Jumat, 28 September 2012

'I Am Number Four'

Cover_john


Judul : I Am Number Four [Buku pertama Seri The Lorien Legacies]
Pengarang : Pittacus Lore
Penerbit : Mizan Fantasi
Halaman : 493 Halaman
Tahun Terbit : Cetakan I, Januari 2011
Kategori : Remaja, Fantasi, Romance
Harga : Rp. 59.000,-
Bisa dibeli di bukupediacom

Mulanya kami bersembilan. Kami pergi saat masi muda, nyaris terlalu muda untuk mengingat. Kami harus meninggalkan planet kami—Lorien. Serangan dari  para kaum Mogadorioan telah menghancurkan planet kami beserta para penghuni Lorien. Kami diselamtkan untuk kembali membangkitkan Planet Lorien yang nyaris mati. Tetapi kaum Mogadorian tidak pernah lelah untuk memburu kami. Sudah dua dari kami yang terbunuh, dan sejam yang lalu goresan—yang menjadi tanda bahwa salah satu dari kami terbunuh—muncul saat aku sedang duduk di perahu penonton di pesta temanku.
Untuk menghindari kejaran kaum Mogadorian aku selalu berpindah-pindah. Identitas baru lagi. Sekolah baru lagi. Aku tak ingat sudah berapa banyak selama bertahun-tahun ini. Selalu kota kecil, sekolah kecil, rutinitas sama. Namaku saat ini adalah John Smith. Aku memilih kota Paradise, Ohio sebagai tempat persembunyianku saat ini. Tapi aku tak pernah tahu bahwa sangat menyenangkan ketika aku dekat dengan seseorang dan membeberkan semua rahasiaku kepada seorang sahabat. Selama bertahun-tahun dalam pelarian pertama kalinya aku muak untuk terus melarikan diri. Aku ingin tinggal. Hidup biasa di kota kecil Paradise bersama Sarah—pacarku. Dan aku tidak pernah tahu bahwa hal ini menyebabkan aku kehilangan seseorang yang selama ini menjagaku.


'Negeri Van Oranje'

6379405
Judul : Negeri Van Oranje

Pengarang : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Permana

Tahun Terbit : Cetakan II, Mei 2009

Penerbit : Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka)

Jumlah Halaman : 478 hal

Kategori : Romance, Remaja, Backpaper

Harga : Rp. 49.000,-

ISBN : 978-979-1227-58-2

 

Lintang, Wicak, Daus, Geri dan Banjar adalah lima sekawan yang dipertemukan secara tidak sengaja ketika kereta ditunda keberangkatannya dikarenakan cuaca buruk, badai yang melanda Amersfort, salah satu kota di Belanda. Walaupun mereka baru mengenal satu smaa lain dikarenakan sama-sama berasal dari Indonesia mereka langsung bersahabat dan membentuk aliansi yang bernama Aagaban.

Hari-hari yang mereka lewati di negeri orang banyak dilalui dengan suka dan duka. Saling mengunjungi kota tempat masing-masing menempuh belajar di Belanda. Hingga permasalahan hati yang tidak bisa mereka elakkan. Semuanya terangkum dalam buku ini.

 

Menurutku buku ini sangat komplit memuat tentang Negara Belanda. Walaupun bertajuk novel tetapi banyak sekali detail-detail mengenai tempat-tempat terkenal di Belanda, bangunan-bangunan bersejarah, kota-kota bersejarah, perayaan atapun festival di kota setempat, dan tips-tips hemat tinggal di Belanda dan bagaimana kita bisa beradaptasi. Kesimpulanku sih ini novel backpaper karena kekomplitannya itu.

Dari dulu banget aku ga pernah suka buku-buku tentang backpaper, aku lebih suka melihat langsung acara jalan-jalan di TV yang lebih memperjelas keindahan tempat-tempat yang terkenal di suatu negara. Membaca novel ini pun sebenarnya atas rekomendasi teman yang sudah dari dulu banget nyuruh aku membaca buku yang diagungkannya ini. Tapi apa mau dikata buku ini memang bukan seleraku. Hampir yang ada ketika membaca aku merasa bosan dan butuh berhari-hari untuk menamatkannya.

