Senin, 27 Mei 2019

[Review] Chemistrick

0




Judul : Chemistrick
Penulis : Indah Hanaco
Tahun Terbit : 2019
Bisa dibaca secara gratis di Storial.co



Membaca cerita yang dibuat oleh penulis favorit memang tidak usah diragukan lagi. Rasanya sangat menyenangkan. Tidak ada keluhan selama membaca, lancar sekali tiap membaca kalimat demi kalimat. Niat hati hanya ingin mencicipi beberapa bab, eh malah keterusan baca sampai bab terbaru.
Jika ada penulis yang terlalu nyaman memakai profesi yang sama untuk para tokoh karyanya, Indah Hanaco termasuk penulis yang gemar sekali mengeksplor macam-macam profesi pada setiap tokoh di cerita-cerita yang dibuatnya. Bukan dalam konotasi negatif, tapi ini sangat bagus karena selain menambah pengetahuan pembaca bahwa ada banyak sekali jenis pekerjaan di dunia ini, menghindari kebosanan yang paling utama.
Seperti tokoh utama dalam cerita Chemistrick ini memiliki pekerjaan yang lumayan unik. Robin sendiri mengambil jurusan ilmu forensik ketika kuliah tapi malah berakhir menjadi perancang cincin. Banting setir yang lumayan tajam, menurutku. Sempat membuat rasa penasaran ini muncul, ada masa lalu apa di balik perubahan jalur profesi Robin ini.
Profesi tokoh utama wanitanya malah tak kalah nyentrik, seorang penipu. Yah, bukan seperti penipu dalam film-film yang merampas uang. Tapi Vivian punya pekerjaan sebagai “pengganti” artis. Tugas Vivian sederhana, hanya menghadiri acara-acara yang kebetulan sang artis tidak bisa menghadiri. Cocok bukan kalau Vivian disebut penipu?
Profesi ini juga yang mempertemukan Robin dan Vivian. Yah, walau setelah pertemuan dramatis itu Vivian dipaksa mengundurkan diri dari pekerjaannya.

“Barry menatap putrinya dengan kecemasan yang begitu kentara, “Papa nggak suka kalau kamu benci sama Mama.” “Aku nggak benci, Pa,” bantah Vivian buru-buru. “Tapi Papa tau sendiri hubungan kami kayak apa aku nggak bisa bermanja-manja sama Mama. Dulu, Mama yang bikin jarak, kan? Kalau sekarang mau diperbaiki, rasanya udah telat banget. Aku udah terbiasa ditolak. Kalau dekat Mama, ada rasa cemas Mama akan menolak dan marah-marah nggak keruan lagi.” (Vivian – Bab 10)

Sejauh ini cerita yang saya baca masih perkenalan para tokoh utamanya. Flashback masa lalu kedua tokoh utamanya yang suram membuat saya simpatik kepada mereka berdua. Entah kenapa sejak awal saya merasa tertarik sekali dengan kisah masa lalu Robin dan Vivian. Padahal biasanya saya lebih suka cerita manis kisah cinta para tokoh utamanya. Hampir selama membaca 26 bab sejauh ini masih berkutat dengan flashback masa lalu Vivian dan Robin. Jujur, seharusnya bagian flashback ini membosankan. Karena biasanya alur cepat lebih kusukai, tapi masa lalu mereka berdua itu sungguh menarik dan membuat saya penasaran. Malahan, fokus saya beralih pada masa lalu mereka.

“Robin bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Dia tidak pernnah bersikap sok pahlawan untuk membela seorang cewek yang sedang adu mulut dengan pacarnya. Namun dia paling tidak tahan jika ada laki-laki yang bersikap keterlaluan dan cenderung kurang ajar. Robin sudah pernah melihat pertengkaran yang awalnya tampak sepele malah berakhir dengan peristiwa fatal. Dia tidak mau lagi dihantui rasa penyesalan karena tidak mau melakukan apa-apa.” (Robin – Bab 3)

Banyak sekali isu yang diangkat dalam cerita ini. Salah satunya kekerasan yang terjadi pada pasangan. Pasangan yang suka memukul orang yang dicintainya? Hal itu terasa gila dan nggak masuk akal. Tapi, memang hal itu sering terjadi. Sang korban bukannya meminta pertolongan malah merasa bersalah, karena rasa cintanya pada pasangannya, menyebabkan pasangannya bersikap temperamental.
Saya merasa, kisah mereka berdua ini masih akan lama menuju kata akhir. Karena cerita masih berkutat pada masa lalu mereka berdua. Saya sendiri sudah deg-degan sekali menunggu apa hubungan masa lalu Robin dan Vivian. Ada rahasia besar apa yang nantinya menunggu masa depan mereka berdua. Harapan saya tentu saja akhir yang bahagia untuk mereka berdua.

