Tampilkan postingan dengan label religius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religius. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2016

[Review] Love In The Blue City

4


Judul : Love in Blue City
Pengarang : Irene Dyah
Tahun Terbit : Cetakan I, Mei 2016
Penerbit : GPU
Jumlah Halaman : 240 hal
Kategori : Romance
ISBN : 978-602-03-2865-2
Harga : Rp. 59.000,-
Rating : 4/5
Bisa dibaca secara gratis di aplikasi iKaltim


Sebagai pencinta warna biru, mengunjungi Chefchaouen—Blue City negeri Maroko—adalah impian bagi Nada Aleema Shahrir. Pucuk dicinta ulam tiba, abangnya berencana berbulan madu ke Maroko dan menawarinya ikut serta.
Tentu saja Nada girang. Di kota cantik itu dia berharap bertemu kembali dengan Haykal Baztar Malik, pria yang sekian lama diam-diam sulit diusir dari hatinya.
Tak dinyana, setiba di sana, sebuah paket istimewa menunggu Paket istimewa itu bernama Noemie Anderson.
Seorang model sekaligus pengusaha. Lahir dari rahim seorang wanita Maroko yang menikahi pria berdarah Eropa.
Berpenampilan ala Kendall Jenner versi Timur Tengah, plus baik hati, cerdas, dan lucu. Noemie mendatangi Nada lantaran ingin kembali mengenal Islam. Mana mungkin Nada menolaknya?
Masalahnya, Noemie melekat pada Haykal seperti lintah.
Mereka adalah partner kerja sekaligus kawan lama. Mau tak mau, kehadiran Noemie adalah ganjalan bagi Nada yang menyimpan asa pada Haykal, yang menurut Rania, sahabatnya, adalah buaya darat/playboy cap tikus busuk/serigala berkedok hamster.
Dihujani perhatian Haykal yang memabukkan, dikepung Kota Biru yang romantis, apakah Nada masih cukup waras untuk menentukan keputusan?

******

Tidak ada yang salah pada diri Nada ketika dirinya kecewa pada Haikal. Bagaimana tidak? Nada sudah menantikan sekian lama untuk bertemu dengan Haikal. Di Kota Biru impiannya, ketika Haikal memilih untuk selalu bersama Noemie.
Nada yang memiliki gengsi besar tentunya tidak secara terang-terangan membenci Noemie. Apa lagi Noemie ingin mengenal Islam dari dirinya. Noemie ingin mengenal Islam secara mendalam lewat Nada yang dirasanya religius tidak seperti Haikal. 
Nada harus menata hatinya jika tidak ingin patah hati. Apa lagi sikap Haikal yang sangat tidak berperasaan yang selalu menggoda Nada. Membuat emosi Nada terkadang tidak stabil.
Perjalanan Nada di Kota Impiaannya seakan hancur sudah. Keinganan Nada hanya satu, lebih baik dia pulang ke tanag air daripada harus patah hati.

******

Saya masih meraba-meraba apakah memang sudah direncanakan sejak awala semua tokoh utamanya muslim. Keterbatasan bacaan saya dalam seri Around The World belum mampu menjawab pertanyaan saya. Karena unsur Islamnya kuat buku ini bisa dikatakan novel religius, tapi dibilang novel religius pun bukan. Karena saya berani taruhan pembaca nonmuslim pun tidak akan terganggu dengan kenyataan tokoh utamanya seorang muslim.
Saya langsung menyukai Love In The Blue City semenjak membacanya. Dan dibuat penasaran dengan pertemuan awal Nada dan Haikal. Inilah yang saya benci tentang novel berseri. Selalu ada yang hilang ketika saya membacanya dengan tidak berurutan. Walau begitu tidak terlalu masalah memang. Hanya pertemuan pertama mereka berdua yang hilang.
Di awal saya benci sekali denga Haikal. Tega sekali dia bercentil ria dengan Noemie di saat ada Nada. Saya pun ikut merasa cemburu sama seperti Nada. Namun, lambat laun saya mulai menyukai Haikal. Ternyata Haikal tidak seburuk itu. Bisa juga dirinya bersikap manis. Ah, saya pun mulai jatuh cinta dengannya. xD
Well, semoga saya diberi kesempatan untuk bisa mencicipi seri lainnya. Karena saya beneran mulai jatuh cinta dengan setiap tokohnya. Dan penasaran dengan tokoh-tokoh lainnya. Dan kunjungan ke negara mana lagi. Semoga. 