Sebenarnya prolog yang diambil para penulis cukup bagus dan membuatku penasaran juga dan berfikir ‘Woow, ada apa nih sama tokoh yang bernama Lintang? Sampai membuat sahabat-sahabatnya heboh?’ Tetapi sayang sekali rasa penasaranku langsung runtuh memasuki lembar-lembar bab berikutnya. Aku terlalu bosan dengan detail-detail yang diberikan oleh para penulis. Memang sih banyak pengetahuan yang didapat seperti yang sudah aku sebutkan diawal tentang sejarah kota-kota yang ditempati para tokoh ketika menimba ilmu di Belanda dan dibab pertama para penulis memberi tips tentang merokok murah di Belanda. Ugh,,, entah kenapa hal ini membuat aku iilfeel, ok lah mungkin aku lebay tapi plis deh masa diawal cerita aja para penulis sudah secara ga langsung memberi jalan buat para perokok untuk melanjutkan hobi ‘mahal’ mereka. Memang juga sih para penulis memberi banyak sekali tips-tips yang sangat berguna sekali untuk beradaptasi di Negara Belanda, tapi aku sih mikirnya duh masa lagi enak-enak baca cerita tiba-tiba dimasukin aja tipsnya dan kadang ga nyambung dengan cerita. Lalu dibandingkan dengan novel,menurutku lebih pantas disebut kumpulan cerpen yang berisi suka duka Lintang, Banjar, Daus, Geri, dan Wicak selama belajar di Belanda. Apalagi hampir tiap bab ceritanya kurang nyambung satu sama lain. Baru deh kalau kita mau bersabar membaca sampai dipertengahan lebih buku ini kita akan melihat konflik apa yang para penulis coba tampilkan di buku ini. Dan soal footnote yang bikin aku malas bacanya, tau dong tulisan footnote ituh kecil-kecil nah kalau footnote ampe setengah halaman gimana ga bikin puyeng dan kadang footnote menjelaskan sesuatu yang sebenarnya ga perlu dijelaskan lagi dan akhirnya aku maalah bertanya-tanya duh ko bisa pake footnote segala sih.

Berbicara tentang konflik mungkin yang jadi konflik adalah lanjutan dari prolog yang lumyan bikin aku penasaran dan bertahan untuk membaca buku ini. Kita harus bersabar selama 380 halaman lebih untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Lintang. Wohooooo aku semangat dong karena bener-bener keren nih para penulis memberikan kejutan yang sangat tentang Geri!!! Aku syok dong dan tiba-tiba merasa beruntung banget nerusin baca buku ini! Tapi oh tapi dengan jeniusnya para penulis hanya menyelesaikan konflik dari novel ini dengan beberapa halaman dan kembali lagi ke pola awal backpaper, jalan-jalan mengelilingi Eropa sebelum pulang ke Indonesia. Jujur aku kecewa pake banget! Aku uda semangat ’45 bacanya malah cuma disuguhi konflik yang dengan gampangnya selesai. Dan untuk ending lagi-lagi aku cuma bisa melongo dan berpendapat bahwa satu-satunya buku yang kubaca dengan ending ter-maksa! Duh yah menurutku its ok  kan kalau Lintang ga harus berkahir bersama dengan salah satu Aagaban terus dimana chemistry mereka? Duh ilahhhh~~~ Dan lagi kenapa ada salah satu Aagaban yang ga jelas nasibnya? Hanya segitu sajakah nasibnya? Ga ada happy ending semisal nikah atau seenggaknya go public?????????