Rombongan pendakian Robin cs (Pic from Google)
Selama menanti  konflik besar apa yang nantinya akan mereka lalui, saya suka sekali selingan perjalanan mendaki Annapura Base Camp di Nepal. Robin dan Vivian dipertemukan kembali oleh penulis ketika mereka sama-sama berlibur ke Nepal. Saya bukan tipe orang yang gemar olahraga, apa lagi mendaki. Pengalaman mereka berdua membuat saya tahu bagaimana rasanya mendaki gunung. Yang jelas sih pasti capek banget perjalanan mereka berdua. Hanya saja ketika mereka mengagumi betapa indahnya pemandangan yang mereka lalui selama pendakian, mau tidak mau membuat saya juga penasaran keindahan alam Nepal.
Seperti yang sudah saya singgung di awal, cerita mereka berdua masih jauh dari kata selesai. Saya sempat membaca postingan penulis bahwa cerita ini ditulis ketika penulis merasa kebuntuan ingin menulis apa. Wah ini sih berasa pamer banget, tulisan waktu buntu saja sebagus ini, apa lagi ketika dewa inspirasi sedang berbaik hati pada beliau. Semoga saja penulis tidak kehabisan ide dalam setiap pembuatan ceritnya, dan semoga berhasil menang lomba tulisan di storial ini! Good luck!
 

Senin, 20 Mei 2019

[Review] Just You and Me

0


Judul : Just You And Me
Penulis : Titi Sanaria
Tahun Terbit : 2019
Bisa dibaca gratis via Storial.co



Sejak pertama kali berkenalan dengan tulisan Titi Sanaria, saya langsung memutuskan untuk menjadi salah satu fans beratnya. Bagaimana tidak, begitu menamatkan novel penulis saya seakan kehausan akan karya-karya lain beliau. Dan, sampai saat ini sudah ada sekitar 8 karya yang sudah saya baca, baik karya yang sudah diterbitkan maupun yang bisa dibaca gratis di akun penulis.
Sejujurnya saya jarang membuat ulasan dari buku yang belum tamat saya baca, terasa arogan sekali apa lagi cerita Keyra ini baru 13 bab! Perjalanan yang masih sangat jauh! Tapi, demi mendapat THR apa pun mau kulakukan! Hehe
Masih khas penulis dengan tokoh utama wanitanya yang tangguh, demi harga dirinya Keyra memilih keluar dari segala kemewahan yang diberikan oleh ayahnya. Ya, Keyra kabur dari rumah karena berseteru dengan ibu tirinya. Sudah tentu hidup Keyra tidak sama lagi karena harus mandiri. Dan, selamat datang kemiskinan.

“Aneh bagaimana rasa kecewa dan sakit hati bisa menyulut keberanian, karena biasanya aku tidak pernah meninggalkan rumah tanpa dompet dan tumpukan kartu di dalamnya. Seumur hidup, baru kali aku benar-benar menghargai nilai uang. Setelah mengetahui bahwa mencari uang sendiri ternyata tidak mudah.” (Key – Bab 6)

Keyra berusaha tegar dan memilih pergi jauh ke Jakarta dan tinggal bersama sahabatnya. Tinggal lebih lama di Surabaya sangat beresiko tertangkap radar ayahnya. Hidup di Jakarta tidak mengubah sedikitpun nasib Keyra. Pasalnya sahabat Keyra sedang dikejar-kejar penagih utang!
Urusan Keyra semakin ruyam ketika dirinya disangka sebagai penari striptis oleh pria sombong yang baru dikenalnya. Sayangnya pertemuan Keyra dengan pria sombong itu harus terus berlanjut karena sepertinya takdir mengejek Keyra dengan menjadikan pria itu sebagai penolong Keyra dari jerat utang sahabatnya.

