Jumat, 14 September 2012

'Negeri Para Bedebah'

Dsc09874
Judul : Negeri Para Bedebah

Pengarang : Tere Liye

Tahun Terbit : Cetakan I, Juli 2012

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 440 hal

Kategori : Action, Fiction, Dewasa

Harga : Rp.  60.000,- 

ISBN : 978-979-22-8552-9

 

Disaat meluangkan waktu sejenak dari segala kesibukan aktifitasku di sebuah hotel dengan alasan tidak ingin diganggu siapapun, pukul satu dini hari tepatnya, seseorang tanpa malu datang berkunjung memberi kabar buruk padaku.

Seseorang tersebut memberitahu bahwa Bank Semesta yang dipimpin oleh Om Liem terpaksa harus ditutup. Aku sama sekali tidak dengan keadaan Bank Semesta yang kupedulikan hanya kesehatan Tante Liem yang memburuk. Dan juga aku sama sekali tidak peduli seandainya memang Om Liem harus di penjara.

Tetapi semua itu tidak boleh terjadi. Om Liem harus Lari. Bank Semesta tidak boleh ditutup. Ada yang aneh dengan kasus Bank Semesta ini seakan ada hantu dari masa lalu yang selalu membayangi keluarga kami, untuk itulah dalam dua hari ini aku akan melakukan apapun untuk mengungkap semuanya. Dendam puluhan tahun yang lalu. Termasuk menjadi bedabah dan buronan.

 

Keren!!! Keren!!! Keren!!!!

Sumpah ga ada kata yang tepat selain kata ‘keren’ buat menjabarkan keistimewaan buku ini. Awalnya aku bener-bener terkecoh banget dengan judul dan bab pembuka dimana obrolan santai Thomas yang mengintimidasi Julia mengenai dampak kekayaan yang sangat merusak melebihi dampak kemiskinan. Aku pun ga ada bedanya dengan Julia yang mempunyai pikiran betapa sombongnya tokoh utama yang satu ini sekaligus wow! Aku ikutan takjub dengan penjelasan detail Thomas yang memang sesuai bahwa dia lulusan terbaik dua sekolah bisnis terkenal dan penasihat keuangan profesional tahu betul seluk beluk lingkaran setan yang diakibatkan oleh uang!

Aku bukan pengamat politik, aku juga bukan pengamat ekonomi dan aku juga jarang sekali—malah ga pernah—ngikutin berita yang ada di TV. Mana ngerti aku tentang segala pencucian uang, krisis ekonomi global, dan segala aktivitas ekonomi lainnya. Tapi seperti biasa dengan gaya bahasa Tere Liye yang mengalir apa adanya membuat semua itu terasa bukan sesuatu yang sulit untuk dipahami dan tampak sangat sederhana. Seperti yang sudah diwanti-wanti oleh Bang Tere, novel ini bukan bercerita tentang anak-anak dan keluarga seperti novel-novel Bang Tere sebelumnya melainkan tentang penghianatan, penghianatan, dan penghianatan. Memang benar adanya ini novel dengan genre tebaru Bang Tere ditambah dengan sangarnya cover buku ini dan label NOVEL DESAWA di belakang cover. Tapi aku melihatnya tidak seperti itu, bagiku novel Bang Tere tuh ga pernah jauh-jauh dengan tema anak-anak dan keluarga. Kesimpulanku yang kudapat Thomas adalah laki-laki yang terluka di masa lalu, anak-anak yang terluka di masa kecilnya dan sama sekali luka tersebut belum terobati walau sesukses ataupun seterkenl dan sesibuk jadwal Thomas—yang bahkan melebihi jadwal Presiden. Seperti yang dituturkan Thomas sendiri ‘Aku adalah anak muda yang dibakar dendam masalalu’. Thomas sama sekali tidak peduli dengan nasib Om Liem yang bakal di penjara, Bank Semesta yang bakal di bail-out, apalagi mengurusi segala hal darimana datangnya dana kampanye. Satu hal yang diinginkan Thomas adalah keadilan. Keadilan untuk Mama-Papa-nya yang terbakar. Pembalasan Tommi yang bukan lagi hanya seorang anak kecil yang berumur 10 tahun yang tidak bisa apa-apa.

Di mulai lah misi balas dendam Thomas dengan segala bantuan dari teman-teman Thomas—Rudi, Erik dan Randy, dan juga sekertarisnya Maggie serta wartawan cantik—Julia :D—untuk menyelamatkan Bank Semesta. Nah proses penyelamatan Bank Semesta ini lah yang sangat menarik dan bikin deg-degan. Dengan ide dadakan Thomas yang sangat hebat dan brilian. Satu persatu bidak catur yang diinginkan Thomas berperan memainkan perannya dengan sangat baik.