Bohong juga kalau aku tidak menikmati sedikitpun ketika membaca buku ini. Humor-humor yang dimunculkan para penulis membuatku tersenyum dan terhibur ko. Apalagi ditambah tulisan best seller di cover buku ini yang iseng aku liat ternyata baru cetakan ke-2 uda jadi best seller. Hanya saja memang bukan buku yang cocok dengan seleraku. Apakah setelah membaca buku ini tertarik untuk membaca buku-buku dengan tema serupa? Sepertinya aku nyerah saja deh #berasa ada yang mau nawarin buat baca lagi xD

Untuk Geri yang sempat bikin aku ‘deg-degan’ aku kasih nilai 2 :)


Tentang Penulis

1.    Wahyuningrat 

Pria asal Jakarta ini mengaku bahwa tinggal di Belanda gampang-gampang susah dan harus luwes dalam segala hal agar tetap bisa survive. Dan beliau dengan keaktifannya dalam bersosialisasi membuatnya berkesempatan bisa masuk istana, salaman, sekaligus ngobrol dengan Ratu Belanda. Blog Penulis: disini

2. &nbsp
Adept Widiarsa

Menurut pengakuan penulis, selama tinggal beberapa minggu tinggal di Den Haag akhirnya mendapatkan empat sepeda rongsokan yang disulapnya menjadi sepeda yang setia menemani hari-harinya di Belanda. Sayangnya ketika memarkirkan sepedanya di Centraal Station Den Haag ada yang mencuri sepedanya yang malang nian nasib pencurinya ternyata tuh sepeda uda masanya untuk dimusiumkan.

3.    Nisa Riyadi

Setiap akhir bulan yang selalu menjadi gundah gulana anak kos karena uang semakin menipis disiasati oleh Penulis untuk menghabiskan harinya yang bokek untuk nongkrong di bioskop. Hanya dengan Pathe Unlimited hanya bayar 17 euro/bulan bisa nontton sepuasnya ampe pingsan. Apalagi kalau ada promo nonton film gratis caffe latte, ga tanggung buat memanggil para pemburu gratisan lainnya.

4.    Rizki Pandu Permana

Menurut penulis hidup di Belanda harus siap dengan yang namanya MAHAL! Untuk mensiasati sifat borosnya penulis rela melakukan beberapa pekerjaan tambahan menjadi cleaning service dan pelayan di restoran. Website Penulis: disini

 

(Sumber: Novel Negeri Van Orange)

Kamis, 20 September 2012

'Our Story'

165742_1449744175444_1588418825_30931741_1917755_n
Judul : Our Story
Pengarang : Orizuka
Tahun Terbit : 2010
Penerbit : Authorized Books
Jumlah Halaman : 235 hal
Kategori : Fiction, Teenlit
Harga : Rp.  29.000,-

Yasmine, setelah kepulangannya dikarenakan kesehatan ibunya yang memburuk harus menerima kenyataan bahwa supir ayahnya salah mendaftarkan dirinya di sekolah SMA Budi Bangsa. Padahal SMA yang disiapkan oleh ayahnya adalah SMA Bukti Bangsa. Yasmine yang tidak mau mempersulit  sang supir karena kesalahan ini, memilih untuk tetap bersekolah di SMA Budi Bangsa.
Di hari pertamanya Yasmine yang masih syok dengan keadaan fisik sekolah harus bertemu dengan Nino—Bos preman—yang membuatnya ketakutan dan juga berdebar-debar dengan lesung pipinya.
Namun ada secercah harapan yang dibawa Yasmine dengan segala kepolosannya. Tanpa disadarinya dia telah membawa perubahan besar untuk SMA Budi Bangsa. Harapan untuk murid-murid sekolah sampah.