“Harga diri macam apa yang dimiliki perempuan yang pekerjaannya melepas satu demi satu pakaiannya di depan banyak laki-laki yang menyorakinya?” (Ian – Bab 2)

Salah satu alasan saya menyukai tulisan penulis adalah cara bercerita yang tidak membosankan dan karakter lucu pada setiap tulisannya.
Baca tiap bab cerita Keyra itu rasanya bentar banget karena saking asyiknya, tiba-tiba kok sudah selesai saja. Karena sepertinya sudah keahlian penulis yang suka bikin pembaca greget ketika membaca tiap akhir bab. Alhasil, sekarang saya sangat penasaran ingin cepat-cepat membaca bab lanjutannya!
Saya suka alur cepat yang dipakai penulis. Semua terjadi begitu cepat dan tidak bertele-tele. Pertemuan ajaib Keyra dengan Ian pun sangat menarik mengingat kesalahpahaman Ian. 
Dan sama seperti Keyra di awal saya rasanya benci banget sama sikap songong Ian, bisa-bisanya ada pria senyinyir Ian.
Tapi ajaibnya semakin banyak bab yang kubaca kok ya tiba-tiba kujadi jatuh cinta sama Ian. Kekeliruan Ian tentang pekerjaan Keyra membuat saya merasa lucu dengan segala kekonyolan Ian.
Ego Ian ini sepertinya terlalu besar karena sulit menerima wanita secantik Keyra bisa-bisanya punya pekerjaan seperti itu. Taruhan bab ke depannya bakal semakin konyol dengan segala penyangkalan Ian. Lelaki, dengan segala egonya!
Ini masih baru bagi saya ketika penulis memutuskan mengambil 2 sudut pandang. Dan, walaupun saya juga menyukai Keyra entah kenapa saya lebih menyukai sudut pandang Ian. Ian lebih ekspresis daripada Keyra. Yah, mengingat Keyra dalam masa sulit hidupnya. Rasanya nelangsa banget hidup Keyra ini yang bacanya pun jadi ikutan sedih. Pemakaian sudat pandang Ian ini sangat menyegarkan, mengingat saya pun suka penasaran dengan segala pikiran tokoh pria dari novel yang kubaca.
Lagi-lagi karena cerita ini belum tamat, saya belum bisa mengatakan apa-apa. Tapi tentunya masih sangat menantikan kegalauan Ian yang akan memulai babak penyangkalannya.
Ada beberapa hal dalam novel ini yang agak mengganggu buatku. Biasanya saya tidak pernah peduli profesi tokoh novel dari yang kubaca. Tapi, untuk kali ini izinkan saya mengeluh. Saya bosan dengan profesi dokter yang dipilih penulis. Sudah lebih dari 4, dengan cerita ini, lagi-lagi tokoh utamanya dokter. Please, seperti nggak ada profesi lain, gitu. Kemungkinan penulis terlalu nyaman dengan kondisi ini. Tapi saya menginginkan penulis lebih berani untuk mengangkat profesi-profesi lain di karya selanjutnya.
Berikutnya adalah typo. Ya, mungkin komentar ini agak basi. Cuman selama mengikuti cerita penulis yang dibaca gratisan, sering banget deh saya menemukan typo. Salah ketik sedikit mungkin tidak apa-apa, terkadang yang bikin bingung itu kalau posisi katanya tertukar. Membuat saya nggak nyaman karena harus membaca ulang, dan menerka-nerka apa sebenarnya maksud penulis.
But, overall saya sangat menikmati cerita Ian dan keyra ini. Sifat Ian yang agak kekanak-kanakan ini memang sangat menyegarkan dan membuat saya betah baca bagian cerita ini. Saya salut dengan kaver cerita ini yang asli bagus banget. Pihak Storial dan penulis niat banget memberikan kenyamanan untuk pembaca dengan memberikan kaver yang enak dipandang! Salut!
Bagi yang belum membaca cerita ini jangan ragu untuk mulai membaca. Mumpung masih bisa dibaca gratis, gitu. Tapi benaran ceritanya bagus banget jangan sampai terlewatkan.





Jumat, 05 April 2019

[Review] Sweetly Broken

0




Sweetly Broken
Dadan Erlangga
Penerbit GPU
Tahun 2018
256 halaman
Via iPusnas


"Nggak ada cara yang lebih baik dari merelakan sesuatu yang bukan lagi milikku. Dan nggak ada cara yang lebih buruk dari meratapi sesuatu yang nggak lagi kamu miliki." ( Dias - p.157)

