Kamis, 31 Maret 2016

[Review] L

Judul : L
Pengarang : Kristy Nelwan
Tahun Terbit : Cetakan I, Agustus 2008 ; Cetakan IV, April 2012
Penerbit : PT Grasindo
Jumlah Halaman : 344 hal
Kategori : Romance, Religius,
Harga : Rp. 77.000,-
ISBN : 978-979-025-417-6
Rating : 4/5

            Ava Torino merasa bahwa jatuh cinta sungguh khas sinetron banget. Dan memutuskan untuk tidak akan pernah jatuh cinta. Sehingga dengan lancarnya dia punya ide gila untuk mempunyai pacar dengan nama sesuai alphabet. Ide yang super gila. Semakin gila keadaannya ketik selama 6 tahun terakhir Ava sudah mendapatkan semua nama-nama pacar sesuai huruf alphabet, kecuali huruf L yang kelewat susah bagi Ava.
            Pencarian pacar dengan nama huruf L ini mempertemukan Ava dengan Ludi. Dasar Ava yang tidak suka menunda, Ava langsung menyambar Ludi dan memproklamirkan hubungan mereka berdua pada teman-teman Ava. Teman-teman Ava hanya bisa takjub dengan kelakuan Ava ini. Dan sempat bertanya-tanya kapan Ava bisa jatuh cinta.
            Hingga semesta mempertemukan Ava dengan pria bernama Rei. Satu-satunya pria yang membuat Ava nyaman dan bisa merasakan apa itu cinta sebenarnya. Tapi, mengapa nama pria itu harus dimulai dengan huruf “R” baik Ava maupun teman-temannya sangat berharap nama Rei dimulai dengan huruf L.



************

            Aaaaarggggggghhhh!!!!! Buku ini bener-bener sukses bikin saya jejeritan! Suka sekali dengan buku ini. Suka sekali dengan Ava Torino. Suka sekali dengan Rei. Suka sekali dengan endingnya walau ....... Pokoknya bagi saya buku ini super sekali. Dan izinkan sekali ini saya membuat spoiler baik itu sengaja atau bukan. Saya benar-benar bisa gila seandainya tidak mencurahkan perasaan lewat tulisan mengenai novel ini! Ok, pardon me seandainya super lebay sekali. Tapi, seriusan, buku ini sangat bagus, seandainya punya buku fisiknya kepengin meluk kenceng-kenceng dan nggak mau pisah sama tokoh Ava dan Rei. So, bisa dipastikan buku ini adalah buku terbaik selama 3 bulan pertama di tahun 2016 yang sudah saya baca!
            Ok, mari kita bahas ceritanya sendiri. Ava Torino digambarkan sebagai wanita dewasa berumur 25 tahun yang nyentrik, percaya diri, mapan dan cantik. Semuanya ada di diri Ava. Ava memulai sebuah ide gila ketika masih kuliah dulu, yaitu ingin punya pacar dengan nama sesuai urutan alphabet. Sinting, kan?    Idenya bener-bener fresh. Gila saja, setahun bisa punya pacar berapa tuh? Karena Ava kurang satu lagi pacar dengan huruf L. Huruf keramat bagi Ava.
            Ava bertemu dengan Rei di warung nasi goreng ketika Ava liburan ke Yogyakarta dengan teman-teman kantornya. Mereka berdua terlibat obrolan sambil menikmati rokok dan Rei merasa Ava ini sangat gila dengan gagasan pacar alpabetnya. Dan, setelah pertemuan mereka berdua Ava bertemu dengan lelaki dengan hurur keramat L, Ludi. Tanpa ragu, Ava pacaran dong dengan Ludi. Ava ini sebenarnya tipe easy going jadi yah Ava selalu menanggapi hidup dengan santai. Dia merasa mapan, punya pacar mapan juga, orang-orang di sekitarnya rebut mengenai dirinya kapan nikah. Akhirnya tanpa ragu Ava pun menerima pinangan Ludi.
            Dan, seakan semesta mempermainkan dirinya, Ava bertemu lagi dengan Rei. Ava bertemu Rei di tempat kerja baru yang Ava lamar. Dimulailah hari-hari kebersamaan mereka. Ava tidak pernah jatuh cinta. Bagi Ava cinta itu sinetron. Lalu disebut apa perasaan nyamannya ketika berada di dekat Rei?
            Sudah bisa dipastikan saya sangat jatuh cinta dengan tokoh Rei. Semua obrolan yang keluar dari mulut Rei itu nyenengin banget bacanya. Keusilan dia pada Ava bener-bener bikin saya senyum-senyum sendiri bahkan jejeritan xD. Pokoknya Rei is the best, lah! Saya sudah menduga-duga pasti Ava bakalan batal tunangan, secara sudah dipastikan cintanya hanya untuk Rei. Tapi ...... kejutan yang diberikan oleh penulis mengenai nasib Rei ini bener-bener bikin saya sakit hati. Saya langsung lemes begitu tahu akan seperti apa nasib Rei nanti. Dan, super kesel dong, ya. Saya selalu mengulang-ulang : Kenapa nama Rei bukan dari huruf L, sih?
            Saya bukan menentang buku rohani atau apa pun. Tapi, ketika baca novel saya memang lebih menyukai bahwa sudah deh tokoh-tokohnya tidak perlu diberi label agama. Dan, saya lumayan syok ketika diberitahu bahwa Ava beragama Islam dan Rei beragama Kristen. Makin membuat saya lemes. Kenapa pula sih ada unsur beda agama begini? Dan seperti yang Mas Ijul bilang di reviewnya, penulis terlalu mejatuhkan citra agama Islam. Ava doyan mabuk-mabukan. Sedang Rei adalah pemuda Kristen yang taat. See? Saya sih punya dugaan, apa karena penulis beragama Kristen jadi condong ke Rei? Entahlah. Yang pasti saya sangat tidak menyukai ide kemunculan label agama ini.
            Well, masalah agama biarlah jadi tempelan bagi saya. Karena saya kadung jatuh cinta pada tokoh Rei. Dan akhir buku ini membuat saya benar-benar puas dan treyuh. Dan kejutan manis yang diberikan penulis mengabulkan permintaan saya bahwa Rei itu .... Ah, Rei. Rasa-rasanya saya akan selalu kangen sama kamu. xD

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)