Kamis, 07 Januari 2016

[Review] Not A Perfect Wedding




Judul : Not A Perfect Wedding
Pengarang : Asri Tahir
Editor : Afrianty P. Pardede
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal : 356 Halaman
Tahun Terbit : Cetakan I, 2015
Kategori : Dewasa Muda, Domestic Romance, Le Mariage
Harga : Rp. 58.800,-
ISBN : 978-602-02-5897-3
Ratingku : 3/5
Bisa dibeli di bukupediacom

Raina dan Raka adalah sepasang kekasih yang akan segera melangsungkan janji suci pernikahan setelah 2 tahun kebersamaan mereka berdua. Raina masih tidak percaya bahwa besok ia akan menjadi istri Raka. Lelaki yang selama ini selalu ada di hidupnya. Bersama-sama mereka berdua merencanakan segalanya. Namun semua itu harus kandas ketika Raka mengalami kecelakaan lalu lintas. Raina yang tidak tahu menahu tentang kecelakaan Raka tetap pada keyakinannya bahwa besok tetap menjadi hari yang sakral baginya. Sampai ia mendengar keanehan ketika upacara ijab kabul berlangsung. Yang Raina dengar adalah nama calon suaminya bukanlah Prakarsa Dwi Rahardi melainkan Pramudya Eka Rahardi.
Tentunya Raina merasa bingung dan tidak tahu harus melakukan apa ketika secara resmi ia menjadi istri lelaki lain. Raina butuh penjelasan. Raina tidak mau hidup dengan lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan Raina belum mengenal lelaki tersebut. Raina baru bertemu kakak Raka, Pram, beberapa jam sebelum pernikahan. Semuanya terasa tidak masuk akal bagi Raina. Raina harus tahu apa yang terjadi pada Raka. Mengapa suaminya adalah kakak Raka. Kenapa Raka tega menghilang begitu saja?

***********************

“Raina marah. Marah pada keluarganya yang menyembunyikan rahasia ini. Marah pada Pram yang sudah menjadi suaminya dan marah kepada dirinya sendiri. Harusnya dia sadar, kecelakaan di jalan tol itu kecelakaan serius. Harusnya dia bisa lebih berusaha untuk datang ke rumah sakit tempat Raka dirawat.” (P.44)

Hal pertama yang ada di pikiran saya adalah sama seperti Raina, tidak masuk akal. Bisa-bisanya Pram mau menggantikan adiknya menjadi suami Raina. Saya punya keyakinan bahwa pernikahan adalah hal yang bukan main-main. Ketika Pram dengan penuh keyakinan dan menerima amanat adiknya yang telah meninggal terasa sangat mustahil. Saya pun paham perasaan Raina yang terpukul dan marah kepada keluarganya. Jelas-jelas kakak Raka adalah orang asing bagi Raina. Bagaimana Raina harus bersikap pada pernikahannya?
Saya suka sekali pemilihan alur cepat yang dipilih penulis. Hal ini mengakibatkan cerita tidak terlalu bertele-tele dan langsung pada bagian setelah pernikahan Raina dan Pram. Sebelum membaca buku ini saya sempat mendapat bocoran mengenai isi cerita buku ini. Jujur saya pun menjadi tidak punya ekspektasi besar mengenai buku ini. Dan sungguh menjadi kejutan ketika saya menikmati setiap bab yang ada pada buku ini.
Saya suka bagaimana penulis menggambarkan kekalutan Raina. Semua itu terasa nyata. Semua hal yang dilakukan Raina itu memang akan terjadi juga ketika mengalami hal yang menimpa Raina. Bagaimana sakitnya Raina ketika calon suaminya tewas dalam kecelakaan. Dan belum mulai berduka pun pikiran Raina harus bercabang ketika dihadapkan kenyataan bahwa statusnya sekarang adalah istri Pram.

Please, say something .....
“Kamu tahu kita bisa menangis bersama kalau kamu mau.”
Tapi saya nggak akan melakukan itu. Karena saya di sini buat jaga kamu. Saya nggak akan minta kamu ngelupain Raka tapi sekali ini dengarkan saya, hidup kamu harus terus berjalan.” (Pram-p.45)

Saya sih awalnya mengira Pram akan menjadi sosok suami yang menyebalkan. Suami yang karena terpaksa menjalani pernikahan demi janji yang ia berikan pada sang adik. Pram akan menjadi suami yang dingin dan tidak pernah akan berusaha untuk jatuh cinta kepada Raina. Tapi semuanya salah ketika saya tahu bahwa Pram berusaha. Ia berusaha sebaik mungkin dengan peran yang sudah diambilnya. Pram tidak pernah menyerah pada takdirnya. Baik Raina dan Pram saling berusaha untuk mencoba pernikahan mereka berdua yang tidak masuk akal ini.

“Ini salah, Pram. Aku mohon, kamu sudah terjebak disini. Kita tidak saling mencintai dan nggak akan pernah mencintai satu sama lain. Jangan merasa terbebani atas kesedihanku. “ (Raina-p.87)

Dan buku ini benar-benar sebagai awal yang bagus bagi saya yang benar-benar sangat tidak menyukai tema domestic romance. Selain gaya bahasa yang dipakai penulis memang bagus, alur cerita yang dipilih penulis pun sangat saya sukai. Saya suka dengan semua isi cerita buku ini. Bagaimana cara Raina berdamai dengan hatinya dan bagaimana Pram berdamai dengan masa lalunya. Semuanya terasa natural dan tidak terkesan buru-buru ketika mereka berdua menyadari arti keberadaan masing-masing dan percaya pada takdir yang telah memilih mereka berdua.
Yang menjadi ganjalan saya adalah pemilihan kata ‘acuh’. Setahu saya acuh itu mempunyai arti peduli. Dan sering sekali penulis menyalahartikan bahwa acuh itu artinya tidak peduli. Dua kali saya nemu penggunaan kata acuh yang salah dan dengan editor yang sama pula. Pertama di buku ini dan yang kedua di buku Morning Breeze. Saya jadi punya prasangka buruk apakah editornya benar-benar teledor apa kecerobohan semata. Saya sangat tidak menyukai prasangka buruk saya ini. Padahal saya kan ingin sekali selalu berprasangka baik kepada siapa pun. Tolong untuk penerbit Elex hal seperti ini harus lebih diteliti lagi.
“Raina langsung mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan dan membawanya ke dapur. Dia benar-benar mengacuhkan keberadaan Pram. Tidak ada rasa marah dalam hatinya pada suaminya itu, sekarang dia sudah memasrahkan semuanya. Biduk rumah tangganya ada di tangan Pram, tugasnya hanyalaj mengikuti. (P.164)

Dan walaupun saya masih belum merasa bahwa novel ini spesial dan masih termasuk dalam kadar lumayan, buku ini menjadi landasan saya bahwa ada novel domestic romance yang memang bagus. Good job! Novel ini direkomendasikan untuk semua kalangan pencinta romance. Sangat cocok bagi siapa pun yang menginginkan bacaan ringan. Selamat membaca. :)

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)