Sweetly Broken adalah novel pertama penulis yang saya baca. Karena pernah membaca beberapa review bagus, saya lumayan semangat dan berekspektasi ketika mempunyai niat membaca novel ini.
Sayangnya tidak berakhir baik. Saya kurang cocok dengan gaya bahasa penulis. Saya hanya bisa bilang bahwa meskipun ini adalah novel metropop tapi yang saya rasakan seperti membaca novel teenlit.
Novel ini memakai pov Lara. Digambarkan sebagai gadis yang tidak mudah jatuh cinta karena pernah mengalami patah hati. Walaupun bukan masalah bagi Lara menjalani hubungan dengan pria. Lara tidak peduli berada di pelukan pria manapun, selama dia tidak sendirian. Mungkin Lara kesepian, mendambakan pria yang tulus mencintainya.
Perkenalan awal Lara dengan Dias tidak dengan cara biasa. Kebencian lebih dominan dirasa Lara karena Dias memberi komentar buruk tentang WO miliknya. Tapi setelah mereka benar-benar bertemu, Lara tidak bisa membohongi ketertarikannya pada Dias. Begitu juga sebaliknya. Sudah bisa dipastikan mereka berdua memulai kencan. Hingga akhirnya masa lalu Lara datang, penyebab Lara patah hati dan tidak percaya cinta.
Kekanak-kanakan. Itulah sifat Lara. Yang membuat lelah membaca segala omong kosong Lara. Awal perseteruan Lara dan Dias lumayan membangkitkan semangat saya mengikuti cerita Lara dan Dias. Tapi, begitu ketertarikan fisik begitu dominan. Hancur sudah momen magis itu. 
Ditambah lagi momen-momen kencan mereka yang terasa palsu dan kemunculan sang masa lalu. Semakin terlihat segala keegoisan Lara.
Karena saya lumayan bersabar, dan membaca sampai akhir, twist yang diberikan penulis cukup menyelamatkan seluruh cerita yang ada. Walau sayangnya terlalu lamu dimunculkan. Tetap membuat saya sedikit memahami segala sifat Lara yang menyebalkan. 
Bukan novel kesukaan tapi tetap merekomendasikan novel ini untuk dibaca. Happy reading.


Minggu, 29 Juli 2018

[Review] Kau, Aku, dab Sepucuk Angpau Merah

0



Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang : Tere Liye
Tahun Terbit : April 2018
Tebel : 512 Halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Kategori : Fiction, Romance
Harga : Rp. 97.000,-


Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.
Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.

Review :

Pagi ini, aku akhirnya memutuskan, aku akan memulai kehidupan sebagai: pengemudi sepit!—setelah gonta-ganti pekerjaan selama dua tahun terakhir ini. Sungguh, meski melanggar wasiat Bapak yang mengatakan padaku: ‘Borno, jangan pernah jadi pengemudi sepit’, aku berjanji akan jadi orang baik, setidaknya aku tidak akan mencuri, tidak akan berbohong, dan senantiasa bekerja keras—meski akhirnya hanya menjadi pengemudi sepit.
Aku menikmati pekerjaan baruku. Aku belajar mesin dan mengemudi sepit terlebih dahulu dengan Pak Tua—tetangga yang kuanggap ayah sendiri. Tetapi ternyata tidak segampang itu. Bang Togar dengan seenaknya malah menyuruhku untuk membersihkan jamban di dermaga sepit. Oke, ini ospek, masa orientasi, dan karena dia juga ketua PPSKT (Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta).
Seminggu aku belajar mengemudi sepit hari kelulusanku tiba, akhirnya aku bisa mengemudi sepit secara langsung. Tanpa disangka dan diduga ada seorang gadis berbaju kurung kuning, rambut tergerai panjang, berwajah sendu menawan perawakan Cina yang menumpang dihari pertama aku menarik sepit, alamak perasaan apa ini? Selama dua puluh tahun lebih aku belum pernah jatuh cinta jadi aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Gadis itu, gadis berwajah sendu menawan itu mengubah hidupku yang biasa-biasa ini.
Dan di hari itu juga ada barang penumpang yang tertinggal di sepitku, sepucuk surat. Surat bersampul merah, dilem rapi, dan tanpa nama.

