Minggu, 27 Maret 2016

[Review] Perfect Purple

Judul : Perfect Purple
Pengarang : Indah Hanaco
Tahun Terbit : Cetakan I, Januari 2016
Penerbit : Pastel Books
Jumlah Halaman : 196 hal
Kategori : Young Adult, Romance,
Harga : Rp. 49.000,-
ISBN : 978-60-7870-64-2
Rating : 3/5

            Milly, gadis berusia 18 tahun dari Pematangsiantar, Sumatra, merasa beruntung ketika tim SNFS yang dipimpin oleh Neal O’Mara datang ke sekolahnya. Pasalnya hal itu mengilhaminya untuk mengelabui ibunya demi menunda kuliah Milly. Milly tidak mau kuliah dengan jurusan pilihan ibunya. Milly lebih memilih untuk menjadi aktivis lingkungan mengikuti jejak Neal daripada dipaksa kuliah.
            Milly bertekad untuk membujuk orangtuanya agar mengizinkannya untuk ikut berkampanye bersama tim SNFS. Kampanye demi mencegah perburuan paus. Terdengar keren di mata Milly. Makanya, saat ini Milly sedang terombang-ambing di lautan. Berada di kapal bernuansa ungu, warna kesukaannya. Dan, tidak pernah menyangka bahwa petualangannya tidak semenarik yang dibayangkannya.

*********

            Membaca novel ini membuat saya menyadari bahwa betapa kurang pedulinya saya terhadap lingkungan. Saya semakin sadar bahwa saya tuh kok ya egois banget. Masih mikirin kegalauan sendiri disaat ada seseorang yang begitu gencar untuk menyelamatkan paling tidak 1 ekor paus. Hmm, novel yang sungguh menginspirasi.
            Saya selalu menyukai cara penulis dalam bercerita. Enak banget. Santai. Tiap kalimat terjalin dengan baik. Baik narasi maupun dialog tidak membosankan bagi saya. Pokoknya pas deh. Walau novel ini bisa dibilang favorit saya, bisa dikatakan membaca novel ini sangat menyenangkan.
            Saya suka perkembangan karakter Milly. Di awal buku Milly digambarkan seperti para ababil kebanyakan. Nyolot di awal tanpa tahu bahaya apa pun kepengin menjadi aktivis lingkungan yang selama ini tidak pernah berlayar malah dengan sombongnya ingin membantu kampanye. Hal yang super mustahil. Namun, lembar demi lembar Milly pun menjadi gadis dewasa yang tangguh. Milly mau belajar dan mengakui bahwa dirinya selama ini salah. Lari dari kenyataan itu bukan pilihan. Milly terlihat picik dengan berharap ikut kampanye bisa menunda kuliahnya. Dan, disadarkan bahwa tugas menjadi seorang aktivis itu sangat mulia.
            Sebenarnya saya berharap ada banyak hal-hal yang terjadi antara Neal dan Milly. Oh please, saya ini penggemar romans wajar dong saya berharap banyak. Tapi, walau begitu tetap ada hal manis yang terjadi di antara mereka berdua. Setidaknya insiden pesta kopi itu cukup memuaskan saya. Walau aseli saya kurang puas. Apalagi novel ini hanya memiliki halaman kurang dari 200, apa yang mau saya harapkan?
            Nah, karena ketipisan buku ini sendiri, novel ini tidak bisa dikatakan tamat hanya dalam satu buku. Karena selama manusia masih berburu paus, selalu akan bermunculan organisasi-organisasi seperti Sea Not For Sale—SNFS.


0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)