Senin, 31 Oktober 2016

[Review] Denting Lara



Judul Buku : Denting Lara
Penulis : K. Fischer
Penerbit : Bhuana Sastra (BIP)
Tebal : 334 Halaman
Tahun Terbit : Januari 2015
Bisa dibaca secara gratis melalui aplikasi iJakarta


Esa tinggal hanya dengan ibu dan pengasuhnya dari kecil. Ibunya yang hanya memikirkan dirinya sendiri, membuat Esa tak merasakan kasih sayang.
Terlebih, ayahnya menikah lagi dengan wanita yang tak menginginkan "boncengan" dari suami barunya.
Di sekolah, karena beberapa kali menolak untuk diajak clubbing, Esa kehilangan sahabatnya Ia bahkan dijauhi teman-teman satu sekolah.
Saat Esa merasa sendirian, sosok Erik datang menemani hari-hari Esa. Dengan Erik, Esa menemukan jati dirinya. Namun saat Esa mulai mencintai Erik, ibunya malah melakukan hal di luar dugaannya. Keadaan semakin parah ketika ayahnya tahu Esa menjalin hubungan dengan lelaki yang berusia nyaris dua kali umur anaknya.

********

Ya ampun baca cerita buku ini beneran bin baper. Jadi iri sama Esa yang punya cowok seperti Erik. xp
Esa adalah gadis yang tinggal dengan ibunya setelah kedua orangtuanya bercerai. Sayangnya ibunya lebih memilih peduli pada pacar-pacarnya ketimbang dirinya. Esa yang harusnya seperti remaja kebanyakan malah disibukkan dengan pikiran uang belanja dan gaji untuk Bi Titin, pembantunya. Sedang ayahnya sama sekali tidak mau tahu keadaan Esa hanya karena kewajibannya memberi uang sudah gugur. Ayahnya hanya tahu Esa hanya cukup dikasih materi, tidak lebih.
Masalah Esa tidak cukup sampai di situ, selain rumahnya yang kacau Esa harus menerima kenyataan dijauhi oleh teman-teman di sekolahnya. Bahkan sahabatnya sendiri tega meninggalkan Esa. Esa berkali-kali bilang pada dirinya untuk tidak peduli. Tapi Esa hanyalah remaja biasa. Semua Esa curahkan perasaannya pada kontrabas kesayangannya. Dia bisa mengeluarkan semua kesedihannya ketika bermain kontrabas. Esa tidak tahu suara kontrabasnya terdengar oleh penyewa paviliuan di sebelah rumahnya. Dari sanalah Esa kemudian menemukan seseorang yang peduli pada dirinya. Erik yang benar-benar melihat dirinya. Erik yang perhatian.
Namun, sayangnya usia mereka berdua terpaut jauh. Bisa apa Esa ketika dirinya adalah remaja biasa? Sedangkan Erik jauh lebih tua dari dirinya.
Ah, lagi-lagi saya harus begadang hanya demi mengetahui akhir suatu cerita. Padahal saat ini saya mulai berjanji untuk tidak begadang lagi. Namun, kegagalan selalu terjadi ketika berjumpa dengan cerita yang bagus.
Saya salut pada Esa. Tidak mudah bagi remaja seperti Esa untuk bisa bertahan. Punya orangtua yang tidak memedulikannya, selalu bertindak seenaknya? Ugh, kadang kenyataan tidak punya orangtua malah lebih baik. Namun, Erik selalu memberi tahu Esa untuk jangan pernah menyerah pada orangtua Esa. Karena di masa depan hanya akan ada penyesalan. Walau hubungan mereka pada akhirnya tidak mendapat restu. Esa berusaha tegar.
Yah, cukup wajar ketika usia Erik yang 34 tahun bersanding dengan Esa yang 17 tahun. Orangtua mana yang tidak khawatir. Atau merujuk seperti yang Esa orangtua mana yang sok khawatir pada anaknya. Saya pribadi kurang suka dengan perbedaan usia mereka. Yah, alasan klise sih karena saya lebih suka lelakinya yang berondong. xp
Overall, buku yang bagus untuk dinikmati. Selamat membaca.

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)