran seorang Ibu. Tapi ternyata bukan itu yang dibicarakan Tere Liye, melainkan seorang kakak yang rela berkorban demi kehidupan yang lebih baik dari adik-adiknya. Sungguh baru kali ini tiap bab dalam novel yang ku baca selalu membuatku berkaca-kaca. Tenang sebentar tiba-tiba dadaku mulai sesak ketika sampai pada bagian masa lalu dengan kakak mereka Laisa. Yah novel ini mengambil alur maju mundur yang lebih banyak menceritakan masa lalu para tokoh. Padahal menurutku tema yang diangkat sungguh sederhana dan simpel yaitu kasih sayang seorang kakak kepada adik-adiknya. Dan dengan pemakaian sudut pandang orang ke tiga yang penulis menjadi pengamat. Dulu banget aku pernah mikir memang ada ya yang nulis novel tiba-tiba kebagian peran dibukunya sendiri gitu? Mungkin karena aku kurang baca buku-buku yang lain dan mungkin sduah tapi lupa aku baru sadar kalau Tere Liye suka memakai sudut pandang seperti ini yang aku temukan pada novel ini dan novel delisa.

Keluarga Mamak Lainuri yang tergolong berekonomi rendah dan setelah kematian sang suami menambah deretan kesulitan ekonominya. Laisa yang sebagai anak pertama dengan terpaksa merelakan masa kanak-kanaknya membantu Mamak Lainuri bekerja untuk kepentingan sekolah adik-adiknya. Sebenarnya tema dibuku ini sudah umum dimana perjuangan orang miskin untuk menjemput kehidupan lebih baik. Tapi justru itulah selalu yang aku bilang kehebatan Tere Liye yang bisa meramu cerita menjadi lebih menarik. Isu sekolah pun selalu disinggung penulis, dengan tokoh Laisa yang selalu menasihati adik-adiknya untuk sekolah dan sekolah dan kalau tidak sekolah tidak mempunyai masa depan. Semua yang membaca pasti selalu tertohok dengan bagian ini karena yah bagi aku pribadi sekolah bukan menjadi tempat favorit hehe. Kita yang bisa sekolah terkadang tidak pernah ikut merasakan betapa masih banyak orang-orang yang ingin sekolah tetapi tidak bisa. Tokoh yang kusukai tentu saja Profesor Dalimunte selain dia pintar banget dan paling nurut diantara anak-anak paling nurut dan tentu saja romantisme strawberry yang terjadi antara Dalimunte dan Cie Hue—istrinya :D. Hampir semua novel Tere Liye yang pernah kubaca tidak lepas dengan adanya typo, yah walau karena ceritanya yang bagus jadi terlupakan tetapi pemberian informasi yang salah suka terjadi. Awal cerita dikisahkan bahwa Ikanuri dan Wibisana berumur 34 dan  33 tahun yang padahal Yashinta sebagai adiknya berumur 34 tahu. Dan ternyata mereka berdua berumur 36 dan 35 tahun.

Terlepas dari semua itu aku sangat menyukai novel ini :) dan wajib dibaca oleh siapapun agar kita belajar bagaimana kasih sayang yang tulus seorang kakak kepada adiknya :)

Aku kasih nilai 5 untuk Prof. Dalimunte :)

Senin, 09 Juli 2012

'Sunset Bersama Rosie'

0

Sunset_bersama_rosie
Judul : Sunset Bersama Rosie
Pengarang : Tere Liye
Tahun Terbit : Cetakan II, Desember 2011
Penerbit : Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)
Jumlah Halaman : 426 hal
Kategori : Romance, Fiction
ISBN : 978-602-98883-6-2
Harga : Rp. 60.000,-