[Review] Love In Edinburgh

0


Judul : Love in Edinburgh
Pengarang : Indah Hanaco
Tahun Terbit : Cetakan I,  2015
Penerbit : GPU
Jumlah Halaman : 240 hal
Kategori : Romance
ISBN : 978-602-03-0930-9
Harga : Rp. 58.000,-
Rating : 3/5
Bisa dibaca secara gratis di aplikasi iKaltim




Katya adalah karyawati toko kue di Edinburgh yang aktif sebagai relawan di beberapa badan amal. Sementara Sebastian adalah pemilik perusahaan parfum yang sedang menyiapkan masa depan bersama kekasihnya.
Lewat sebuah reality show berjudul Underground Magnate, keduanya bertemu. Sejak awal, mereka punya banyak perbedaan. Katya, muslimah yang menemukan Tuhan justru saat berada jauh dari kota kelahirannya, Jakarta. Sebastian, pria Yahudi yang cenderung menjadi islamophobia usai ibunya menjadi salah satu korban runtuhnya gedung WTC.
Namun, ada terlalu banyak hal tak terduga yang terjadi.
Reaksi kimia di antara mereka terlalu kuat untuk diabaikan.
Ketika akhirnya Katya dan Sebastian punya kans untuk bersama, dosa masa lalu menghantui keduanya, menuntut penyelesaian. Bisakah cinta membuat mereka tetap bertahan?

******

Sejak mendengar kabar mendengar kabar bahwa GPU akan menerbitkan novel romens seri Around The World saya lumayan penasaran. Tetapi belum cukup penasaran untuk segera membacanya. Dan ketika akhirnya ada kesempatan, saya tidak menyia-nyiakannya.
Hidup Katya Nefertiti berubah total ketika dia memutuskan untuk meninggalkan tanah air. Katya mencoba melarikan diri dari masa lalu yang membelenggunya. Yang Katya inginkan dia harus segera pergi secepatnya. Sebelum keberaniannya hilang. Katya tidak sengaja memilih Edinburgh sebagai destininya.
Di Edinburgh Katya menemukan kehidupan yang lebih baik. Tidak terkekang seseorang yang menyakitinya. Dan juga menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Tuhan. 
Novel ini memiliki kisah tentang Katya yang berjuang melawan masa lalunya. Dan Sebastian yang berusaha mencari arti sebenarnya sebuah pernikahan.
Saya tidak pernah menyangka bahwa penulis akan menonjolkan agama di dalam kisah Katya. Katya digambarkan sebagai seorang muslim. Diceritakan juga bagaimana sulitnya seorang muslim beribadah. Mengingat bagi kalangan luar Islam identik dengan teroris. Kebencian sekitar pada Katya pun ditonjolkan dengan jelas. Seperti ketika pertemuan awal Sebastian dengan Katya. Sebastian merasa benci setelah melihat Katya salat. Yang ada di pikiran Sebastian orang Islam adalah yang membunuh ibunya. Sikap sinis yang terang-terangan pun tidak dianggap permusuhan oleh Katya. Penulis begitu baik menyelipkan sikap moral dengan tidak melawan kesinisan dengan kesinisan. Katya sendiri maklum dengan sikap Sebastian. Dan dia masih bersikap ramah walau Sebastian bersikap sinis.
Tanpa paksaan Sebastian pun akhirnya luluh pada Katya. Siapa pula yang akan tahan bersikap sinis ketika tahu Katya adalah orang yang paling baik dan ramah.
Dimulailah kedekatan mereka berdua. Walau Sebastian masih menyangkal ketertarikannya. Sebastian sendiri saat itu masih bertunangan. Dan dirinya yang beragama Yahudi tahu Katya tidak akan mau bersama dirinya karena perbedaan agama.
Saya cukup menikmati segala hal yang ada di buku ini. Bisa dibilang alurnya lambat. Kedekatan antara Sebastian dan Katya terasa natural dan tidak terburu-buru. Lambat laun perasaan mereka berdua mulai tidak dapat dibohongi satu sama lain. Sampai akhirnya mereka berdua sadar bahwa saling peduli satu sama lain.
Yang mengganjal di hati adalah terlalu banyak konflik di akhir buku. Seakan-akan masih kurang cukup masalah masa lalu Katya yang belum selesai ditambah masa lalu Sebastian. Saya merasa bagian ini yang terlalu drama. Banyak sekali masalah yang dimunculkan yang pada akhirnya selesai begitu saja tanpa adanya penyelesaian yang berarti. Seakan-akan masalah yang muncul hanya pemanis dan biar cerita tambah rame.
Overall, tulisan penulis yang selalu saya sukai membuat saya menikmati membaca cerita Katya dan Sebastian. Dan menjadi permulaan bagi saya untuk penasaran membaca seri lainnya.

