Sabtu, 29 Oktober 2016

[Review] Insecure

0



Judul Buku : Insecure
Penulis : Seplia
Penerbit : GPU
Tebal : 240 Halaman
Terbit : Mei 2016
Bisa dibaca secara gratis di aplikasi perpus online iKaltim

- Zee -
Jangan menatap luka dan memar di tubuhku. Jangan berani bertanya apa yang terjadi. Menjauh saja dariku. Hanya dengan begitu, aku merasa aman.
- Sam -
Meski orang lain menganggap otak gue nggak guna, setidaknya tubuh gue selalu siap menjadi tameng untuk melindungi orang-orang yang gue sayang.
Buat gue, itu lebih dari sekadar berguna!
Zee Rasyid dan Sam Alqori satu bangku di tahun terakhir SMA mereka. Sikap Zee yang tertutup perlahan melunak dengan kehangatan yang ditawarkan Sam.
Apalagi ketika Zee melihat kondisi keluarga Sam yang sederhana, berbeda jauh dari kehidupannya dengan sang mama.
Pelan-pelan kedekatan Zee dan Sam membuat kepribadian masing-masing berubah. Hidup yang mereka jalani tak lagi terasa aman.

******

Beberapa teman blogger menyukai buku ini karena walau novel teenlit tapi tema yang diangkat begitu tabu menjadikan banyak yang bilang novel ini tidak biasa. Saya pribadi ikut penasaran. Tema kekerasaan memang sangat jarang dipakai. Apa lagi dalam novel ini yang melakukan kekerasan adalah seorang wanita. Menjadikan novel ini mungkin sedikit berbeda.
Saya tidak pernah menyangka bahwa yang memukuli Zee Rasyid adalah ibunya sendiri. Saya pikir seperti kebanyakan, yang melalukan kekerasan adalah seorang pria. Zee yang sudah jelas tersakiti justru selalu membela ibunya. Setiap kali Guru BP di sekolahnya mencoba menyelamatkan dirinya Zee langsung bersikap dingin dan tak peduli. Zee selalu bilang memar-memar yang didapatkannya hanya dari luka akibat dirinya yang ceroboh terjatuh ketika mandi. Padahal bukan itu yang terjadi. Zee terlalu mencintai ibunya. Zee sadar bahwa setelah ayahnya meninggalkan ibu dan dirinya. Yang dipunya Zee hanyalah ibunya seorang. Makanya selama ini Zee mau bertahan.
Awalnya Zee akan terus tutup mulut mengenai prilaku ibunya. Namun, kedekatannya dengan Sam Alqori membuatnya sadar kalau bukan hanya dirinya yang perlu bantuan. Ibunya pun perlu bantuan agar dirinya bisa kembali hidup normal bersama ibu yang sangat dia cintainya.
Sesungguhnya saya kurang begitu menyukai cerita Zee dan Sam. Entahlah. Seperti ada hal-hal yang kurang. Awal yang kurasakan itu adalah saya kurang menyukai gaya bahasa penulis. Ada beberapa kalimat yang saya anggap kurang pas dan aneh. Setelah itu saya baru tahu kalau penulis tinggal di luar Jawa. Ada beberapa kalimat yang saya pikir kemungkinan terbawa-bawa dengan logat bahasa ibu penulis. 
Walau begitu saya semakin tahu alasan kenapa korban kekerasan susah untuk buka mulut walaupun selalu tersakiti. Karena pelaku adalah orang yang sangat kita kasihi hingga membuat kita menutup mata. Dan selalu ada ketakutan dalam diri korban akan seperti apa nantinya jika sang pelaku di penjara. Akan seperi apa hidupnya nanti. Ketakutan tidak akan bisa menghidupi dirinya sendiri. Padahal jelas cepat atau lambat ketik kita selalu babak belur disakiti hanya kematian yang akan menunggu. Zee selalu merasa bisa memaafkan semua kekerasan yang dilakukan ibunya. Menyalahkan diri sendiri yang tidak cukup baik untuk ibunya. Berusaha hati-hati untuk selalu menyenangkan hati ibunya. Walau usahanya tidak pernah berhasil. Zee selalu menjadi korban yang tersakiti.
Berkali-kali pun saya disuguhkan kekerasan yang dilakukan ibu Zee. Membenci kenapa bisa seorang ibu memukul anaknya. Yang bisa saya pikirkan hanya ibu Zee tidak waras, sakit.
Namun, saya agak sedikit lega dengan akhir yang disuguhkan penulis. Apa yang dilakukan ibu Zee dengan menyakiti anaknya memang sangat tidak termaafkan. Saya bertanya-tanya akan bagaimana nasib ibu Zee nantinya. Dan saya cukup semua keputusan yang diambil penulis.
Well, bacaan yang sangat menginspirasi bagi saya. Tentang remaja yang awalnya hanya pasrah dengan segala kekerasaan yang dilakukan oleh orangtuanya. Tentang seorang remaja yang peduli ketika melihat orang terkasih disakiti. Recomended. Selamat membaca.