Demi mengikuti prosesi indahnya perayaaan ulang tahun pernikahan kedua sahabatku—Rosie dan Nathan—yang ke-13. Kami bertujuh aku, Rosie, Nathan dan ke-4 kuntum bunga mereka—Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili menikmati indahnya sunset di pantai Jimbaran, Bali walau aku terpisah jauh di Jakarta dengan kemajuan teknologi aku tidak ketinggalan setitik pun momen terindah ini.
Hanya saja kami semua tidak pernah mengetahui bahwa takdir berkata lain. Kesakralan acara kami direngut sekejap dengan sebuah bom yang tanpa diduga meledakkan restoran dimana keluarga Rosie berada. Aku yang panik berusaha menghubungi Rosie—yang sayangnya tidak ada jawaban karena memang HP Rosie sengaja dinonaktifkan. Aku tanpa memikir ulang langsung menuju Bali tanpa menghiraukan atau lebih tepatnya melupakan janji masa depanku yang besok akan ku ukir bersama Sekar.
Bom yang meledakkan Bali, meninggalkan sisa-sisa kesedihan pada setiap korban—termasuk Rosie. Nathan telah pergi, meninggalkan Rosie dan keempat kuntum bunga mereka. Ya Tuhan, aku hanya bisa berharap kesedihan ini berkurang—walau sedikit. Tapi kesedihan ini tidak berkurang sejengkal pun. Rosie yang mengalami intensitas kebahagiaan selama 13 tahun tidak sanggup menghadapi kesedihan dihatinya. Rosie depresi, dia berusaha untuk bunuh diri dan tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata. Dan dia harus menjalani terapi. Entah akan sembuh besok, lusa, bulan depan, tahun depan, bahkan bertahun-tahun.
Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Bagaimana dengan ke-4 kuntum bunga ini yang telah ditinggal pergi ayahnya, kemudian disusul ibunya? Demi keluarga ini aku meninggalkan segalanya. Meninggalkan semua hal yang kubangun di Jakarta sana selama 6 tahun terakhir dan meninggalkan Sekar. Dan janji-janji kehidupan dengannya.