Sejujurnya awalnya ku tidak tertarik sama sekali untuk membaca novel ini. Walaupun aku penggemar novel teenlit tapi aku lagi pada masanya jenuh dan ingin membaca novel yang penuh ketegangan ketika membacanya. Tapi hal itu langsung sirna begitu aku memulai membaca bab awal novel ini. Sang penulis begitu cerdas dengan mengambil prolog yang bikin pembaca penasaran sekali. Adegan dibuka dengan situasi dimana sang tokoh utama berada pada kekacauan tawuran antar anak SMA. Ya, aku penasaran sekali dengan prolog yang diambil penulis. Pikirku langsung mengarah dengan pertanyaan 5W+1H. Setelah ketegangan di bagian prolog memulai bab 1 dengan tenang tapi ga bikin bosan dan tetep buatku semangat baca ingin cepat-cepat sampai pada bagian tawuran seperti yang ada di prolog novel ini.
Mungkin tema yang diambil klise sekali yaitu kenakalan remaja. Narkoba, seks bebas, pencarian jati diri dan keluarga broken home. Memang tidak dipungkiri bahwa sang penulis yang memang sudah banyak mengeluarkan novel-novel best seller mempunyai kelebihan dalam penceritaan yang mengalir dan enak dibaca. Novel ini memang bukan karya Orizuka yang pertama kali aku baca, tapi sejauh ini menjadi novel favoritku dari karya Orizuka yang lainnya.
Novel-novel lain yang selama ini aku baca—teenlit khususnya—walau mengambil tema kenakalan remaja jarang sekali mengambil setting dengan sekolah sampah. Padahal biasanya walau dengan segala kelakuan buruk anak SMA selalu aja diambil sekolah yang bagus-bangus dan dengan latar belakang orang tua yang kaya glamor lah kehidupan anak SMA di novel-novel teenlit. Setting yang diambil adalah sekolah sampah yaitu SMA Budi Bangsa! Ya sekolah sampah yang ditempati Yasmine ketika kembali ke Indonesia yang seharusnya SMA Bukti Bangsa dikarenakan kesalahan yang supir. Ada alasan tersendiri kenapa sekolah ini disebut sekolah sampah. Sekolah ini ditempati oleh anak-anak dengan masalah tersendiri yang mengakibatkan mereka menjadi sampah masyarakat.
Walau Yasmine sebagai tokoh utama tetapi hampir semua tokoh di dalam novel ini yaitu seluruh murid SMA Budi Bangsa turut andil dalam porsi yang sangat pas sekali. Di SMA Budi Bangsa yang terkenal dengan deretan label murid-nuridnya yaitu preman, pengacau, pembangkang, pembuli, pelacur memiliki Bos Besar yang menjadi pemimpin sekaligus pelindung SMA Budi Bangsa. Adalah Nino, sang Bos Besar. Sudah bisa tertebak memang Nino bakal menyukai Yasmine dan bertekuk lutut atas nama cinta. Tapi sekali lagi tema yang memang sudah pasaran seperti ini tidak membuatku bosan. Dari preman menjadi baik karena cinta. Justru proses yang begitu mengalir apa adanya yang dibuat penulis membuatku suka sekali pada buku ini. Ada peran preman ada juga peran sang hero. Adalah Ferris yang menjabat sebagai sang Ketua Osis dengan anggota dia sendiri. Unik kan? :D. Yang ternyata Ferris ada hubungan masa lalu dengan Nino. Ada lagi tokoh Mei yang menjadi tokoh favoritku, dia orangnya jujur sekali dan terlanjur ceplas ceplos. Dia tanpa malu dan sungkan mengaku sebagai pelacur. Yah walau memang ada alasan tersendiri. Pada akhirnya ketika semua anak SMA Budi Bangsa menemukan sedikit harapan akan masa depannya mereka terlanjur jatuh lagi. Nah ini lah realita yang memang selalu terjadi di dunia nyata, terkadang perubahan itu susah sekali mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Tema yang diangkat menurutku lumayan berat, banyak perenungan-perenungan yang membuatku akhirnya bersyukur sekali dengan kehidupanku sekarang. Dengan alur yang lumayan cepat dan mengambil sudut pandang orang ke-3 membuatku ga berhenti dalam membacanya. Walau ada beberapa hal yang kurang digalih menurutku tentang orang tua Yasmine yang sama sekali tidak tahu anaknya ‘nyasar’ ketika sekolah dan ending yang begitulah agak sedikit ga aku suka. Tapi jujur novel ini worth it banget buat dibaca semua kalangan ga hanya para remaja. Poin plus lagi adalah covernya! Suka sekali! Background hitam dan tongkat baseball merah yang menjadi kunci dari novel ini :D
Untuk anak-anak SMA Budi Bangsa yang percaya akan adanya harapan aku kasih nilai 5 :)

