Minggu, 31 Juli 2016

[Review] Katarsis



Judul : Katarsis
Pengarang : Anastasia Aemilia
Tahun Terbit : Cetakan I, April 2013
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 264 hal
Kategori : Romance, Young Adult, Thriller
Harga : Rp. 45.000,-
ISBN : 978-979-22-9466-8
Rating : 3/5
Bisa dibaca secara gratis melalui aplikasi @iJakarta

            Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun, menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung. Ketika ditemukan dia disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.
Sebagai psikiater, Alfons berusaha membantu Tara lepas dari traumanya. Meski dia tahu itu tidak mudah. Ada sesuatu dalam masa lalu Tara yang disembunyikan gadis itu dengan sangat rapat. Namun, sebelum hal itu terpecahkan, muncul Ello, pria teman masa kecil Tara yang mengusik usaha Alfons.
Dan bersamaan dengan kemunculan Ello, polisi dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu seperti yang dipakai untuk menyekap Tara. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?

********

            Gila, itulah kesan saya membaca novel ini. Bisa dibilang novel ini adalah novel tentang tokoh utama yang sakit pertama saya baca. Dari awal saya selalu menyangka karakter Tara Johandi adalah korban. Tapi setelah membaca novel ini sampai selesai saya menjadi tahu bahwa Tara Johandi adalah lebih dari korban.
            Novel ini dibuka dengan Tara yang ditemukan setengah gila pasca pembuhan yang menimpa keluarganya. Hanya Tara dan pamannya, Ardi yang selamat. Bibi dan sepupunya tidak tertolong. Apa lagi pembunuhan keji yang menimpa sepupu Tara. Walau Tara dan pamannya ditemukan dalam keadaan hidup, keadaan keduanya nyaris kehilangan nyawa.
            Paman Tara yang koma, dan Tara yang dikurung di Rumah Sakit Jiwa. Setelah kejadian pembunuhan itu Tara mengalami halusinasi-halusinasi. Psikiater yang menangani Tara adalah dr. Alfons. Alfons begitu sabar dalam menangani Tara. Sampai akhirnya pihak RSJ melepas Tara dan demi perlindungan karena sudah tidak mempunyai keluarga lagi Tara tinggal di rumah Alfons. Sayangnya, serangkaian pembunuhan yang menimpa Tara tidak berakhir begitu saja. Peristiwa pembunuhan tidak pernah berhenti. Walau Tara sudah semakin sehat dan mulai menjalin hubungan dengan lawan jenis, Ello.
            Ok, ide penulis sangat saya sukai. Karena novel ini menyuguhkan sesuatu yang lain. Tentang pembunuhan mengerikan yang menimpa keluarga Tara. Saya dibuat penasaran dengan semuanya. Dan, bertanya-tanya siapa yang tega melakukan semua itu. Hingga dikejutkan dengan pemaparan masa lalu Tara. Buku ini menggunakan alur maju-mundur. Lewat alur ini lah diceritakan bahwa Tara adalah seorang gadis yang tidak biasa. Tara kecil sudah menunjukkan sifat yang lain dari pada anak seusianya sendiri. Tara kecil tidak pernah menyukai nama pemberian orangtuanya, menyukai aliran dan bau darah.
            Saya selalu bertanya-tanya sebenarnya Tara ini kenapa. Apa sebenarnya penyebab segala hal-hal kejam yang dilakukan Tara. Penulis tidak pernah membeberkan alasan-alasan Tara. Seolah-olah Tara memang sudah terlahir seperti itu. Atau memang Tara seperti anggapan orangtuanya bahwa Tara dirasuki oleh iblis jahat. Makanya novel ini pun diberi judul Katarsis. Entahlah.
            Dan, hal mengganjal lagi dalam diri saya adalah ketika Alfons dengan semena-mena mendiagnosis Tara sembuh dan memilih untuk menjadi wali Tara. Saya merasa kenapa Tara begitu gampangnya dibilang sembuh. Padahal menurutku nggak semudah itu untuk bilang Tara sembuh. Yah, saya memang bukan orang medis jadi kemampuan saya pun datar.
            Akan lebih masuk akal ketika terungkap bahwa sebenarnya dr. Alfons tertarik pada Tara. Tara digambarkan sebagai gadis yang pendiam dan cantik. Walau memang alasan yang lemah. Saya lebih setuju Tara pacaran dengan dr. Alfons. Daripada dengan Ello. Lelaki yang tidak sengaja dikenal Tara. Karakter yang sangat berpengaruh pada Tara baik masa lalu maupun masa kini.
            Dan, seperti ada yang bilang walau novel ini seru dan bagus banyak sekali hal-hal yang belum terjawab. Apa lagi dengan akhir yang dipaksakan seperti itu semakin membuat saya penasaran dan menginginkan sekuel novel ini.
            Dan, terakhir tidak lupa saya ingn merekomendasikan novel ini. Yang suka cerita berbau ketegangan novel ini menjadi pilihan yang tepat. Selamat membaca.

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)