Terlalu menyakitkan..........
Setelah belum lama ini aku membaca karya Tere Liye yang walau ada beberapa hal yang bikin sedih tetapi kebanyakan bikin tertawa Aku, Kau dan Sepucuk Angpao Merah. Sekarang lagi-lagi disuguhkan kisah yang begitu menyedihkan dan menyakitkan bagi tokoh maupun yang membacanya. Awalnya aku yang sedikit tahu bagaimana jalan cerita tentang novel ini—tentang insiden Bom Bali—yang pastinya banyak kesedihan-kesedihan mencoba untuk tidak mentitikkan air mata. Walau akhirnya sampai buku ini selesai dibaca hanya mataku yang berkaca-kaca—pada akhirnya. Aku jujur paling sebal dengan cerita dengan tema seperti ini. Dua orang bersahabat sejak kecil, tiba-tiba tumbuh rasa tetapi pada akhirnya tidak bisa bersatu dikarenakan munculnya seseorang yang lain. Menyedihkan. Hal itu lah yang dirasakan oleh Tegar—Tegar Karang. Dia bersahabat sejak kecil dengan Rosie. Selama 20 tahun memendam rasa dikalahkan oleh Nathan yang hanya mengenal Rosie selama 2 bulan. Tegar yang tidak bisa menerima kenyataan memutuskan untuk pergi. Dan selama 6 tahun baru bisa berdamai dengan perasaannya dan selama 6 tahun pula Tegar berusaha menerima. Tetapi nasib berkata lain insiden Bom Bali mengubah semuanya. Tegar yang begitu mencintai anak-anak Rosie tanpa ragu meninggalkan semua yang dimilikinya untuk menjaga dan mencurahkan segala kasih yang dimilikinya. Selama 2 tahun Tegar menjalankan peran Paman yang hebat, keren dan super. Selama 2 tahun pula Tegar lagi-lagi terjebak dengan masa lalunya—begitu yang dibilang Oma.
Sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang orang pertama yaitu Tegar. Alur yang maju mundur menjadikan kita lebih mengetahui sebesar apa perasaan Tegar kepada Rosie. Walau penuh hal yang menyedihkan dan menyakitkan tidak kupungkiri bahwa aku menikmati membaca novel ini. Bagian tersedih dan menjadi favorit ku adalah ketika Om, Uncle, dan Paman Tegar menjelaskan makna pergi dengan penggambaran kunang-kunang dan lilin kepada ke-4 kuntum bunga Rosie. Aku ikut tergugu ketika membaca penggambaran yang indah yang diberikan oleh Tegar. Dengan pemahaman yang begitu sederhana. Tak elak membuat mataku berkaca-kaca—bahkan saat mengetik resensi ini. Memang benar apa yang kebanyakan orang bilang ditinggalkan lebih menyakitkan daripada meninggalkan—khusus kematian. Orang yang mati telah selesai urusan di dunia ini dan tidak bisa kembali lagi—tentu saja. Sebaliknya yang ditinggalkan merasa hidupnya paling hancur dan sengsara sama halnya seperti yang terjadi pada Rosie. Novel ini mengajarkan kita cara untuk bisa berdamai—bukan melupakan hal-hal yang menyedihkan. Sebelumnya aku menyinggung tentang Om, Uncle, dan Paman Tegar. Menarik bukan? Kenapa ada panggilan yang begitu banyak untuk Tegar. Om untuk panggilan Anggrek kepada Tegar, Uncle yang dipilih oleh Sakura, dan Paman yang lebih indah menurut Jasmine. Nah apa panggilan Lili untuk Tegar? Harus baca novelnya sampai selesai—tentu saja :D.
Akhir dari novel ini hanya mempunyai 2 pilihan. Tegar melanjutkan hidupnya dengan Rosie atau melanjutkan janji kehidupannya dengan Sekar. Pilihan sederhana tapi pilihan yang sama-sama menyakitkan banyak pihak. Inilah lagi-lagi hal yang kubenci, apapun pilihan yang diambil oleh Tegar berdambak besar bagi semuanya, Rosie dan ke-4 kuntum bunganya dan juga Sekar yang sudah menjalani semua dengan berpegang janji Tegar kepadanya. Aku yang sudah membaca pada bab-bab terakhir mulai menebak-nebak akhir dari cerita Tegar, berkali-kali menebak selalu salah bahkan sampai pada akhir cerita. Entah tiba-tiba aku malah berpikir cerita tentang Tegar, Rosie dan Nathan seperti film Bollywood yang terkenal pada zamannya—Kuch Kuch Ho ta Hai. Apalagi ketika ditanya oleh Anggrek, Tegar dan Rosie mendefinisikan bahwa ‘Cinta adalah Persahabatan’. Ya ampun langsung deh aku punya pikiran janga
n-jangan memang seperti film India yang menjadi favoritku juga—walau memang sama sekali tidak sama persis. Harus kuakui aku agak kecewa dengan pemikiranku ini, bukan, bukan karena aku membenci karya ini yang sedikit sekali  mirip. Entahlah, aku hanya menginginkan cerita Tegar ini berbeda.
Tokoh yang paling kusukai adalah Oma, tidak banyak bicara tetapi mempunyai peran yang sangat besar dalam novel ini. Jujur harus kuakui, aku sangat membenci Rosie—dengan semua jalinan perasaan yang terhubung dengan Tegar. Menyakitkan, sekali lagi aku mengulang. Segalanya terasa menyakitkan apabila kita memandang dari sudut masing-masing tokoh. Novel yang kubenci sekaligus yang kusuka. Oia ada hal yang sangat membuatku penasaran sekali karena sampai menamatkan buku ini aku sama sekali tidak tahu siapakah gerangan anak muda yang mengajarkan arti kata cukup pada Tegar yang padahal jelas-jelas Tegar pada halaman 403 mengatakan ‘esok lusa aku baru tahu siapa anak muda tersebut’. Sangat menyebalkan memang karena aku tidak mendapatkan penjelasan apapun lagi. So who are you kid?
Untuk Om, Uncle, Paman, dan (sebutan Lili) Tegar aku beri nilai 5 :)

Aku suka sekali sinopsis dibelakang buku ini.
Sebenarnya, apakah itu perasaan? Keinginan? Rasa memiliki? Rasa sakit, gelisah, sesak, tidak bisa tidur, kerinduan, kebencian? Bukankah dengan berlalunya waktu semuanya seperti gelas kosong yang berdebu, begitu saja, tidak istimewa. Malah lucu serta gemas saat dikenang
Begitulah waktu, waktu yang selalu akan menjawab semuanya. Sepahit dan semanis apapun yang terjadi dalam hidup kita :)

Minggu, 24 Juni 2012

'Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah'

0

Angpau

Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang : Tere Liye
Tahun Terbit : Cetakan I, Januari 2012
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Kategori : Fiction, Romance
Harga : Rp. 72.000,-