*****

Sederhana dan ringan .......
Selalu dan selalu novel karya Tere Liye—yang selama ini sudah kubaca—bertema sederhana. Cerita buku ini hanya seputar kehidupan kecil Borno, lika-liku kehidupan Borno dari kecil sampai beranjak dewasa. Kehidupan biasa dan membosankan Borno, yang ajaibnya diramu sedemikian rupa menjadi sebuah kisah menakjubkan dan penuh makna.
Tere Liye adalah salah satu penulis mega-bestseller yang ada di Indonesia. Setiap buku yang ditulisnya selalu dicetak ulang berkali-kali. Berganti kaver buku berkali-kali. Dan selalu laris manis. Novel ini juga salah satunya. Sudah berganti kaver ke-3 kalinya. 
Seperti yang sudah aku katakan di awal, tema novel yang dibuat oleh penulis cerita-cerita sederhana yang biasa kita temui sehari-hari. Kepandaian penulis dalam memainkan emosi pembaca yang membuat tulisan Tere Liye disukai para pembaca. Baik pembaca muda maupun dewasa.
Ketika aku membaca novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah ini, aku dibuat banyak tertawa dengan tingkah Borno cs dari awal sampai akhir. Well, sebenarnya bisa dibilang paket komplit, ada perasaan kesal, kecewa, jengkel, sedih, penasaran, lucu dan tidak bisa berhenti tertawa ketika membaca lembar demi lembar yang kubaca.
Adalah Borno yang menjadi tokoh sentral buku ini. Sedari kecil, Borno sudah hidup sendiri. Ayahnya yang seorang nelayan meningal karena jatuh tersengat ubur-ubur. Dan Ayah Borno lebih memilih untuk mendonorkan jantungnya. Borno kecil yang belum banyak mengerti hanya bisa menangis dan berteriak ‘Bapak belum mati! Kenapa dadanya dibelah! Dia bisa sadar kapan saja’ yang nantinya kematian Bapak Borno ini mengubah segalanya bagi sebagian tokoh yang ada di novel ini. 
Membaca novel ini sungguh menyenangkan. Ada beberapa hal yang membuatku tidak bisa berhenti tertawa. Kisah Borno yang setelah lulus SMA bergonta-ganti pekerjaan diceritakan begitu lucu dan malah membuat pembacanya tertawa lepas. Padahal sangat tidak sopan ketika seseorang sedang sungguh-sungguh mencari pekerjaan tetapi malah ditertawakan—tentu saja.
Setelah insiden bekerja di kapal feri yang menghebohkan akhirnya Borno menetapkan hati untuk memilih bekerja sebagai pengemudi sepit. Berbicara tentang sepit, aku pribadi tidak terlalu tahu bagaimana sih sebenarnya perahu sepit itu. Hanya tahu sebagai transportasi untuk menyeberangi Sungai Kapuas. Dan karena membaca novel inilah membuatku ingin berkunjung ke kota Pontianak, merasakan indahnya sungai Kapuas dan bagaimana rasanya meletakkan uang di dasar perahu—aturan main penumpang sepit. Dan bonusnya diantar abang pengemudi ganteng nan gagah macam Bang Borno. lol
Sang penulis tanpa perlu ditanya sangat pandai menggambarkan bagaimana keadaan kota Pontianak—termasuk kisah hantu Ponti asal muasal nama Pontianak. Dan dari novel ini pula aku baru tahu bahwa para keturunan Cina mempunyai dua nama. Nama kampung halaman dan nama Nasional, ternyata orang Cina dalam urusan nama serumit ini.
Kisah Borno dimulai ketika konflik dimunculkan oleh penulis. Borno menemukan sepucuk angpau merah, sesuai judul buku ini. Borno selalu bilang bahwa angpau merah ini milik seorang gadis yang dijulukinya ‘Sang Sendu Menawan’. Pencarian pemilik angpau merah pun dimulai. Dengan dibantu Andi—sahabat Borno—yang ikut penasaran karena baru kali ini melihat Borno begitu penasaran pada seorang gadis. Ledekan demi ledekan pun didapatkan oleh Borno. Walau tentu saja pencarian Borno tidaklah berakhir dengan kekecewaan. Karena Borno mulai mengenal gadis pemilik angpau merah itu. Dan merasakan perasaan jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Borno digambarkan sebagai pemuda polos. Ketika pertama kali jatuh cinta Borno begitu tegang dan tidak tahu harus melakukan apa. Borno ini sangat polos, proses pendekatan dengan Mei membuat pembaca gemas sendiri. Karena belum apa-apa Borno sudah kebingungan mencari alasan untuk mengajak kencan Mei.