Selasa, 18 September 2012

'Infinitely Yours'

Dsc09889
Judul : Infinitely Yours
Pengarang : ORIZUKA
Tahun Terbit : Cetakan III, 2011
Penerbit : Gagasmedia
Jumlah Halaman : 292 hal
Kategori : Romance, Remaja
Harga : Rp. 47.000,-
ISBN : 979-780-508-5

Narayan Sadewa, seorang prinsipal dan arsitektur dari PT NSDezign tak pernah menyangka bahwa perjalanannya ke Korea Selatan guna mencari ketegasan hubungan dengan mantan pacarnya—Mariska. Bertemu dengan seseorang yang sangat-sangat menyebalkan dan secerewet bernama Jingga. Mereka bedua menjadi pasangan dalam tour yang mereka ikuti yaitu dalam jasa Together Tour. Rayan yang ingin perjalanannya ke Korea Selatan biasa-biasa saja menjadi luar biasa dengan campur tangan makhluk ajaib teman satu perjalanannya ini. Bagaimanakah serunya perjalanannya Rayan dengan campu tangan Jingga? Apakah Rayan mendapat jawaban yang selama ni dicarinya bahkan sampai mengunjungi Korea Selatan. Semuanya akan dijawab tuntas dan tentu saja menjadi perjalanan paling ajaib yang pernah dilakukan oleh Rayan.

Suka sekali dengan buku ini!
Rayan itu tipe-tipe cowok yang cuek tapi sebenernya perhatian banget. Ya memang uda banyak sekali peran utama cowok seperyi Rayan, tapi aku ga pernah bosen dan selalu dibikin melting! Hehehe
Ceritanya memang sederhana sekali tentang Rayan yang sama sekali tidak mengetahui alasan Mariska yang memutuskannya padahal mereka sudah menjalin hubungan selama 10 tahun yang Rayan sangka baik-baik saja malah berakhir dengan minta putusnya Mariska. Dan dengan adanya tokoh Jingga tertebak sudah arah yang diinginkan penulis. Misi Rayan untuk mengetahui alasan Mariska memutuskannya terlaksana dengan bantuan ‘paksa’ dari Jingga. Dan mereka mengadakan tour romantis ala Korea karena misi Rayan. Dan ditambah kehadiran Yun Jae, tour guide yang menjadi alasan Jingga jalan-jalan ke Korea. Pokoknya seru dan rame karena kecerewetan Jingga :D.
Poin plus tersendiri dari novel ini adalah dijabarkannya dengan sangat detail tentang tempat-tempat pariwisata yang ada di Korea Selatan sampai tentu saja tidak ketinggalan gembok cinta untuk pasangan yang sudah sangat populer sekali baik di dalam maupun di luar Korea Selatan. Tapi hal ini juga menjadi kelemahan tersendiri dengan sudah pasarannya bahasan tentang tempat-tempat pariwisata yang sudah banyak sekali dibahas dimedia manapun mengingat deman Korea sedang melanda di Indonesia.
Sama seperti Rayan, aku super duper sebel sama sifat Jingga yang kelewat ceria, positif, ikut campur urusan orang dan sangat tidak mencerminkan sekali umurnya yang sudah 25 tahun. Di awal perjalanan saat di pesawat terbang aku ikutan pusing dengan tingkah Jingga yang ga mau diem sama sekali. Heh! Bisa ga sih diem sebentar aja! Saya ini ke Korea bukan untuk bersosialisasi dengan makhluk ajaib kaya kamu!’ Mungkin itu kali suara hati yang terdalam tentang Jingga oleh Rayan. Haha :D
Aku juga suka sebel ketika lagi di Bus yang padahal aku pingin sekali istirahat tidur malah ada yang ngajak ngobrol. Memang sih sopan santun basa basi dengan teman satu kursi. Tapi plis deh saya mau istirahat ga mau diganggu! Haha padahal asalinya ga pernah sefrontal itu xD. Tapi oh tapi aku salut banget sama penulis, ketika Jingga jadi pendiam ga secerewet seperti di awal seperti terbawa arus aku pun seperti Rayan yang merasa kehilangan. Good job sekali! Penulis memang sepertinya sudah merencanakan bahwa pembaca harus terkena virus Jingga seperti Rayan! :D
Alur yang diambil adalah maju dan mengambil sudut pandang orang ke-3. Pilihan yang sangat tepat menurutku karena tidak membuat ceritanya aneh. Untuk masalah typo tetap ada walau tidka begitu menggangu dan karena biru adalah warna favoritku aku sangat menyukai cover buku ini :D
Untuk yang ingin tahu ending buku ini sangat unik menurutku dimana Jingga balas dendam pada Rayan karena di awal pertemuan mereka, Rayan merusak PSP Jingga xD
Untuk Rayan yang cuek aku kasih nilai 4 :)