Pagi ini, aku akhirnya memutuskan, aku akan memulai kehidupan sebagai: pengemudi sepit!—setelah gonta-ganti pekerjaan selama dua tahun terakhir ini. Sungguh, meski melanggar wasiat Bapak yang mengatakan padaku: ‘Borno, jangan pernah jadi pengemudi sepit’, aku berjanji akan jadi orang baik, setidaknya aku tidak akan mencuri, tidak akan berbohong, dan senantiasa bekerja keras—meski akhirnya hanya jadi pengemudi sepit.
Aku menikmati pekerjaan baruku walau hanya menjadi pengemudi sepit, awalnya aku belajar mesin dan mengemudi sepit terlebih dahulu dengan Pak Tua—tetangga yang kuanggap ayah sendiri. Tetapi ternyata tidak segampang itu Bang Togar dengan seenaknya malah menyuruhku untuk membersihkan jamban di dermaga sepit. Oke, ini ospek, masa orientasi, dan karena dia juga ketua PPSKT (Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta).
Seminggu aku belajar mengemudi sepit hari kelulusanku tiba, akhirnya aku bisa mengemudi sepit secara langsung. Tanpa disangka dan diduga ada seorang gadis berbaju kurung kuning, rambut tergerai panjang, berwajah sendu menawan perawakan Cina yang menumpang dihari pertama aku menarik sepit, alamak perasaan apa ini? Selama dua puluh tahun lebih aku belum pernah jatuh cinta jadi aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Gadis itu, gadis berwajah sendu menawan yang merubah hidupku yang biasa-biasa ini.
Dan di hari itu juga ada barang penumpang yang tertinggal di sepitku, sepucuk surat. Surat bersampul merah, dilem rapi, dan tanpa nama.