Memang tidak hanya hal yang indah yang dirasakan oleh Borno, terkadang hal-hal yang sedih pun ada. Kita diajak untuk mengikuti perjalanan cinta pertama dan cinta pada pandangan pertama Borno. 
Novel ini menggunakan sudut pandang Borno dan alur maju-mundur. Tokoh yang paling aku sukai adalah Pak Tua, salah satu rekan Borno. Pak Tua pernah mengatakan pada Borno bahwa cinta adalah perbuatan. Kisah Pak Tua tentang sahabatnya yang menjadi pasangan buta yang hidup selama berpuluh-puluh tahun sangat menyentuh dan membuat mataku berkaca-kaca ketika membacanya. Secara kesulurahan sudah pasti novel ini sangat bagus dan layak dibaca oleh siapa pun. Banyak sekali pesan-pesan moral yang disampaikan Tere Liye dalam novel ini, petuah-petuah Pak Tua yang bisa digunakan sebagai pedoman hidup. Entah kenapa tokoh dalam novel ini yang kusukai setelah Borno adalah Andi. Melihat Andi seperti melihat diriku sendiri yang sama-sama suka penasaran.
Dari Andi juga aku jadi mengingat orang-orang terdekatku gara-gara insiden 'kebohongan si sendu menawan' dan 'pembalasan dendam Borno'. Seperti Pak Tua bilang bahwa Borno yang patah hati karena Mei mengingatkan bahwa 'Banyak sekali orang yang jatuh cinta lantas sibuk dengan dunia barunya itu. Sibuk sekali, sampai lupa keluarga sendiri, teman sendiri. Padahal siapalah orang yang tiba-tiba mengisi hidup kita itu? Kebanyakan orang asing, orang baru. Kau lupa Borno. Kalau hati kau sedang banyak pikiran, gelisah, kau selalu punya teman dekat. Mereka bisa menjadi penghiburan, bukan sebaliknya tambah kau abaikan.' Aduh~~~ Kata-kata Pak Tua ini memang dalem banget. Memang kebanyakan dari kita sibuk dengan perasaan diri kita sendiri, merasa yang paling menderita, merasa paling nelangsa dan teman-temannya. Padahal ada orang-orang terdekat kita yang lebih peduli melebihi diri kita sendiri. Novel ini benar-benar mengajarkan hal-hal yang sangat kecil dan mungkin dirasa sepele oleh kita dan setelah membaca novel ini kita baru sadar bahwa sesungguhnya semua hal di dunia ini memang mempunyai porsi sendiri yang tidak kalah pentingnya. Lagi dan lagi dibuat salut sama penulis yang satu ini. Insiden 'pembalasan dendam Borno' pun tak kalah pentingnya bahwa memang yang namanya balas dendam tidak pernah menguntungkan baik untuk kita sendiri maupun orang lain.
Hebatnya lagi dari awal sampai akhir aku dibuat penasaran sekali dengan nasib surat aka angpau merah yang ditemukan Borno di sepitnya. Kita sebagai pembaca dibuat terlena oleh Tere Liye dengan cerita manis dan patah hati perjuangan Borno mendapatkan Mei. Aku pun begitu, sempat melupakan insiden angpau merah itu. Dan, ketika mencapai bagian akhir barulah hati ini merasa plong ketika diungkapkannya rahasia di balik angpau merah yang ditemukan oleh Borno.
Novel ini diperuntukkan untuk semua yang ingin tahu bagaimana indahnya cinta pertama dan cinta pada pandangan pertama, untuk semua kalangan wajib sekali membaca novel ini. Baik yang sudah pernah membaca maupun belum tulisan Tere Liye, kisah sederhana Tere Liye tentang pemuda Kapuas :)
Untuk Borno yang bikin aku pengin naik sepit aku kasih nilai 5 :)