Minggu, 31 Juli 2016

[Review] Hijabers in Love

0


Judul : Hijabers in Love
Pengarang : Oka Aurora
Tahun Terbit : Cetakan I, Juli 2014
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 224 hal
Kategori : Romance, Young Adult, Religius
Harga : Rp. 45.000,-
ISBN : 978-602-03-0702-2
Rating : 4/5
Bisa dibaca secara gratis melalui aplikasi @iJakarta

            Jatuh hati itu nggak salah. Karena artinya kamu masih punya hati.
Annisa gadis remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Tapi ia jatuh cinta pada Ketua ROHIS sekolah, Ananda namanya. Annisa yang tomboi dan senang main basket tiba-tiba memutuskan berhijab dan ikut ROHIS demi Ananda.
Namun, Ananda seperti tak menyadari perhatian Annisa padanya. Pemuda itu malah bersikap lebih ramah pada Jelita, sahabat karib Annisa, gadis berhijab yang pendiam, lembut, dan senang membaca. Dalam bayangan Annisa, gadis salihah seperti Jelita-lah yang akan disukai oleh Ananda. Suatu hari, tanpa sengaja Annisa membaca puisi buatan Jelita dan mendapati bahwa diam-diam Jelita juga mencintai Ananda. Annisa pun dilema. Apakah ia harus menjaga persahabatannya dengan Jelita, atau mengungkapkan perasaannya kepada Ananda?
Cinta remaja. Cinta gadis berhijab. Cinta yang tak bisa berharap apa-apa.
“Kamu harus bisa menyatakan cintamu tanpa berharap apa-apa. Karena itulah yang dilakukan oleh Tuhan SETIAP saat.”

********

            Ah, sama sekali tidak saya sangka akan sangat menyukai novel ini.
            Saat ini sedang lumayan booming mengadaptasi film ke dalam bentuk tulisan. Walau biasanya sebaliknya. Tapi, penulis local sedang sangat menyukai adaptasi film ke novel. Salah satunya adalah buku ini. Genre novel ini sangat jelas terlihat dari kover bukunya, remaja. Kisah cinta masa putih abu-abu. Dan, sesuai judulnya juga novel ini adalah novel islami.
            Seperti yang sudah saya katakan karena novel islami, tentunya tidak ada percintaan ala remaja saat ini yaitu, pacaran. Walau novel ini memang masih bercerita tentang sekelumit remaja yang galau karena masalah cinta. Membaca novel ini juga mengingatkan saya akan masa-masa SMA. Mengingatkan tentang teman saya yang anak rohis. Saya bukan anggota rohis, tapi sedikit banyak tahu tentang rohis.
            Tokoh utama novel ini adalah Annisa. Murid baru yang jatuh cinta pada anak rohis. Demi dekat dengan sang pujaan hati, Annisa pun akhirnya masuk organisasi Rohis dan pakai jilbab. Annisa sangat menyukai Ananda. Sayangnya Ananda lebih dekat dengan sahabatnya yang lebih kalem. Kecemburuan membuat hubungan Annisa dengan sahabatnya retak.
            Klise banget sebenarnya. Kisah cinta segitiga. Bedanya yak arena ini novel islami itu. Perubahan Annisa kea rah yang lebih sangat terasa. Dari Annisa yang tomboy berubah ke Annisa yang kalem. Jujur, karena saya belum menonton filmnya saya belum bisa membandingkan. Karena di kover bukunya ada cewek yang duduk dengan tidak sopan. Yang pastinya itu Annisa. Tapi, di novel kelakuan Annisa tidak separah itu deh. Kover buku ini terlalu berlebihan.
            Dan, ada satu hal dalam novel ini yang membuat saya sebal. Adalah masalah memakai jilbab. Di sini diceritakan kegalauan Annisa yang ingin buka kerudung karena alasan dirinya memakai kerudung tidak dari hati. Melainkan ingin menarik perhatian Ananda. Yang membuat saya sebel adalah tidak adanya ketegasan dari orang-orang di sekitar Annisa. Apa susahnya sih bilang memakai kerudung itu wajib hukumnya? Sudah jelas kok larangan membuka aurat bagi perempuan. Sama jelasnya larangan memakan daging babi/meminum khamar. Lalu, dimana letak bukan pemaksaannya? Kalau bukan tuntunan agama buat apa dilakukan? Kalau nggak dipaksa emang bakalan mau pakai kerudung? Bagi saya pribadi mau dengan alasan terpaksa, dipaksa atau apa pun selama hal itu menuju tuntunan agama nggak masalah, deh. Saya sebel kalau ada yang bilang jangan dengan paksaan ketika menyuruh seseorang pakai kerudung. Lah, situ kalau pakai baju dines kerja nggak dipaksa si bos? Emang berani ngelanggar dengan resiko bakal dipecat? Nggak, kan? Makanya suka sebel kalau ada yang ribet ngomongin masalah jilbab ini. Nggak kepengin nutup aurat ya simple aja jangan beragama Islam.
            Terlepas dari luapan emosi saya tadi, novel ini sangat saya rekomendasikan. Khususnya bagi para ababil yang sering banget galau tentang masalah percintaan. Untuk saya juga sih sebenarnya. lol
            Selamat membaca dan dibuat kesengsem sama kegalauan Ananda.