Sederhana dan ringan .......
Selalu dan selalu novel karya Tere Liye ini—yang sudah kubaca—bertema sederhana. Cerita buku ini hanya seputar kehidupan kecil Borno, lika liku kehidupan Borno dari kecil sampai beranjak dewasa. Oia sebelum aku berbicara tentang isi buku ini, aku ingin mengucapkan terima kasih terlebih dahulu kepada Mba Annisa yang sudah berbaik hati sekali meminjamkan buku ini kepadaku yang walaupun kita belum pernah berjumpa sama sekali :D. Awalnya aku meminjam novel ini karena tentu saja penasaran dengan novel terbaru sang penulis favoritku Tere Liye, dan tanpa disangka juga pihak Gramedia membuat kontes resensi buku ini yang berhadiah iPad kebetulan yang manis lagi dari banyaknya buku yang ingin aku pinjem Mba Annisa malah mengirim buku ini terlebih dahulu padaku. Seperti yang Pak Tua bilang kepada Borno ketika bekunjung ke Surabaya dan tidak mengetahui alamat Mei sang gadis berwajah sendu menawan tentang jangan mengintevensi jalan cerita yang sudah digariskan Tuhan. Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Yup, selalu dan selalu apabila kita percaya pada Allah percaya deh pasti ada jalannya seperti aku sekarang ini bisa mengikuti lomba resensi ini :)
Kalau selama ini aku disuguhin cerita yang banyakan bikin nyesek dan mewek—walau hanya berkaca-kaca saja. Tidak untuk novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah ini, aku dibuat banyak ketawa dan ngakak dengan tingkah-tingkah Borno dkk dari awal sampai akhir :D. Well sebenarnya bisa dibilang paket komplit juga, ada perasaan kesel, kecewa, cemberut, sedih, penasaran, lucu dan ga bisa berhenti ketawa ketika membca novel ini.
Seperti yang sudah ku singgung di awal, bahwa novel ini hanya bercerita tentang kehidupan Borno dari kecil saat berumur 12th yang sudah ditinggal mati oleh Ayahnya yang seorang nelayan—jatuh tersengat ubur-ubur. Dan Ayah Borno lebih memilih untuk mendonorkan jantungnya. Borno kecil yang belum banyak mengerti hanya bisa menangis dan berteriak ‘Bapak belum mati! Kenapa dadanya dibelah! Dia bisa sadar kapan saja’ yang nantinya kematian Bapak Borno ini merubah segalanya bagi sebagian tokoh yang ada di novel ini. Adalah benar kalau novel ini membuatku tertawa sampai ngakak malah, bagaimana tidak kisah berlanjut terus sampai Borno lulus SMA dan memulai kehidupan barunya dengan berganti-ganti pekerjaan. Nah disinilah poin gonta-ganti pekerjaan Borno menimbulkan kehebohan tersendiri sampai-sampai ada insiden Borno dilarang naik sepit untuk menyebrang sungai Kapuas hanya karena bekerja di kapal Feri, untuk yang mau tau lebih lanjut wajib baca bukunya—tentu saja. Yah walau Borno yang oleh Bang Togar fotonya dilaminating dan ditempel di dermaga menjadi terkenal di kalangan para penumpang tidak menyurutkan niatnya untuk teteap bekerja di kapal feri tapi karena suatu hal Borno benar-benar meninggalkan pekerjaannya itu dan keputusan final menajdi pengemudi sepit. Berbicara tentang sepit, aku pribadi tidak terlalu tahu bagaimana sih sebenarnya perahu sepit dan tanpa basa basi langsung nanya ke mbah google, ini nih penampakannya :)
Kapuas_edit
Dan berbicara tentang sepit ini, membuatku mau tak mau jadi ingin sekali berkunjung ke kota Pontianak, merasakan indahnya sungai Kapuas dan merasakan bagaimana rasanya meletakkan uang uang di dasar perahu—aturan main penumpang sepit. Sang penulis tanpa perlu ditanya sangat menggambarkan dengan jelas bagaimana keadaan kota Pontianak—termasuk kisah hantu Ponti asal muasal nama Pontianak. Dan dari novel ini pun aku baru tahu kalau keturunan Cina itu mempunyai nama kedua atau nama Nasional, ternyata ruwet juga ya.
Kisah Borno benar-benar dimulai ketika Borno menemukan sepucuk angpau merah sesuai judulnya yang selalu Borno sangka milik ‘sang sendu menawan’. Memang pada akhirnya angpau merah itu milik Mei. Kisah konyol Borno dan Andi—sahabat Borno—yang penasaran dengan keberadaan ‘sang sendu menawan’ ini membuatku senyum-senyum sendiri. Pencarian pemilik sang angpau yang berujung kecewa, pencarian nama sang sendu menawan yang bikin Borno heboh dan berakhir dengan wajah cemberut sang gadis karena namanya dijadikan bahan ledekan, pencarian alasan untuk mengajak kencan Mei, perpisahan, pertemuan di Surabaya sampai selesainya kisah cinta pertama dan cinta pada pandangan pertama Borno sang pemuda berhati lurus sepanjang sungai Kapuas. Memang tidak hanya hal yang indah yang dirasakan oleh Borno, terkadang hal-hal yang sedih pun ada. Kita diajak untuk menelusuri bagaimana proses perjalanan cinta pertama dan cinta pada pandangan pertama Borno. 
Sudu