[Review] Mimpi Padma

1



Judul: Mimpi Padma
Penulis: Ayu Dipta Kirana
Penyunting: Dila Maretihaqsari
Penerbit: Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)
Terbit: Agustus 2014
Tebal: vi + 198 hlm
ISBN: 9786021383087

Aku yakin, sosok di hadapanku ini bukan manusia! Tubuhnya tinggi besar, rahang bawahnya tampak ganjil dan menonjol, taring-taring besar dan runcing mencuat dari mulutnya. Matanya merahnya menyalak penuh amarah. Seluruh tubuhku gemetar. Bajuku basah keringat.
Kucengkeram tangan laki-laki di sebelahku yang mulai bergelagat aneh. Jangan-jangan dia juga bukan manusia?
Arggh!
Kudengar raungan kemarahan dari sekumpulan makhluk halus yang mengepung kami. Hal terakhir yang kulihat adalah tangan dengan kuku-kuku panjang dan tajam terangkat siap mencabik!

*****

Aaarghhh....
Saya sama sekali nggak pernah menyangka akan jatuh cinta dengan novel ini. Bisa dibilang buku ini adalah buku terbaik yang saya baca tahun ini.
Cerita buku ini cukup sederhana sebenarnya. Semua cerita bermula dari mimpi-mimpi Padma yang mulai menghantuinya setelah kematian ayahnya. Mimpinya berlanjut tidak hanya kemunculan sang ayah melainkan seorang Haga yang memakai baju Jawa Kuno.
Haga adalah asisten dosen mata kuliah Purbakala Klasik Hindu-Budha, seorang lelaki bermata sendu yang mencuri hati Padma. Sejak mengikuti mata kuliah yang sudah diikutinya selama tiga kali, Padma mulai merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Haga Bandawasa. Akhirnya Padma mengizinkan pintu hatinya terbuka jika lelaki itu adalah Haga. Kedekatan mereka berdua semakin erat saat sama-sama mengerjakan proyek pemotretan keramik yang digawangi oleh Mas Jarwo, salah satu dosen Padma.
Hingga kemunculan suatu makhluk hitam yang mencoba membunuh Padma. Makhluk hitam yang muncul dari hasil temuan yang didapat dari penggalian salah satu dosen Padma. Hubungan Padma dan Haga berubah pesat. Hingga fakta masa lalu Haga berhubungan dengan mimpi Padma.

"Kematian memang mengejutkan. Tapi tidak ada kematian yang terlalu cepat atau terlalu lama. Semua itu sudah diatur oleh Tuhan. Cuma bagi kita - manusia, nggak pernah tahu kapan batas waktunya habis." (Padma)

Well, saya pribadi bukan penggemar maupun anti cerita horor. Tapi karena tuntutan tantangan baca akhirnya saya mulai mencari-cari buku dengan tema horor. Dan beruntungannya saya memilih Mimpi Padma. 
Di awal suasana cerita sudah terkesan suram. Padma yang harus kehilangan ayahnya digambarkan begitu sedih dan masih belum merelakan kenapa ayahnya harus meninggal. Lembar demi lembar halaman pun saya sudah menyiapkan diri untuk bagian kemunculan kehororan di buku ini. Namu , belum juga muncul walaupun saya sudah deg-degan. Membaca novel ini perasaan saya sama seperti dulu menonton film Kuntilanak. Saya pun sudah mewanti-wanti bahwa buku ini memang bertema horor. Dan, saya pun menanti dengan sabar sambil melewati semua fase Padma kehilangan dan jatuh cinta pada dosennya. Mungkin bagi penggemar cerita horor akan merasa bosen. Karena walau bertema horor porsi romens buku ini cukup kuat.
Makanya, dibandingkan rasa takut yang muncul saya lebih deg-degan akan seperti apa hubungan Padma dan Haga nantinya. Hingga bagian horor muncul pun saya merasa itu hanya sebagai tempelan saja. Penulis terlalu fokus dengan masalah Padma. Well, bukannya saya protes justru hal ini yang membuat saya jatuh cinta.
Saya sama sekali tidak pernah menyangka bahwa penulis akan menyelipkan cerita Bandung Bandawasa. Saya dibuat takjub dengan semua twist yang diberikan penulis. Bisa-bisanya penulis memikirkan ide yang secemerlang itu. Semuanya terasa seperti nyata. Penulis dengan mulus membuat cerita terdengar masuk akal. Ah, Padma bisa-bisanya kamu terjebak dalam cerita rakyat yang sangat tersohor itu.

