Jumat, 11 Maret 2016

[Review] Sweet Winter



Judul : Sweet Winter
Pengarang : Kezia Evi Wiadji
Tahun Terbit : Cetakan I, 2014
Penerbit : PT Grasindo
Jumlah Halaman : hal
Kategori : Romance,
Harga : Rp. 45.000,-
ISBN : 978-602-25-1651-4
Rating : 1/5
 Bisa dibeli di bukupediacom

            Karin dan Matthew adalah sudah berteman semenjak kecil. Mereka selalu bersama. Hingga akhirnya seorang gadis bernama Silvia hadir di kehidupan mereka berdua. Masa SMP pada saat itu masa terberat bagi Karin. Dari kemunculan Silvia lah Karin tahu bahwa bagi dirinya Matthew lebih dari sahabat. Sayangnya, tidak bagi Matthew. Matthew terlalu dibutakan oleh kecantikan Silvia. Perlahan persahabatan antara Karin dan Matthew meregang dan puncaknya ketika Matthew dan Silvia harus pindah akibat hubungan mereka berdua.
            Karin merasa sedih karena harus berpisah dengan Matthew. Yang harus Karin lakukan hanyalah melanjutkan hidup dan mendoakan Matthew bahagia bersama Silvia. Hingga, 10 tahun kemudian Karin dipermainkan takdir bertemu kembali dengan Matthew. Di tanah Korea. Negara kenangan masa kecil mereka berdua. Sanggupkah Karin mengabaikan perasaan cintanya kepada Matthew?

************

            Sejujurnya, novel ini adalah cerita teraneh yang say abaca di awal tahun 2016. Saya beneran tidak menyangka bahwa novel ini akan berakhir dengan cara maksa dan tanpa malu-malu tokoh Matthew berubah 360o semakin menyedihkan.
            Ok, saya sangat membenci Matthew. Dan sampai akhir pun tidak menemukan hal yang patut saya sukai dari dirinya. Malahan semakin sebal karena penulis begitu lunak pada tokoh Matthew dan terlalu memuluskan takdir dirinya. Ugh, pengin saya tending ke laut saja orang seperti Matthew ini!
            Ok, awal saya membenci Matthew adalah karena hubungan yang kelewat batas dengan Silvia. Sama seperti Karin saya ikut hancur ketika membaca bagian bahwa Silvia hamil. Kelas 3 SMP. Ngeri. Bilang saya kolot atau apa pun. Tapi demi apa pun saya jijik sama mereka berdua. Karena tentu saja saya sangat mendukung hubungan Karin dan Matthew.
            Bagian awal mereka berdua ini diceritakan begitu manis dan saya malah merasa seperti membaca novel teenlit. Sampai saya disadarkan bahwa setelah dewasa mereka akan bertemu kembali. Dan, dengan super percaya diri Matthew mendekati Karin. Dengan dalih bahwa dia lebih bahagia lah seandainya lebih memilih Karin dan ingin kesempatan kedua. Cih, yang ada di pikiran saya cuma satu, gombal!
            Karena jelas saya sangat tidak menyukai Matthew, usaha apa pun yang dilakukan Matthew untuk mendapat hati Karin tidak berasa apa-apa bagi saya. Padahal saya berusaha sekali untuk tidak membenci tokoh Matthew. Sayangnya sampai akhir usaha itu harus berakhir dengan kegagalan.
            Jelas, saya tidak bisa merekomendasikan novel ini karena saya tidak menyukai novel ini. Tapi, hey, jangan terlalu terpengaruh dengan review saya. Bukan berarti buku ini jelek, hanya bukan selera saya saja. Siapa tahu seandainya kamu baca, dan merasa cocok, tidak ada ruginya, kan? Selamat membaca. :)

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)