Selasa, 17 Januari 2012

'Hafalan Shalat Delisa'

0

Delisa
Judul : Hafalan Shalat Delisa
Pengarang : Tere Liye
Tahun Terbit : Cetakan X, Agustus 2009
Penerbit : Republika
Kategori : Fiction, Religius
Harga : Rp. 46.000,-
Bisa dibeli di bukupediacom

Di salah satu rumah, di sudut kota Lhok Nga. Adzhan shubuh bergema membangunkan seluruh penghuni kota. Sebuah keluarga kecil dengan segala kesadarannya memulai aktivitas dipagi hari seperti biasanya. Keluarga kecil Abi Usman memulai shubuh ini dengan salat berjamaah.
Keluarga Abi Usman yang terdiri dari Abi Usman, Ummi Salamah, Alisa Fatimah, Alisa Zahra, Alisa Aisyah, dan si kecil bungsu Alisa Delisa. Rutinitas yang dimulai seperti hari-hari biasanya shalat shubuh berjamah walau tanpa Abi Usman yang memang baru pulang setelah bekerja di salah satu kapal tanker perusahaan minyak asing—perusahaan di Arun. Ummi, Fatimah, Zahra, Aisyah yang sedang mengaji dan Delisa yang sedang asik menghafal hafalan shalatnya yang belum juga ia kuasai. Hafalan shalat Delisa yang merubah hidup gadis yang masih tearmat kecil, yang baru saja genap berumur enam tahun. Bencana alam yang tak terelakkan merubah seisi kehidupan kota Lhok Nga.

Nyesek.....................
Lagi dan lagi, tiap baca novel yang dibuat Tere Liye. Sesiap apapun hati ini yang ada hanya tangis—walau tanpa air mata—yang tak pernah terelakkan. Walau aku ga pernah sekalipun menititikkan air mata disaat membaca karya-karya Tere Liye diawal novel selalu aja membuatku berkaca-kaca, sesedih dan sebahagia apapaun cerita di dalam novel yang terjadi. Sungguh memang tema yang diusung Tere Liye sederhana—kesederhanaan dalam hidup, yang dibuat seapik dan seindah mungkin oleh Tere Liye. Novel ke-3 yang aku baca, yang selalu membuatku ketagihan—candu—karya-karya Tere Liye yang lain. Novel ini bercerita tentang Delisa dengan keluarga kecilnya yang bahagia. Dikarunia orang tua yang begitu bikin iri, kakak-kakak yang selalu membimbing Delisa. Walau cerita hanya seputar hapalan shalat Delisa, bagaimana Delisa dengan polosnya berlatih dan berlatih demi shalat yang sempurna—atau demi sebuah kalung bagi Delisa. Delisa seperti anak seumurannya kehidupannya hanya seputar sekolah dan bermain bersama teman-temannya. Hidupnya seketika berubah ketika badai tsunami menghantam pulau Sumatera pada hari Ahad, 26 Desember 2004, tepat 7 tahun yang lalu dari hari ini. Yang terbesit pertama kali dipikiranku saat membaca novel ini tanggal 26 Desember 2004 aku lagi apa? Disaat saudaraku setanah air di ujung pulau Sumatera sedang berjuang melawan dahsyatnya takdir yang diberikan Yang Maha Kuasa, aku sedang melakukan hal yang sama seklai tidak penting.
Sungguh, membaca tiap lembar novel ini mampu membuatku berkaca-kaca, bahkan menulis resensi ini pun hanya dengan membayangkan bagaimana mengerikannya saat itu membuatku ingin menangis. Dari Delisa aku belajar banyak hal, kepolosan anak sekecil ini mampu membuat siapapun merasa kalau diri ini tidak ada artinya. Penggambaran yang begitu detail menggugah hati siapa pun yang membaca novel ini.
Sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang orang ketiga dengan alur maju yang berpusat pada Delisa. Novel yang begitu digemari seluruh penduduk Indonesia dengan terbuktinya cetak ulang dengan angka yang fantastis. Novel yang kubaca saat ini adalah edisi revisi yang walu menurutku masih banyak bagian-bagian yang harus direvisi—dengan adanya typo disana sini. Entahlah sehebat apa Tere Liye sampai bisa membuat novel-novel yang sangat indah yang selalu membuat jutaan fansnya menunggu-nunggu karya terbarunya. Di novel ini juga terdapat catatan kaki dari sang penulis—walau awalnya aku kurang paham dengan catatn kaki ini. Karena di akhir novel baru kusadari catatan kaki ini merujuk pada isi hati sang penulisa—begitu juga para pembaca. Novel ini memang hanya karya fiktif belaka sesuai penuturan sang penulis, yang hanya ditulis ketika penulis tersedu melihat berita tentang liputan anak-anak Aceh pasca bencana Tsunami. Khas penulis juga dengan ending yang selalu bikin nyesek sekaligus merasa puas setelah menamatkan novel ini.
Lagi dan lagi aku selalu ingin membaca karya-karya yang dihasilkan Tere Liye.
Untuk si manis Delisa aku beri nilai 5 :)