"Tuhan, Padma anak baik-baik. Tolong jangan kirim cobaan lebih berat dari ini semua. Sosok bermuka Haga yang bikin kaki lumer? Ini benar-benar nggak sehat buat jantungku!" (Padma - p 161)

Selain tentu saja saya jatuh cinta sama Haga, saya sangat mencintai tokoh Padma. Karena novel ini menggunakan sudut pandang Padma membuat saya semakin bisa menyelami apa yang dirasakan Padma. Padma memang masih bersih akan kematian ayahnya, tapi dirinya mencoba untuk terus maju. Tidak melulu terpuruk dengan semua kesedihannya. Dan, kekonyolan Padma mampu membuat saya senyum-senyum sendiri.
Ah, rasanya saya sangat tidak rela ketika harus berpisah dengan Padma dan Haga. Saya masih kurang puas dengan akhir yang diberikan penulis. Dan, karena saya membaca buku ini di perpus iJakarta. Saya berharap semoga suatu saat nanti saya bisa punya buku fisik Mimpi Padma. Walau agak susah mengingat buku ini terbitan lama. Well, tidak ada salahnya berharap. 
Bagi yang takut membaca novel horor, tidak ada salahnya untuk mencicipi buku ini. Karena tidak melulu hal-hal horor yang disuguhkan penulis. Selamat membaca.

[Review] Tuhan Untuk Jemima

0



Judul Buku : Tuhan Untuk Jemima
Penulis : Indah Hanaco
Halaman : 312
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Bisa dibaca secara gratis di aplikasi perpus online iJakarta

Jujur, dari awal saya kurang begitu minat membaca novel ini. Hanya karena alasan sepele sebenarnya, saya tidak menyukai judul buku ini. Terkesan sebagai novel religius. Walau aslinya tidak terlalu sih.
Jemima. Gadis yang merasa Tuhan sangat tidak adil ketika dia harus kehilangan saudara perempuan yang sangat dicintainya. Ashlyn yang meninggal karena kecelakaan membuat seluruh keluarga Jemima berubah. Jemima yang merasa kedua orangtuanya lebih mencintai kakaknya mencoba menenangkan diri dengan mengadakan perjalanan ke Selandia Baru. Selain itu Jemima juga ingin mencari Tuhan. Dengan harapan besar Jemima ingin segera bertemu Tuhan. Agar hatinya tenang dan bisa melepas kematian Ash.
Selama di Selandia Baru, Jemima belum bisa menemukan Tuhan yang dia cari. Jemima malah menemukan teman baru. Kenneth. Pemuda aktivis lingkungan yang tergabung dalam Sea World Conservancy yang tidak percaya Tuhan.