t pandang dalam novel ini adalah dengan mengambil sudut pandang Borno dan dengan alur maju mundur, aku tidak terlalu paham apa memang alurnya maju mundur atau tidak karena terkadang penjelasan dari satu kejadian baru diceritakan beberapa hari kemudiannya. Alur yang dalam novel ini tergolong cepat dan tanpa basi-basi langsung keinti cerita. Sedangkan untuk typo, tentu saja ada tapi tidak terlalu menggangu aku pribadi dalam menikmati kisah Borno ini, awalnya aku kira tidak bakalan menemukan typo tapi di akhir-akhir cerita barulah tanpa ditunggu nongol sendiri :D. Novel ini dibuat benar-benar bagus oleh Tere Liye karena ini adalah novel ke-4 yang ku baca dan aku sudah mendengar gosip bahwa novel ini bakal happy ending tetapi ada bagian yang tersedih dan paling aku sukai adalah ketika Pak Tua bercerita bahwa cinta yang cocok untuk Andi, cinta adalah perbuatan. Pak Tua bercerita tentang sahabatnya Fulan dan Fulani pasangan buta yang merasakan pahit dan manisnya menjadi pasangan selama berpuluh tahun. Dan tanpa diduga juga tokoh Fulan dan Fulani juga diceritakan kembali ketika Borno dan Pak Tua bekunjung ke Surabaya untuk berobat. Aku sampai berkaca-kaca pas baca bagian ini. Nyesek dan terharu dan iri juga sama pasangan ini.
Secara kesulurahan sudah pasti ini memang novel yang bagus dan menarik sekali. Banyak sekali pesan-pesan moral yang disampaikan Tere Liye dalam novel ini, petuah-petuah Pak Tua yang bisa dipakai untuk pedoman hidup. Entah kenapa tokoh dalam novel ini yang kusukai setelah Borno adalah Andi. Melihat Andi seperti melihat diriku sendiri yang sama-sama suka penasaran hehe.
Dari Andi juga aku jadi mengingat orang-orang terdekatku gara-gara insiden 'kebohongan si sendu menawan dan 'pembalasan dendam Borno'. Seperti Pak Tua bilang bahwa Borno yang patah hati karena Mei mengingatkan bahwa 'Banyak sekali orang yang jatuh cinta lantas sibuk dengan dunia barunya itu. Sibuk sekali, sampai lupa keluarga sendiri, teman sendiri. Padahal siapalah orang yang tiba-tiba mengisi hidup kita itu? Kebanyakan orang asing, orang baru. Kau lupa Borno. Kalau hati kau sedang banyak pikiran, gelisah, kau selalu punya teman dekat. Mereka bisa menjadi penghiburan, bukan sebaliknya tambah kau abaikan.' Aduh~~~ Kata-kata Pak Tua ini memang dalem banget. Memang kebanyakan dari kita sibuk dengan perasaan diri kita sendiri, merasa yang paling menderita, merasa paling nelangsa dan teman-temannya. Padahal ada orang-orang terdekat kita yang lebih peduli melebihi diri kita sendiri. Novel ini benar-benar mengajarkan hal-hal yang sangat kecil dan mungkin dirasa sepele oleh kita dan setelah membaca novel ini kita baru sadar bahwa sesungguhnya semua hal di dunia ini memang mempunyai porsi sendiri yang tidak kalah pentingnya. Lagi dan lagi dibuat salut sama penulis yang satu ini :D. Insiden 'pembalasan dendam Borno' pun tak kalah pentingnya bahwa memang yang namanya balas dendam tidak pernah menguntungkan baik untuk kita sendiri maupun orang lain.
Hebatnya lagi dari awal sampai akhir aku dibuat penasaran sekali dengan nasib surat aka angpau merah yang ditemukan Borno disepitnya. Kita sebagai pembaca dibuat terlena oleh Tere Liye dengan cerita manis dan patah hati perjuangan Borno mendapatkan Mei. Memang aku juga terkadang lupa, tapi dibenakku selalu memikirkan angapau merah itu, sebenarnya ditaruh dimana surat itu sama Borno setelah kecewa Mei bagi-bagi angpau karena menjelang Imlek. Nah kita tanpa paksaan nih jadi selalu kepikiran dan baru merasa plong ketika diungkapkannya rahasia di balik angpau merah di akhir cerita. Lucu dan lucu bener dah pembaca tidak bakalan protes dengan kata-kataku ini Bang Togar yang seperti kita tahu selalu membuat kesal tokoh utama kita Borno sebenarnya baik hati dan tingkahnya yang konyol setelah insiden dipenjara selama enam bulan tak elak membuat kita ngakak :D
Untuk cover novel ini aku suka, walau meurutku agak sedikit suram warnanya merah dan aku malah ga sadar sama sekali kalau yang jadi latarnya adalah perahu sepit dan sungai Kapuas. Mungkin karena aku begitu terpesona dengan sang sendu menawan hehe. Cover yang agak suram ini mungkin maksudnya untuk menggambarkan tokoh Mei yang selalu berwajah sendu, aku pribadi ingin covernya agak cerahan dikit. Ye lah ye lah aku tahu kalau cerah gitu wajah sendu Mei pasti tidak bakalan terlihat hehe.
Banyak benang merah yang terhubung antara tokoh dalam novel ini, walau pun aku berusah menebak-nebak—yang berakhir gagal—aku cukup puas dan agak kecewa dengan ending dari buku ini. Sebenarnya memang sekali lagi novel ini happy ending dan dibuat tuntas tidak ada hal yang menggantung dan membuat penasaran. Tapi tetep aja aku merasa kurang banyak cerita Borno dan Mei ini walau sebenarnya buku ini cukup seksi yang sampai 500hal hehehe
Novel ini diperuntukan untuk semua yang ingin tahu bagaimana indahnya cinda pertama dan cinta pada pandangan pertama, untuk semua kalangan wajib sekali baca novel ini. Baik yang sudah baca maupun belum novel Tere Liye, kisah sederhana Tere Liye tentang pemuda Kapuas :)
Untuk Borno yang bikin aku pengen naik sepit aku kasih nilai 5 :)