Hafalan Shalat Delisa The Movie
Merujuk pada novel Delisa yang sukses, akhirnya novel ini diangkat menjadi layar lebar yang sudah meredar di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia. Walau sangat disayangkan aku sendiri belum menontonnya :( Jadi aku belum bisa membandingkan antara versi novel dan layar lebarnya.
Berikut sinopsis dan cuplikan dari film Hapalan Shalat Delisa :) yang diambil dari situs 21cineplex
Delisa (Chantiq Schagerl) gadis kecil kebanyakan yang periang, tinggal di Lhok Nga desa kecil di pantai Aceh, mempunyai hidup yang indah. Sebagai anak bungsu dari keluarga Abi Usman (Reza Rahadian), Ayahnya bertugas di sebuah kapal tanker perusahaan minyak Internasional. Delisa sangat dekat dengan ibunya yang dia panggil Ummi (Nirina Zubir), serta ketiga kakaknya yaitu Fatimah (Ghina Salsabila), dan si kembar Aisyah (Reska Tania Apriadi) dan Zahra (Riska Tania Apriadi)
26 Desember 2004, Delisa bersama Ummi sedang bersiap menuju ujian praktek shalat ketika tiba-tiba terjadi gempa. Gempa yang cukup membuat ibu dan kakak-kakak Delisa ketakutan. Tiba-tiba tsunami menghantam, menggulung desa kecil mereka, menggulung sekolah mereka, dan menggulung tubuh kecil Delisa serta ratusan ribu lainnya di Aceh serta berbagai pelosok pantai di Asia Tenggara
Delisa berhasil diselamatkan Prajurit Smith, setelah berhari-hari pingsan di cadas bukit. Sayangnya luka parah membuat kaki kanan Delisa harus diamputasi. Penderitaan Delisa menarik iba banyak orang. Prajurit Smith sempat ingin mengadopsi Delisa bila dia sebatang kara, tapi Abi Usman berhasil menemukan Delisa. Delisa bahagia berkumpul lagi dengan ayahnya, walaupun sedih mendengar kabar ketiga kakaknya telah pergi ke surga, dan Ummi belum ketahuan ada di mana
Delisa bangkit, di tengah rasa sedih akibat kehilangan, di tengah rasa putus asa yang mendera Abi Usman dan juga orang-orang Aceh lainnya, Delisa telah menjadi malaikat kecil yang membagikan tawa di setiap kehadirannya. Walaupun terasa berat, Delisa telah mengajarkan bagaimana kesedihan bisa menjadi kekuatan untuk tetap bertahan. Walau air mata rasanya tak ingin berhenti mengalir, tapi Delisa mencoba memahami apa itu ikhlas, mengerjakan sesuatu tanpa mengharap balasan. "Delisa cinta Ummi karena Allah" Mulai tayang 22 Desember 2011.
Beberapa gambar dari movie Delisa :)
Hafalan-sholat-delisa137412_film-hafalan-shalat-delisa_300_225Safe_image137413_film-hafalan-shalat-delisaPara-pemain-film-hafalan-shalat-delisa

Ada versi cover lain nya dari novel ini, diantaranya adalah
Hafalan-shalat-delisa1376220

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com