*******

Saya cukup menikmati kisah Jemimaa dan Kenneth. Perjalanan dua remaja yang mencari keberadaan Tuhan. Cukup menginspirsi. Terlebih ketika akhirnya keduanya menemukan dimana keberadaan Tuhan yang selama ini mereka cari.
Awalnya saya tidak menyangka konflik kematian Ash akan dibahas lebih dalam oleh penulis. Saya pikir cerita hanya akan berkelumit antara Jemima dan Kenneth saja. Cukup mengejutkan karena saya tidak landa kebosanan ketika satu per satu misteri kematian Ashlyn terungkap. Tapi karena memang bukan buku misteri tidak ada hal-hal yang terlalu mendalam digalih oleh penulis.
Ada hal-hal yang bikin risih saat saya membaca buku ini. Digambarkan oleh penulis bahwa Jemima terlahir dalam keluarga yang memiliki perbedaan agama. Ayahnya beragama Kristen dan Ibunya beragama Islam. Kedua orangtua Jemima menyerahkan secara sepenuhnya masalah agama ini kepada anaknya masing-masing. Sungguh ketika saya membacanya sangat kesal. Kenapa harus ada cerita seperti ini sih? Kenapa perbedaan agama ini harus disebutkan segala? Namun, seiring saya menyelesaikan novel ini saya sedikit mengerti apa yang ingin penulis coba sampaikan. Bahwa tidak baik ketika seorang anak tidak mendapat bimbingan dari orangtua. Dalam hal apa pun. Khususnya agama. Jemima yang masih remaja labil dipusingkan untuk memilih agamanya sendiri. Padahal jika kedua orangtuanya memberi bimbingan Jemima akan lebih terarah. Jemima tidak akan kebingungan. Karena sejatinya memang seorang remaja masih dalam tahap proses pencarian jati diri. Jika tidak mendapat bimbingan yang benar, akan seperti apa jadinya nanti?
Selain itu, saya suka sekali ketika penulis menyisipkan info-info penting mengenai hal-hal yang diharamkan dalam Islam. Di sini penulisan membeberkan dengan baik alasan ilmiah kenapa ada beberapa yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Sangat menambah ilmu. Saya sebagai seorang muslim merasa terpecut ketika baru mengetahui informasi yang harusnya dimiliki oleh semua umat muslim.
Well, saya cukup terhibur setelah menamatkan buku ini. Walau bagian tentang aktivis lingkungan tidak lebih dalam digalih saya cukup menikmati. Novel ini sangat inspiratif. Selamat membaca.

[Review] Flat Shoes Oppa

0



Judul : Flat Shoes Oppa
Penulis: Citra Novy
Tebal: 218 halaman
Terbit: April 2015 (Cetakan Pertama)
Penerbit: Grasindo
Harga: Rp. 47.000
Bisa dibaca secara gratis di aplikasi perpus online iJakarta


"Aku selalu berharap bisa menjadi flat shoes untuk melindungi langkahmu,menyertai langkahmu, mengetahui ketika kakimu berjinjit senang, bahkan ketika kakimu terjatuh dan sakit."
Kau tahu? Hampir setiap gadis yang kutemui mengatakan nyaman jika kakinya berada dalam sepasang flat shoes. Tanpa perlu paksaan untuk bertahan pada hak tinggi.
Melemaskan kaki sesukanya, melangkahkan kaki sekencangnya hingga kau bisa berlari. Dan mulai saat ini, injak flat shoes -mu, buatlah kakimu nyaman melangkah.
Jangan pedulikan dia terinjak, terkotori, berdebu, bahkan rusak. Karena flat shoes -mu adalah aku.
Aku mencintaimu. Ketika pertama aku melihatmu, aku benar-benar merasa bahwa aku mencintaimu. Aku selalu berharap bisa menjadi flat shoes untuk melindungi langkahmu, menyertai setiap langkahmu, mengetahui ketika kakimu berjinjit senang bahkan ketika kakimu terjatuh dan sakit. Semakin aku mencintaimu, aku semakin takut. Aku takut, ketika aku pergi, kau melangkah dengan kaki telanjang. Sesuatu yang tidak aku inginkan adalah... ketika langkahmu menyakiti dirimu sendiri karena aku yang sudah hilang...