Tentang Penulis
Dieng-04
Bernama lengkap Okke Riska Septiani. Gadia penggemar thriller yang senang mempelajari berbagai bahasa asing ini lahir di Pelmbang dan besar di Cirebon. Selain menulis, di waktu luang ia gemar membaca, menonton, mendengarkan musik serta fangirling bersama para Kpoppers. Orizuka juga saat ini selain menjadi penulis bekerja sebagai guru di lembaga kursus B. Inggris.

Jumat, 14 September 2012

'Negeri Para Bedebah'

Dsc09874
Judul : Negeri Para Bedebah

Pengarang : Tere Liye

Tahun Terbit : Cetakan I, Juli 2012

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 440 hal

Kategori : Action, Fiction, Dewasa

Harga : Rp.  60.000,- 

ISBN : 978-979-22-8552-9

 

Disaat meluangkan waktu sejenak dari segala kesibukan aktifitasku di sebuah hotel dengan alasan tidak ingin diganggu siapapun, pukul satu dini hari tepatnya, seseorang tanpa malu datang berkunjung memberi kabar buruk padaku.

Seseorang tersebut memberitahu bahwa Bank Semesta yang dipimpin oleh Om Liem terpaksa harus ditutup. Aku sama sekali tidak dengan keadaan Bank Semesta yang kupedulikan hanya kesehatan Tante Liem yang memburuk. Dan juga aku sama sekali tidak peduli seandainya memang Om Liem harus di penjara.

Tetapi semua itu tidak boleh terjadi. Om Liem harus Lari. Bank Semesta tidak boleh ditutup. Ada yang aneh dengan kasus Bank Semesta ini seakan ada hantu dari masa lalu yang selalu membayangi keluarga kami, untuk itulah dalam dua hari ini aku akan melakukan apapun untuk mengungkap semuanya. Dendam puluhan tahun yang lalu. Termasuk menjadi bedabah dan buronan.

 

Keren!!! Keren!!! Keren!!!!

Sumpah ga ada kata yang tepat selain kata ‘keren’ buat menjabarkan keistimewaan buku ini. Awalnya aku bener-bener terkecoh banget dengan judul dan bab pembuka dimana obrolan santai Thomas yang mengintimidasi Julia mengenai dampak kekayaan yang sangat merusak melebihi dampak kemiskinan. Aku pun ga ada bedanya dengan Julia yang mempunyai pikiran betapa sombongnya tokoh utama yang satu ini sekaligus wow! Aku ikutan takjub dengan penjelasan detail Thomas yang memang sesuai bahwa dia lulusan terbaik dua sekolah bisnis terkenal dan penasihat keuangan profesional tahu betul seluk beluk lingkaran setan yang diakibatkan oleh uang!

