Kamis, 07 Januari 2016

[Review] Good Fight



Judul : Good Fight (Ada yang salah dengan cinta)
Pengarang : Christian Simamora
Editor : Gita Romadhona
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 356 Halaman
Tahun Terbit : Cetakan I, 2012
Kategori : Dewasa, Romance,
Harga : Rp. 57.000,-
ISBN : 978-979-780-545-6
Ratingku : 4/5


“Sehari-harinya, mereka berdua sudah kayak Tom dan Jerry. Saling hina, saling ngejatuhin mental satu sama lain. And one day—one unpredictible day, that is—Tere dan Jet jujur soal kehidupan cinta masing-masing. Which is personal, bahkan Lisa yang jelas-jelas dilabeli ‘best friend’-nya Tere pun nggak tahu apa-apa tentnang Indra” (p.86)

Jethro Liem dan Teresia sama-sama bekerja di kantor yang sama, yaitu di The Tiara Group. Tere sebagai fashion editor majalah Mascara dan Jet sebagai fotografer majalah Manner dan Mascara. Karena mereka berdua bekerja di gedung yang sama dan hanya beda lantai keduanya memang sering bertemu dan saling bekerja sama dalam pekerjaan mereka berdua. Namun sayangnya semua itu menjadi bencana bagi Tere. Karena Jet adalah si musuh bagi Tere. Entah sejak kapan hubungan keduanya seperti anjing dan kucing. Setiap ketemu pasti bawaanya langsung saling ejek dan bertengkar. Baik Tere maupun Jet sudah lupa apa tepatnya alasan yang membuat mereka berdua saling cek-cok. Yang Jet tahu mengusili Tere menjadi hal yang menyenangkan karena Tere cepat sekali tersulut emosinya.
Hingga suatu hari entah bagaimana ceritanya Tere dan Jet saling curhat mengenai kehidupan percintaan mereka berdua. Kehidupan percintaan mereka yang berada pada posisi dimana mereka berdua disalahkan sebagai orang ketiga. Yap, Tere dan Jet menjalani peran sebagai selingkuhan. Tere yang pacaran dengan lelaki yang mempunyai tunangan. Dan Jet berpacaran dengan seorang wanita bersuami yang sedang koma. Kehidupan percintaan mereka berdua memang super complicated. Tere tidak mau menambah runyam semua itu ketika Tere sadar bahwa Jet tidak seperti yang diduga sebelumnya. Masa sih Jet orangnya begitu perhatian?

***************

Novel ini adalah buku pertama yang saya baca dari tulisan Christian Simamora. Buku yang pertama kali saya baca pada tahun 2012 dan dibaca ulang ketika awal 2016 ini. Saat itu saya belum membuat review buku ini tentunya saya sedikit kesulitan ketika jarak yang begitu jauh membuat saya agak-agak lupa dengan cerita buku ini. Dan perasaan saya masih sama seperti pertama kali membaca buku penulis, bikin nagih!
Cover baru yang oh, so sexy! xD
Awalnya, sama seperti kebanyakan pembaca pertama novel Christian Simamora saya belum terbiasa dengan gaya bahasa yang dipakai penulis. Ugh, ketika narasi menggunakan kata tidak baku itu berasa baca novel tak layak aja! Habis mau bagaimana lagi, saya sudah terbiasa dengan narasi yang menggunakan bahasa baku dan penulis dengan seenaknya menggunakan bahasa bebas dan malah terlalu gahul. Sampai-sampai bahasa Inggris pun dibikin bahasa slank-nya. Kalau belum terbiasa dengan bahasa Inggris pastinya bakal agak kurang ngerti baca novel ini ditambah lagi bahasa Inggris yang dialay-alayain macam puh leez. Namun, entah lagi beruntung atau apa syukurnya saya ngerti dengan semua kata-kata aneh yang diplesetin penulis.

“Ya, mau gimana juga, Re. Posisi orang ketiga kan emang selalu dianggep miring. Lo dan gue emang nggak ngarep dibela, cuman kalau makin dipojokkan pula sama orang-orang setelah semua rasa bersalah yang menumpuk di dada, ah, nggak sanggup aja gue ngadepinnya.” (Jethro Liem – p.101)
Seakan belum selesai dengan pemakaian gaya bahasa seperti itu peran tokoh utama yang dipakai adalah selingkuhan! Oh-my-God! Aseli, novel ini bener-bener ngeselin banget kan? Masa ngambil tema selingkuhan sih. Bikin esmosi jiwa aja kalau saya denger kata selingkuhan itu. Tapi dan tapi dari novel ini pun saya belajar untuk lebih mengerti perasaan pihak yang menjadi selingkuhan. Ugh, satu hal yang mustahil banget di kamusku.
Untungnya novel ini terselamatkan karena Tere dan Jet sama-sama yang menjadi selingkuhan. Saya suka sekali dengan usaha mereka berdua untuk ­move-on. Kebersamaan mereka berdua perlahan tapi pasti saling mengisi kekosongan dan membuat mereka berdua semakin sadar bahwa ngapain harus jadi yang kedua seandainya bisa menjadi nomor satu.
“... ugh, falling in love sucks. Lo nggak pernah tahu orang yang lo cintai bakal tulus membalas perasaan lo atau malah memanipulasi keadaan dan perasaan lo.”
(Teresia – p. 373)
Suka, walaupun novel ini banyak drama tapi saya suka bagaimana interaksi Tere dan Jet yang awalnya ogah-ogahan untuk bisa bersama, manisnya hubungan mereka berdua. Dan dramatisirnya ketika masing-masing pacar mereka tahu hubungan antara Tere dan Jet.
Hanya saja ending-nya yang agak biasa aka terlalu mainstream banget rada bikin saya kecewa sih. Cuman, saya suka sekali ada cerita tambahan setelah bagian yang mainstream itu!
Semoga saya bisa berjodoh untuk bisa membaca tulisan Christian Simamora lagi karena ya memang masih penasaran juga sih. Secara baru baca satu buku ini. Hehehe
 

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)