*****

Sejujurnya saya jarang banget baca cerita-cerita fanfiction. Malah sepertinya belum pernah. Tidak ada alasan apa pun, hanya belum menarik minat saja.
Dan, bisa dibilang saya tidak tahu kalau buku ini menggunakan nama Cho Kyuhyun-member Super Junior- sebagai pemeran utamanya. Walau di sini Kyuhyun digambarkan sebagai manager sebuah perusahaan. Bukan seorang penyanyi.
Saya kurang bisa menikmati cerita buku ini. Selain karena buku ini terkesan fanfiction, saya merasa cerita yang dipakai kurang masuk akal. Yah, walaupun memang novel sendiri kan cerita fiksi. Hanya saja saya ingin lebih realistis saja.
Saya sangat membenci Hyeon-Mi. Tindakan dia sangat tidak masuk akal ketika dia melakukan segala sesuatu yang pastinya akan membuat dirinya dipecat tapi dengan kebaikan sang manager, Hyeon-Mi tetap dengan segala keberuntungannya. Maksudku hebat banget Hyeon-Mi telat di hari pertama kerja dan dengan penampilan kurang oke malah diizinkan untuk istirahat saja di rumah. Ugh, bikin iri saja. Dunia nyata nggak sebaik itu.
Yah, mungkin karena saya sudah kepalang benci dengan sifat Hyeon-Mi yang seenaknya di awal membuat saya pun kurang semangat membaca sampai akhir. Ada saja kelakuan Hyeon-Mi yang membuat saya tidak suka.
Hal yang semakin membuat saya sebal adalah ketika Kyuhyun menerima dengan segala kelegowoannya semua kelakuan manja Hyeon-Mi. Kisah mereka berdua ini kasih seputar Hyeon-Mi ngambek, Kyuhyun mengalah. Udah sih begitu saja.
Yang sedikit mengejutkan saya mungkin ada di bagian epilognya. Saya lumayan terkejut dengan kenyataan tentang perasaan Hyeon-Mi tentang Kyuhyun. Yah, lumayan sedikit mengobati kekecewaan saya.
Overall, bagi yang saat ini tergila-gila dengan Korea, kemungkinan bakalan sangat menyukai novel ini. Apa lagi yang menjadikan Kyuhyun sebagai biasnya. Well, kamu pastinya wajib baca. Selamat membaca. 

Selasa, 04 Oktober 2016

[Review] Wonderful Life

4



Judul : Wonderful Life
Pengarang : Amalia Prabowo
Tahun Terbit : Cetakan I, April 2015
Penerbit : POP (KPG)
Tebal  : 169 halaman
Kategori : Nonfiksi, pengembangan diri
ISBN : 978-979-91-0854-8
Rating : 4/5
Bisa dibaca secara gratis di aplikasi iJakarta


Sinopsis:

“Sen… dok, Qil.”
“Nes… dok.”
“Sendok....”
“Nesdok....”
Jalan hidup Amalia Prabowo terasa runtuh ketika tahu Aqil, putra sulungnya, menyandang disleksia. Perempuan dengan pendidikan dan karir cemerlang ini harus berlapang dada putranya divonis tak akan mampu meraih prestasi akademis. Aqil tidak hanya kesulitan dalam melafal kata dan merangkai kalimat, tapi juga membaca, menulis, dan berhitung.
Tak mau menyerah pada nasib, Amalia berusaha masuk ke dunia Aqil. Berbekal kesabaran, kemauan untuk mendengar dan memahami, Amalia menemukan dunia yang penuh warna, imajinasi, dan kegembiraan. Dunia yang mengubah secara total kehidupan pribadi dan keluarganya.

Review:

"Lukisan Aqil"


"Namaku Amalia, putri bungsu keluarga ningrat Jawa yang berpendidikan tinggi dan berkecukupan materi. Inilah kisah petualanganku, petualangan hidup jatuh-bangun, petualangan yang indah, petulangan yang "sempurna"." (p.2 - Amalia)


Sejak kecil Amalia diajarkan oleh Ayahnya untuk hidup secara teratur dan terencana. Bagi Amalia semua akan terkendali dengan baik dan sempurna jika segalanya sudah dilakukan secara teratur dan terencana. Tidak ada dalam kamus Amalia yang namanya panik, terburu-buru dalam melakukan apa pun. Semuanya dikerjakan secara rapi dan terkendali.

Begitupun dengan rencana masa depannya. Masuk ke perguruan tinggi pilihan sendiri dengan modal PMDK, begitu lulus menikah dengan seseorang yang dulu pernah dikaguminya. Dan memulai kehidupan keluarga kecilnya di Jakarta.

Semuanya terasa sempurna walau kendala tentu saja ada. Amalia dan suaminya divonis akan kesulitan mendapatkan momongan. Dalam kamus Amalia tidak ada kata menyerah. Amalia muda tidak beranggapan hal itu sebagai kendala. Mereka masih tetap bersama hingga 10 tahun kebersamaan tidak membuat mereka semakin bahagia. Akhirnya Amalia memutuskan untuk berpisah dengan suaminya.