Aku bukan pengamat politik, aku juga bukan pengamat ekonomi dan aku juga jarang sekali—malah ga pernah—ngikutin berita yang ada di TV. Mana ngerti aku tentang segala pencucian uang, krisis ekonomi global, dan segala aktivitas ekonomi lainnya. Tapi seperti biasa dengan gaya bahasa Tere Liye yang mengalir apa adanya membuat semua itu terasa bukan sesuatu yang sulit untuk dipahami dan tampak sangat sederhana. Seperti yang sudah diwanti-wanti oleh Bang Tere, novel ini bukan bercerita tentang anak-anak dan keluarga seperti novel-novel Bang Tere sebelumnya melainkan tentang penghianatan, penghianatan, dan penghianatan. Memang benar adanya ini novel dengan genre tebaru Bang Tere ditambah dengan sangarnya cover buku ini dan label NOVEL DESAWA di belakang cover. Tapi aku melihatnya tidak seperti itu, bagiku novel Bang Tere tuh ga pernah jauh-jauh dengan tema anak-anak dan keluarga. Kesimpulanku yang kudapat Thomas adalah laki-laki yang terluka di masa lalu, anak-anak yang terluka di masa kecilnya dan sama sekali luka tersebut belum terobati walau sesukses ataupun seterkenl dan sesibuk jadwal Thomas—yang bahkan melebihi jadwal Presiden. Seperti yang dituturkan Thomas sendiri ‘Aku adalah anak muda yang dibakar dendam masalalu’. Thomas sama sekali tidak peduli dengan nasib Om Liem yang bakal di penjara, Bank Semesta yang bakal di bail-out, apalagi mengurusi segala hal darimana datangnya dana kampanye. Satu hal yang diinginkan Thomas adalah keadilan. Keadilan untuk Mama-Papa-nya yang terbakar. Pembalasan Tommi yang bukan lagi hanya seorang anak kecil yang berumur 10 tahun yang tidak bisa apa-apa.

Di mulai lah misi balas dendam Thomas dengan segala bantuan dari teman-teman Thomas—Rudi, Erik dan Randy, dan juga sekertarisnya Maggie serta wartawan cantik—Julia :D—untuk menyelamatkan Bank Semesta. Nah proses penyelamatan Bank Semesta ini lah yang sangat menarik dan bikin deg-degan. Dengan ide dadakan Thomas yang sangat hebat dan brilian. Satu persatu bidak catur yang diinginkan Thomas berperan memainkan perannya dengan sangat baik.

Katakter yang aku sukai tentu saja Thomas semenjak bab pertama aku sudah jatuh cinta sama Thomas ketika menjaili Julia :D. Dan dengan alaminya Julia menjadi partner yang cocok dengan Thomas walaupun Julia sempat dibikin jengkel oleh Thomas. Tetapi selain Thomas entah kenapa aku menyukai tokoh Rudi apalagi ketika Rudi terbengong-bengong melihat jalannya konvensi partai dan juga Rudi adalah partner Thomas ketika menjalankan bidak catur ‘PUTRA MAHKOTA’. Dan memang ketika bagian tentang pertemuan dengan Putra Mahkota lah yang aku sukai, dimulai dengan mengancam Erik untuk menghubungi Putra Mahkota, janjian di Denpasar dan ide gila Rudi saat berangkat dan ditambah ide gila Thomas menjalani prosesi pendaratan mereka. Semua cerita di bagian ini sangat komplit dan bikin tegangnya lama. Karena bagian-bagian yang lain di buku ini walau bikin tegang tapi kurang banyak porsinya. Selain itu juga bagian ketika Thomas membayangkan adegan pelarian dari polisi dengan menyamar sebagai Pilot yang mengingatkan dia akan film lawas, dipikiranku langsung! Catch Me If You Can! Jadi kangen sama film abang Leo :D dan ternyata ada bagian yang sama dengan film ini jangan-jangan novel ini sedikit banyak terinspirasi dari film abang Leo, apalagi temanya sama ‘sini tangkep aku kalau bisa’ :D. Selain Thomas cs ada tokoh keluarga Thomas selain Om Liem yaitu Opa. Mau ga mau nasihat-nasihat bijak yang diberikan Opa kepada Thomas mengingatkanku pada Pak Tua di novel Bang Tere sebelumnya (ini resensiku). Ide-ide brilian Thomas pun bisa dibilang terilhami dari cerita-cerita Opa yang selalu diceritakan semenjak Thomas remaja sampai-sampai Thomas menjulukinya sebagai cerita kaset rusak yang diputar berulang-ulang.