Katakter yang aku sukai tentu saja Thomas semenjak bab pertama aku sudah jatuh cinta sama Thomas ketika menjaili Julia :D. Dan dengan alaminya Julia menjadi partner yang cocok dengan Thomas walaupun Julia sempat dibikin jengkel oleh Thomas. Tetapi selain Thomas entah kenapa aku menyukai tokoh Rudi apalagi ketika Rudi terbengong-bengong melihat jalannya konvensi partai dan juga Rudi adalah partner Thomas ketika menjalankan bidak catur ‘PUTRA MAHKOTA’. Dan memang ketika bagian tentang pertemuan dengan Putra Mahkota lah yang aku sukai, dimulai dengan mengancam Erik untuk menghubungi Putra Mahkota, janjian di Denpasar dan ide gila Rudi saat berangkat dan ditambah ide gila Thomas menjalani prosesi pendaratan mereka. Semua cerita di bagian ini sangat komplit dan bikin tegangnya lama. Karena bagian-bagian yang lain di buku ini walau bikin tegang tapi kurang banyak porsinya. Selain itu juga bagian ketika Thomas membayangkan adegan pelarian dari polisi dengan menyamar sebagai Pilot yang mengingatkan dia akan film lawas, dipikiranku langsung! Catch Me If You Can! Jadi kangen sama film abang Leo :D dan ternyata ada bagian yang sama dengan film ini jangan-jangan novel ini sedikit banyak terinspirasi dari film abang Leo, apalagi temanya sama ‘sini tangkep aku kalau bisa’ :D. Selain Thomas cs ada tokoh keluarga Thomas selain Om Liem yaitu Opa. Mau ga mau nasihat-nasihat bijak yang diberikan Opa kepada Thomas mengingatkanku pada Pak Tua di novel Bang Tere sebelumnya (ini resensiku). Ide-ide brilian Thomas pun bisa dibilang terilhami dari cerita-cerita Opa yang selalu diceritakan semenjak Thomas remaja sampai-sampai Thomas menjulukinya sebagai cerita kaset rusak yang diputar berulang-ulang.

Alur dalam buku ini maju mundur mengisahkan masa lalu Thomas dan diceritakan dengan sudut pandang pertama yaitu Thomas. Masalah typo pastinya ada walau beberapa dan tidak begitu menggangu. Tetapi ada satu hal yang bikin aku aneh tentang umur Thomas ketika tragedi kelam masa kecilnya terjadi karena ada dua kali atau lebih aku lupa yang kuingat dihalaman 119 yaitu ‘Aku bukan lagi anak kecil enam tahun yang berlari-lari mengantar susu’. Nah jelas-jelas waktu itu Thomas sudah berumur sepuluh tahun.

Bisa dibilang novel ini ada di urutan pertama novel Bang Tere yang aku sukai setelah Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Dan entah ini kebetulan atau apa kerennya dua novel ini mempunyai alur yang sama! Sama-sama mengambil alur waktu yang singkat! Cerita Thomas yang Cuma terjadi selama dua hari sedangkan cerita Tania Cuma satu jam tiga belas menit! Mungkin hal ini jugalah yang menurutku membuat kedua novel ini istimewa :D. Hal ini yang bikin tegang juga kali ya.

Untuk ending yang diberikan aku ga banyak berkomentar banyak karena selain aku sedikit dikit bisa menebak, novel ini memiliki ending yang khas Tere Liye banget. Kalau pun novel ini akan ada sekuelnya—walau kecil kemungkinannya—tentu saja aku sangat menunggunya :D

Berbicara tentang cover, aku suka sekali sama cover sangar buku ini cocok sekali dengan isi bukunya. Dan judulnya yang nyentrik pun sangat cocok yaitu Negeri Para Bedebah yang tanpa sengaja mempunyai kesamaan denga judul puisi karya Adhie M. Massardi. Dan menurut Bang Tere hal ini murni ketidaksengajaan dan sudah dikonfirmasi juga bahwa tidak ada masalah atas kesamaan judul ini. Dan ternyata dulu sekitar tahun 2002 Bang Tere pernah bergelut sebagai pengamat politik di surat kabar dan yah makanya novel ini bisa sekeren dan bikin aku takjub :D.

(info ini ku dapat dari FB Bang Tere, saya lupa-lupa inget, pas timeline-nya saya ubek-ubek tidak ketemu >,<)

Novel ini sangat cocok dibaca siapapun khususnya buat para penggemar novel Bang Tere yang ga bakal mengecewakan karena mengambil genre baru, tetapi harus tahu juga bahwa novel ini termasuk novel dewasa :)

Untuk Thomas pedebah ulung aku kasi nilai 5 :)

 

Quotes yang kusukai

Thomas hal 321

‘Aku baik-baik saja, Ram. Tidak selalu apa yang kau dengar seburuk sebenarnya’


Lainnya

Puisi Negeri Para Bedebah

Karya:Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah

Lautnya pernah dibelah tongkat Musa

Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah

Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?

Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah

Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah

Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah

Orang baik dan bersih dianggap salah

Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan

Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah

Karena hanya penguasa yang boleh marah

Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah

Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah

Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum

Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah

Usirlah mereka dengan revolusi

Bila tak mampu dengan revolusi,

Dengan demonstrasi

Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi

Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Sumber di sini

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)