Selasa, 17 Januari 2012

'Hafalan Shalat Delisa'

0

Delisa
Judul : Hafalan Shalat Delisa
Pengarang : Tere Liye
Tahun Terbit : Cetakan X, Agustus 2009
Penerbit : Republika
Kategori : Fiction, Religius
Harga : Rp. 46.000,-
Bisa dibeli di bukupediacom

Di salah satu rumah, di sudut kota Lhok Nga. Adzhan shubuh bergema membangunkan seluruh penghuni kota. Sebuah keluarga kecil dengan segala kesadarannya memulai aktivitas dipagi hari seperti biasanya. Keluarga kecil Abi Usman memulai shubuh ini dengan salat berjamaah.
Keluarga Abi Usman yang terdiri dari Abi Usman, Ummi Salamah, Alisa Fatimah, Alisa Zahra, Alisa Aisyah, dan si kecil bungsu Alisa Delisa. Rutinitas yang dimulai seperti hari-hari biasanya shalat shubuh berjamah walau tanpa Abi Usman yang memang baru pulang setelah bekerja di salah satu kapal tanker perusahaan minyak asing—perusahaan di Arun. Ummi, Fatimah, Zahra, Aisyah yang sedang mengaji dan Delisa yang sedang asik menghafal hafalan shalatnya yang belum juga ia kuasai. Hafalan shalat Delisa yang merubah hidup gadis yang masih tearmat kecil, yang baru saja genap berumur enam tahun. Bencana alam yang tak terelakkan merubah seisi kehidupan kota Lhok Nga.

Nyesek.....................
Lagi dan lagi, tiap baca novel yang dibuat Tere Liye. Sesiap apapun hati ini yang ada hanya tangis—walau tanpa air mata—yang tak pernah terelakkan. Walau aku ga pernah sekalipun menititikkan air mata disaat membaca karya-karya Tere Liye diawal novel selalu aja membuatku berkaca-kaca, sesedih dan sebahagia apapaun cerita di dalam novel yang terjadi. Sungguh memang tema yang diusung Tere Liye sederhana—kesederhanaan dalam hidup, yang dibuat seapik dan seindah mungkin oleh Tere Liye. Novel ke-3 yang aku baca, yang selalu membuatku ketagihan—candu—karya-karya Tere Liye yang lain. Novel ini bercerita tentang Delisa dengan keluarga kecilnya yang bahagia. Dikarunia orang tua yang begitu bikin iri, kakak-kakak yang selalu membimbing Delisa. Walau cerita hanya seputar hapalan shalat Delisa, bagaimana Delisa dengan polosnya berlatih dan berlatih demi shalat yang sempurna—atau demi sebuah kalung bagi Delisa. Delisa seperti anak seumurannya kehidupannya hanya seputar sekolah dan bermain bersama teman-temannya. Hidupnya seketika berubah ketika badai tsunami menghantam pulau Sumatera pada hari Ahad, 26 Desember 2004, tepat 7 tahun yang lalu dari hari ini. Yang terbesit pertama kali dipikiranku saat membaca novel ini tanggal 26 Desember 2004 aku lagi apa? Disaat saudaraku setanah air di ujung pulau Sumatera sedang berjuang melawan dahsyatnya takdir yang diberikan Yang Maha Kuasa, aku sedang melakukan hal yang sama seklai tidak penting.
Sungguh, membaca tiap lembar novel ini mampu membuatku berkaca-kaca, bahkan menulis resensi ini pun hanya dengan membayangkan bagaimana mengerikannya saat itu membuatku ingin menangis. Dari Delisa aku belajar banyak hal, kepolosan anak sekecil ini mampu membuat siapapun merasa kalau diri ini tidak ada artinya. Penggambaran yang begitu detail menggugah hati siapa pun yang membaca novel ini.
Sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang orang ketiga dengan alur maju yang berpusat pada Delisa. Novel yang begitu digemari seluruh penduduk Indonesia dengan terbuktinya cetak ulang dengan angka yang fantastis. Novel yang kubaca saat ini adalah edisi revisi yang walu menurutku masih banyak bagian-bagian yang harus direvisi—dengan adanya typo disana sini. Entahlah sehebat apa Tere Liye sampai bisa membuat novel-novel yang sangat indah yang selalu membuat jutaan fansnya menunggu-nunggu karya terbarunya. Di novel ini juga terdapat catatan kaki dari sang penulis—walau awalnya aku kurang paham dengan catatn kaki ini. Karena di akhir novel baru kusadari catatan kaki ini merujuk pada isi hati sang penulisa—begitu juga para pembaca. Novel ini memang hanya karya fiktif belaka sesuai penuturan sang penulis, yang hanya ditulis ketika penulis tersedu melihat berita tentang liputan anak-anak Aceh pasca bencana Tsunami. Khas penulis juga dengan ending yang selalu bikin nyesek sekaligus merasa puas setelah menamatkan novel ini.
Lagi dan lagi aku selalu ingin membaca karya-karya yang dihasilkan Tere Liye.
Untuk si manis Delisa aku beri nilai 5 :)

