Senin, 13 April 2015

[Review] Fool For Love

Judul : Terjerat Cinta  
Judul Asli : Fool For Love (Duchess Quartet #2)
Pengarang : Eliosa James
Penerjemah : Diba Aep Basar
Penerbit : Dastan Books
Tebal : 492 Halaman
Tahun Terbit : Cetakan I, April 2011
Kategori : Fiksi, Dewasa, Historical Romance
Status Buku : Punya (Beli Kolpri)
ISBN : 978-602-8723-87-9
Ratingku : 5/5


Rasanya sudah lama sekali ketika menutup halaman terakhir novel yang dibaca dengan perasaan bahagia, senang dan berbunga-bunga. Salah satu alasan saya menyukai novel romance adalah ini. Persaan bahagia, senang dan berbunga-bunga. Walau tidak semua buku memiliki efek yang sama, tentu saja. Bisa dibilang buku ini akan menjadi buku terbaik di tahun 2015 yang saya baca, untuk saat ini.
---------------------------------------------------------------
Cerita dibuka dengan kegelisahan Simon Darby ketika mengetahui bahwa istri pamannya yang sudah meninggal sedang mengandung. Tentu saja hal ini menjadi ancaman bagi Simon. Alasan yang jelas ketika sang bayi lahir dengan jenis kelamin laki-laki, gelar yang diwariskan Simon terancam terlepas dari genggamannya. Demi menegaskan bahwa bayi yang dikandung bibinya adalah anak dari pamannya, Simon mengunjungi Lady Esme. Tanpa diduga Simon bertemu dengan seorang gadis yang dikira pengasuh anak yang dipilih untuk mengasuh adik-adiknya, Lady Henrietta.
Simon merasa tepat baginya jika melamar Lady Henrietta. Seorang istri dengan mas kawin sekaligus pengasuh anak. Satu paket yang dicari oleh Simon. Hanya saja sesuatu dari Lady Henrietta yang tidak diketahui oleh Simon. Kenyataan bahwa Lady Henrietta tidak bisa mempunyai anak mengguncang Simon. Bukan berarti Simon mengingikan seorang anak setelah mengetahui kerepotan dalam mengasuh adik-adiknya.

“Mereka berkata bahwa kau tidak akan menikah, Henrietta. Kau sekarang sudah menikah. Mereka berkata bahwa kau tidak akan berdansa dan kita sekarang sedang berdansa ….” (p.468)
Aku. Sangat. Suka. Sekali. Cerita tentang Simon dan Henrietta ini. Pertemuan awal mereka lumayan tidak biasa dengan Simon yang mengira bahwa Henrietta seorang pengasuh bukan Lady. Tentu saja bagi Simon yang seandainya hidup di zaman modern sebagai pria metroseksual, gaun yang dikenakan Henrietta terlalu biasa untuk ukuran seorang Lady. Interaksi mereka berdua pun sangat kusukai dengan sedikit demi sedikit Simon yang tertarik pada Henrietta dan memutuskan untuk menikahi Henrietta. Walau tentu saja saya pun ikut merasa kesal seperti Henrietta keputusan Simon dalam membatalkan niatnya hanya karena tidak bisa berhubungan badan dengan Henrietta. Well, mau tidak mau saya pun turut prihatin pada Simon yang memikirkan masa depannya tidak akan pernah bisa menyentuh istrinya. Dan seperti biasa kebiasaan EJ dalam menonjolkan karakter sampingan dalam buku ini. Namun, saya merasa puas karena walaupun Esme mempunyai porsi sendiri dalam buku ini, keterlibatan Esme dalam menjebak Simon untuk menikahi Henrietta patut diacungi jempol. Suka sekali dengan sentuhan terakhir yang diberikan Henrietta dalam penutupan jebakannya untuk Simon. Membuat saya tertawa ngakak dan bahagia xD
Kehidupan pernikahan Simon dan Henrietta memang rawan karena kekhawatiran Henrietta seandainya mengandung Henrietta akan bernasib sama seperti ibunya yang meninggal karena melahirkan dirinya. Jujur saya sangat menyukai bed scene Simon dan Henrietta. Malam pertama mereka begitu manis dan membuat saya lumayan terhibur karena Henrietta sudah dicecoki bahwa yang harus dilakukan Henrietta hanyalah berbaring dan biarkan sang suami yang melakukan semua. Kepolosan Henrietta inilah yang membuat saya terhibur. Walau mereka tidak melakukannya secara hot, tapi kebersamaan mereka sangat terasa dan membuat saya iri kepada Henrietta karena mempunyai suami yang sebaik dan seganteng Henrietta. lol
Sebenarnya tidak terlalu banyak konflik dalam buku ini. Tetapi saya selalu suka dengan sebuah cerita yang berawal dari pendekatan kemudian pernikahan dan berlanjut dengan kehidupan setelah pernikahan. Semua terasa komplit jika satu paket itu ada dalam satu buku. Suka sekali ketika Henrietta positif hamil. Mereka berdua yang sudah berhati-hati memakai pelindung tidak dapat melepas kenyataan bahwa Henrietta hamil. Dilemma yang dirasakan Simon begitu terlihat jelas dan saya pun seperti Simon lebih memilih Henrietta hidup daripada Henrietta mati.
“… Tapi wanita itu mencintainya, jadi ia tidak mengatakan apa-apa tentang tingkah anehnya.” (p.474)
Dan, setelah menamatkan buku ini rasanya saya susah sekali untuk move on dari tulisan EJ. Berhari-hari yang saya lakukan hanya melamun. Yang saya inginkan hanya satu, membaca buku EJ yang lainnya. Tidak mau membaca buku dari penulis lainnya. Untungnya, atau lebih disebut celakahlah saya yang lagi-lagi tidak bisa mengekang diri untuk belanja buku! OTL

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)