Lantas apa Amalia terpuruk setelah perpisahan dengan suaminya? Tidak. Bagi Amalia hidup tidak berhenti begitu saja bahkan ketika kita sedang bersedih. Amalia semakin memantapkan kakinya di dunia kerja yang digelutinya. 

Setelah 2 tahun fokus dalam karirnya. Dalam kesendiriannya Amalia bertemu dengan pria yang mengenalkan pada dirinya apa sebenarnya arti cinta. Pria yang kemudian menjadi suami keduanya. Pria yang sangat dicintainya. Dari perkawinannya yang kedua ini Amalia dikarunia dua malaikat buah cintanya, Aqil dan Satria.

Kehadiran mereka bertiga menjadikan Amalia sadar bahwa hidupnya selama ini kering-kerontang. Kehadiran mereka menjadi pelangi yang menjadi sumber daya baru bagi Amalia.

Semua rencana sudah ada di kepala Amalia. Kedua putranya harus mendapat pendidikan yang sama seperti dirinya dulu. Namun, rencana manusia hanyalah tinggal rencana ketika berhadapan dengan rencana Sang Kuasa.

"Bukankah jika rencana dijalankan dengan disiplin, seluruh hidup kita bisa sesuai dengan yang diinginkan?" (p.15 - Amalia)

"Aqil"
Sesungguhnya saya baru kali ini membaca buku nonfiksi dengan begitu banyak ilustrasi. Awalnya saya sangat kebingungan tujuan sebenarnya penulis/penerbit menyelipkan ilustrasi-ilustrasi yang begitu unik. Lembar demi lembar saya mulai berprasangka apakah ilustrasi ini bertujuan untuk menguatkan isi tulisan yang disampaikan penulis. Karena jujur saya merasakan emosi yang kuat dari setiap kalimat yan saya baca. Emosi penulis semakin terasa ketika saya memperhatikan tiap ilustrasi yang ada.
Hingga saya dikejutkan pada kenyataan bahwa ilustrasi itu adalah ciptaan Aqil, anak sulung Amalia. Wow, sungguh sangat kreatif. Bocah sekecil itu bisa menciptakan dunia yang sangat unik dan keren. Walau jujur ilustrasi yang dibuat Aqil sangat aneh. Semuanya seperti gambar Alien dan abstrak. Tapi entah mengapa dengan semua ekspresi senyuman di tiap wajah yang diciptakan Aqil, saya merasakan kebahagiaan.

Apa yang ingin disampaikan Amalia dalam buku ini adalah bahwa setiap orang akan menemukan hidupnya sempurna jika mau berdamai dengan kehidupannya. Sebuah pesan sedehana yang terkadang hampir dilupakan oleh semua orang.

Setelah mengetahui Aqil mengidap disleksia, Amalia merasa segala rencana-rencana kecilnya tentang masa depan Aqil hancur sudah. Tidak ada lagi rencana yang sempurna ketika Aqil tidak bisa mengikuti pendidikan dengan baik. Karena disleksia Aqil tidak seperti kebanyakan anak seusianya. Aqil kesulitan dalam membaca, menulis dan berhitung.
Amalia hanya terlalu fokus dengan ketidakbisaan Aqil dalam mengikuti seluruh pelajaran yang ada di sekolah. Puncaknya ketika Aqil disuruh untuk homeschooling daripada sekolah di sekolah konvensional.

Saya pribadi mungkin akan bereaksi sama seperti Amalia. Orangtua mana yang tidak ingin anaknya tumbuh dengan baik. Bisa mengikuti semua pelajaran selayaknya anak-anak normal seusia Aqil. Butuh perjuangan bagi Amalia untuk menyakinkan dirinya.  Menerima kenyataan anaknya mengidap disleksia. Hingga percakapan kecilnya dengan Aqil mengubah seluruh pandangan Amalia.

"Apa yang membuatku melangkah dengan ringan dan penuh cinta? Perubahan cara pandang." (p.121 - Amalia)

Banyak sekali yang akan kita dapatkan setelah membaca buku ini. Dari keluarga kecil Amalia kita akan tahu apa itu sebuah perjuangan, hidup yang sempurna dan normal dan cara pandang kita dalam menjalani kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan YME.
Buku yang sangat bagus dan menginspirasi. Membuat kita tidak akan pernah menyerah.

"When you have a lot of problems to deal with. It is easy to convince yourself that you are the unhappiest person in the world." (Anonim)
"Keluarga Kecil Amalia"

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com