Minggu, 10 Juni 2018

[Review] Claires

0



Judul : Claires
Penulis : Valerie Patkar
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tebal : 380 halaman
Terbit : Cetakan pertama, Maret 2018
ISBN : 9786024553661


Blurb
Claire tidak pernah tahu bahwa pertemuan singkatnya dengan sosok pria tampan yang tinggi semampai dengan kulit putih pucat itu akan berujung pada perang perasaan dengan hatinya sendiri. Ya, Ares Nota. Dia tidak akan pernah berhenti mengekori seorang Claire Paveitria. Awalnya, si kasanova hanya berniat untuk bermain-main dengan Claire. Lucu juga isengin cewek orang, pikirnya.
Tahu betapa sempurnanya hubungan yang dimiliki Claire dan kekasihnya Kai semakin membuat Ares gatal untuk menguji sesempurna apa hubungan yang mereka punya. Seperti menyiram minyak tanah pada api yang menyala, Ares seakan membuat api itu berkobar. Ares jatuh pada permainannya sendiri.

Review

Claire dan Kai. Dua muda-mudi yang sudah menjalin kasih selama 4 tahun. Bali menjadi saksi cinta mereka berdua. Orang-orang di sekelilingnya selalu merasa bahwa mereka adalah pasangan sempurna. Yang saling memiliki dan membuat iri siapa pun yang melihat kebahagiaan mereka. Tapi apakah mereka berdua pasangan yang memang saling ditakdirkan? Claire mulai mempertanyakan hal itu ketika bertemu Ares. Selama ini Claire selalu berusaha pengertian. Walau ada kalanya rasa sepi menghantuinya. Kalau boleh jujura Claire lebih memilih Kai selalu ada di dekatnya. Tetapi Claire tahu, Kai pergi bukan tanpa alasan. Demi impian Kai menjadi pembalap. Tak apa dirinya menunggu. Namun, sepertinya kehadiran Ares mampu melenyapkan segala sepi yang ditinggalkan Kai pada Claire.