Alur dalam buku ini maju mundur mengisahkan masa lalu Thomas dan diceritakan dengan sudut pandang pertama yaitu Thomas. Masalah typo pastinya ada walau beberapa dan tidak begitu menggangu. Tetapi ada satu hal yang bikin aku aneh tentang umur Thomas ketika tragedi kelam masa kecilnya terjadi karena ada dua kali atau lebih aku lupa yang kuingat dihalaman 119 yaitu ‘Aku bukan lagi anak kecil enam tahun yang berlari-lari mengantar susu’. Nah jelas-jelas waktu itu Thomas sudah berumur sepuluh tahun.

Bisa dibilang novel ini ada di urutan pertama novel Bang Tere yang aku sukai setelah Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Dan entah ini kebetulan atau apa kerennya dua novel ini mempunyai alur yang sama! Sama-sama mengambil alur waktu yang singkat! Cerita Thomas yang Cuma terjadi selama dua hari sedangkan cerita Tania Cuma satu jam tiga belas menit! Mungkin hal ini jugalah yang menurutku membuat kedua novel ini istimewa :D. Hal ini yang bikin tegang juga kali ya.

Untuk ending yang diberikan aku ga banyak berkomentar banyak karena selain aku sedikit dikit bisa menebak, novel ini memiliki ending yang khas Tere Liye banget. Kalau pun novel ini akan ada sekuelnya—walau kecil kemungkinannya—tentu saja aku sangat menunggunya :D

Berbicara tentang cover, aku suka sekali sama cover sangar buku ini cocok sekali dengan isi bukunya. Dan judulnya yang nyentrik pun sangat cocok yaitu Negeri Para Bedebah yang tanpa sengaja mempunyai kesamaan denga judul puisi karya Adhie M. Massardi. Dan menurut Bang Tere hal ini murni ketidaksengajaan dan sudah dikonfirmasi juga bahwa tidak ada masalah atas kesamaan judul ini. Dan ternyata dulu sekitar tahun 2002 Bang Tere pernah bergelut sebagai pengamat politik di surat kabar dan yah makanya novel ini bisa sekeren dan bikin aku takjub :D.

(info ini ku dapat dari FB Bang Tere, saya lupa-lupa inget, pas timeline-nya saya ubek-ubek tidak ketemu >,<)

Novel ini sangat cocok dibaca siapapun khususnya buat para penggemar novel Bang Tere yang ga bakal mengecewakan karena mengambil genre baru, tetapi harus tahu juga bahwa novel ini termasuk novel dewasa :)

Untuk Thomas pedebah ulung aku kasi nilai 5 :)

 

Quotes yang kusukai

Thomas hal 321

‘Aku baik-baik saja, Ram. Tidak selalu apa yang kau dengar seburuk sebenarnya’


Lainnya

Puisi Negeri Para Bedebah

Karya:Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah

Lautnya pernah dibelah tongkat Musa

Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah

Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?

Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah

Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah

Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah

Orang baik dan bersih dianggap salah

Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan

Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah

Karena hanya penguasa yang boleh marah

Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah

Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah

Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum

Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah

Usirlah mereka dengan revolusi

Bila tak mampu dengan revolusi,

Dengan demonstrasi

Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi

Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Sumber di sini