Hafalan Shalat Delisa The Movie
Merujuk pada novel Delisa yang sukses, akhirnya novel ini diangkat menjadi layar lebar yang sudah meredar di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia. Walau sangat disayangkan aku sendiri belum menontonnya :( Jadi aku belum bisa membandingkan antara versi novel dan layar lebarnya.
Berikut sinopsis dan cuplikan dari film Hapalan Shalat Delisa :) yang diambil dari situs 21cineplex
Delisa (Chantiq Schagerl) gadis kecil kebanyakan yang periang, tinggal di Lhok Nga desa kecil di pantai Aceh, mempunyai hidup yang indah. Sebagai anak bungsu dari keluarga Abi Usman (Reza Rahadian), Ayahnya bertugas di sebuah kapal tanker perusahaan minyak Internasional. Delisa sangat dekat dengan ibunya yang dia panggil Ummi (Nirina Zubir), serta ketiga kakaknya yaitu Fatimah (Ghina Salsabila), dan si kembar Aisyah (Reska Tania Apriadi) dan Zahra (Riska Tania Apriadi)
26 Desember 2004, Delisa bersama Ummi sedang bersiap menuju ujian praktek shalat ketika tiba-tiba terjadi gempa. Gempa yang cukup membuat ibu dan kakak-kakak Delisa ketakutan. Tiba-tiba tsunami menghantam, menggulung desa kecil mereka, menggulung sekolah mereka, dan menggulung tubuh kecil Delisa serta ratusan ribu lainnya di Aceh serta berbagai pelosok pantai di Asia Tenggara
Delisa berhasil diselamatkan Prajurit Smith, setelah berhari-hari pingsan di cadas bukit. Sayangnya luka parah membuat kaki kanan Delisa harus diamputasi. Penderitaan Delisa menarik iba banyak orang. Prajurit Smith sempat ingin mengadopsi Delisa bila dia sebatang kara, tapi Abi Usman berhasil menemukan Delisa. Delisa bahagia berkumpul lagi dengan ayahnya, walaupun sedih mendengar kabar ketiga kakaknya telah pergi ke surga, dan Ummi belum ketahuan ada di mana
Delisa bangkit, di tengah rasa sedih akibat kehilangan, di tengah rasa putus asa yang mendera Abi Usman dan juga orang-orang Aceh lainnya, Delisa telah menjadi malaikat kecil yang membagikan tawa di setiap kehadirannya. Walaupun terasa berat, Delisa telah mengajarkan bagaimana kesedihan bisa menjadi kekuatan untuk tetap bertahan. Walau air mata rasanya tak ingin berhenti mengalir, tapi Delisa mencoba memahami apa itu ikhlas, mengerjakan sesuatu tanpa mengharap balasan. "Delisa cinta Ummi karena Allah" Mulai tayang 22 Desember 2011.
Beberapa gambar dari movie Delisa :)
Hafalan-sholat-delisa137412_film-hafalan-shalat-delisa_300_225Safe_image137413_film-hafalan-shalat-delisaPara-pemain-film-hafalan-shalat-delisa

Ada versi cover lain nya dari novel ini, diantaranya adalah
Hafalan-shalat-delisa1376220

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com