******

Dari apa yang sudah sedikit saya ceritakan di atas sudah sangat jelas cerita ini mengarah ke mana. Claire selingkuh. Dengan Ares. 
Pilihan tema bacaan yang tidak mudah disukai pembaca menurutku. Saya sendiri paling kurang suka model cerita seperti ini. Walau saat ini saya sedang jomblo, ehm, tapi saya tipe yang setia. Makanya ketika di hadapkan tokoh seperti Claire, saya agak tidak menyukainya.
Claire digambarkan sebagai gadis cantik yang mempunyai watak sopan dan berperilaku baik. Tipe gadis rumahan kesukaan semua orang. Selama 4 tahun kebersamaannya dengan Kai hubungan mereka sempurna. Tidak pernah saling adu argumen, selalu saling pengertian, dan menjadi pasangan sempurna yang dielu-elukan oleh sekitarnya.
Kai digambarkan sebagai lelaki penyayang. Kai sangat mencintai Claire. Dan merasa bahagia Claire memilih dirinya. Pasalnya selama ini hanya Claire yang mendukung impiannya. Setelah pergi karena tidak mendapat restu orangtuanya untuk menjadi pembalap, Kai bertemu Claire. Pertemuan mereka berlanjut hingga menjadi pasangan kekasih. Kai meminta Claire bersabar dan menunggunya. Impiannya sebagai pembalap tinggal selangkah lagi.
Ares, seusai namanya Ares memiliki pribadi yang kuat. Pemaksa dan selalu mendapat semua hal yang diinginkannya. Sudah sangat jelas ketika dirinya tertarik pada Claire, walau tahu Claire sudah punya kekasih tidak ada kata menyerah bagi Ares.
Selama membaca hubungan mereka bertiga ini saya merasa terbuai oleh tulisan penulis. Jujur saja saya awalnya merasa biasa saja. Dan hampir mengatakan cerita Claire begitu membosankan. Tapi entah kenapa setiap kata yang saya baca semakin membuat terhanyut dan malah membuat saya ketagihan.
Padahal jelas-jelas bukan favorit saya cerita tentang perselingkuhan. Ares yang begitu ngotot mendekati Claire dan tidak ada tanda untuk berhenti dan tiba-tiba Claire terbuai pesona Ares. Bukan jenis hubungan yang akan saya dukung 100%. Jelas saya kecewa pada Claire. Serapuh itukah dirinya hingga Ares bisa menyusup dalam hatinya? Apa setidakberartinya 4 tahun kebersamaannya dengan Kai?
Bisa dibilang saya pun terbuai dengan pesona Ares. Mungkin hal ini juga yang bikin saya semakin kecewa, pada diri sendiri tentunya. Apa hati saya juga serapuh Claire? Yang begitu gampangnya jatuh cinta? 
Penulis memang sangat piawai merangkai kalimat indah ketika menceritakan tentang Claire dan Ares. Saya sangat menikmati halaman demi halaman ketika Ares pertama kali bertemu Claire. Ketika Ares dengan gigih menemui Claire walau penolakan demi penolakan selalu didapat. Hingga akhirnya Claire luluh dan saya malah menganggap betapa manis dan romantis kebersamaan mereka. Gila memang. Hubungan mereka terlarang. Tapi kenapa begitu terasa indah dan benar?
Karena digambarkan sebagai gadis baik, tentunya ada konflik batin yang terjadi pada Claire. Selama 4 tahun bersama Kai, Claire merasa sempurna. Punya pacar baik, ganteng, pengertian dan tidak pemaksa. Claire merasa menemukan rumahnya. Selama ini Claire bahagia bersama Kai. Walau tentu saja yang namanya rasa sepi pasti ada ketika Kai harus pergi. Claire menjalani peran kekasih pengertian yang rela ditinggal oleh sang kekasih. Karena Claire tahu kalau bukan dirinya siapa lagi yang akan mendukung impian Kai. Claire rela dirinya merasa kesepian demi kebahagiaan Kai. Karena seperti yang kebanyakan orang bilang 'Bila orang yang kita sayangi bahagia, kita juga akan merasa bahagia.' Tapi, apakah memang benar seperti itu?
Selama ini Claire juga memiliki kepribadian yang tertutup. Bertemu dengan Ares yang sangat berbeda dengan Kai membuat Claire merasa menjadi pribadi baru. Claire menemukan sifat-sifat dirinya yang selama ini tidak bisa dia tunjukkan pada Kai. Bersama Ares, Claire menjadi pribadi yang lebih terbuka.
Yang aku suka dari novel ini adalah novel ini sangat realistis. Tindakan Claire memang bukan tindakan terpuji. Hati yang kesepian. Siapa di dunia ini yang akan memilih hidup dengan sepi. Kendala hubungan jarak jauh yang dirasa memang itu kan, tidak pernah bisa saling bersama. Keterbatasan jarak. Yang mau tidak mau membuat rasa sepi datang karena tidak pernah bisa bersama kapan pun yang diinginkan.
Ketika muncul lelaki pemaksa di hidup Claire dan bisa mengisi hari-hari sepinya, hati siapa yang tidak akan luluh. Ares yang setiap hari bersamanya, Ares yang mempunyai kepribadian yang sangat bertolak belakang dengan Kai, Ares yang selalu mampu memberikan kejutan-kejutan manis di hari Claire, Ares yang membuat Claire berani menyuarakan keinginan yang selama ini tidak berani dirinya ungkapkan. Bersama Ares, Claire seperti menemukan dirinya yang sebenarnya. Ares mengubah Claire. Lalu salahkah Claire ketika muncul rasa yang lain ketika selalu bersama dan merasa bahagia ketika ada di dekat Ares?
Saya sangat menyukai kaver novel ini. Sangat manis. Dan sangat menggambarkan Claire. Walau awalnya sempat bertanya-tanya mengapa rambut Claire sangat pendek ketika sepanjang halaman yang saya baca Ares begitu menyukai rambut panjang Claire. Sangat tidak sinkron menurutku. Dan ternyata menjelang akhir saya baru tahu ketika itu semua tindakan Claire karena rasa bersalahnya pada Kai.
Saya menyukai eksekusi akhir yang dipilih penulis. Keputusan yang diambil Claire sangat realistis. Setelah melakukan hal buruk pada Kai tentunya sudah sewajarnya Claire merasa bersalah. Kegalauan Claire ini sempat membuat saya deg-degan pada keputusan siapa yang pada akhirnya dipilih oleh Claire dan berdoa semoga Claire memang berakhir bersama 'dia'.
Terlepas dari tema perselingkuhan yang diangkat penulis, saya belajar banyak dari hubungan Kai-Ares-Claire. Dari Ares saya belajar bahwa kita boleh bersikap egois demi kebahagian diri kita sendiri tidak melulu mempertimbangkan kebahagiaan orang lain. Kebanyakan orang-orang seperti itu kan berada pada pilihan sulit ketika membuat orang lain bahagia tetapi diri ini menderita. Dari Kai saya belajar bahwa jangan pernah menyerah menggapai impian kita, karena percayalah, akan ada seseorang yang sungguh-sungguh mendukung impian kita. Dan dari Kai juga lah saya belajar bahwa jangan terlalu ambisius dalam mengejar impian kita hingga melupakan orang-orang yang begitu tulus mendukung impian kita. Dari Claire sendiri saya belajar bahwa sesulit apa pun cobalah untuk lebih terbuka dan jujur pada orang di sekeliling kita. Karena pada akhirnya pilihan bahagia itu ada pada diri kita sendiri.
Saya cukup cerita Claire. Bacaan yang membuat saya lebih mengerti apa itu arti mencintai dan dicintai. Apa lagi banyak sekali kata-kata indah yang dirangkai penulis. Benar-benar memanjakan pembaca dengan semua puisi yang ditulis oleh Claire. Selamat membaca. 


"Untuk dia .... cinta yang akan selalu hidup, sejauh apa pun dia pergi." (Claire-p370)

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com