Selasa, 28 Juli 2015

[Review] Wallbanger





Judul : Wallbanger (Cocktail #1)
Pengarang : Alice Clayton
Penerjemah : Yunita
Penerbit : Elex Media Komputindo 
Tebal : 600 Halaman
Tahun Terbit : Cetakan I, 2013
Kategori : Fiksi, Dewasa, Contemporary Romance, Komedi
Harga : Rp. 74.800,-
ISBN : 978-602-02-2987-4
Ratingku : 5/5
Bisa dibeli di bukupediacom


Sinopsis
Caroline Reynolds mengalami insomnia gara-gara ulah tetangga apartemen barunya. Tiga hari berturut-turut Caroline tidak bisa menikmati indahnya tidur di apartemen baru gara-gara seseorang memukul tembok kamarnya. Tiap malam Caroline terbangun gara-gara mendengar suara-suara dari kamar tetangganya. Dan benturan-benturan di temboknya yang mengakibatkan guncangan pada ranjangnya. Sungguh malang sang tembok yang begitu tipis hingga aktivitas kedua belah pihak terdengar satu sama lain.
Sang tetangga yang tidak malu-malu dalam melakukan aktivitas malamnya dan tanpa sadar telah mengganggu aktivitas tidur Caroline. Bukan hanya suara-suara saat mereka mencapai kenikmatan yang terdengar oleh Caroline, sang pria bahkan sampai membenturkan tembok yang terhubung dengan kamar Caroline. Caroline hanya bisa merasa kesal dan terkesima dengan ulah sang tetangga itu. Tiga malam berturut-turut dan dengan tiga wanita yang berbeda membuat Caroline semakin terkesima. Wanita pertama adalah si spanx, berlanjut dengan si Purina dan wanita ketiga yang paling dibenci Caroline karena kikikannya, si Giggler. Dan sebutan yang paling pas bagi Caroline untuk tetangganya adalah si Wallbanger—pembentur dinding. Walau Caroline tahu nama lelaki itu adalah Simon, dari teriakan-teriakan pasangannya.
Setelah berminggu-minggu menghadapi hal tersebut, semuanya semakin membuat Caroline kesal karena selain tidak bisa tidur dia sudah lama tidak merasakan Orgasme. ‘O sudah pergi’ itulah yang selalu dikatakan Caroline. Hingga suatu malam ketika O bagi Caroline akan muncul semuanya terganggu oleh si Wallbanger. Caroline tidak tahan lagi ingin melabrak. Caroline tidak peduli telah menggedor-gedor pintu tengah malam dan melampiaskan amarahnya walaupun dia lupa bahwa busana yang dikenakannya sangat tidak pantas. Begitu pula dengan busana yang dikenakan sang Wallbanger yang memang terhenti aktivitasnya bersama Sang Giggler. Masing-masing merasa terkejut, terutama Caroline. Karena. Dia. Masih. Berdiri.



 Review
            Saya mengenal novel ini ketika membaca terjemahannya di salah satu blog, agak lupa juga sih sudah baca sampai tamat belum. Makanya, tanpa banyak mikir saya beli novel ini ketika ada yang jual murah. Dan, kejutan, saya sangat menyukai novel ini. ( ~*w*)~
             Saya diberitahu bahwa novel ini mirip dengan Beautiful Bastard. Dan sempat skeptis juga mirip di sebelah mananya. Ternyata kedua novel ini, lagi-lagi, fanfic  dari Twilight. ( ̄へ ̄"
      Wow, sepertinya dunia tulis menulis belum bisa move on dari Twilight dan sebenarnya sebanyak apa sih fanfic dari Twilight. Bukannya sinis atau apa, hanya penasaran aja sih kenapa begitu banyak sekali buku-buku yang berkiblat pada Twilight. (づ ̄ ³)
            Dan, tentang kemiripan dengan Beautiful Bastard, menurutku beda jauh deh. Wallbanger lebih ada ceritanya daripada Beautiful Bastard yang hanya menjual tentang hubungan badan para tokoh utamanya. Jalinan tiap tokohnya lebih berkembang dan pertemuan awal tokoh utama di Wallbanger ini unik dan lumayan bikin ngakak juga. (◡≦)
             Seandainya saya berada dalam situasi seperti Caroline saya akan merasakan hal yang sama. Terkesima. Bisa-bisanya saya berada dalam situasi tersebut. Berasa sedang menonton video porno tapi versi radio. Cuman hal yang kepikiran, kenapa Caroline tidak pindah saja tidur di sofa atau dimana, Caroline hanya menggeser tempat tidurnya supaya tidak ada guncangan dan pigura yang terjatuh di atas kepalanya. Yah, mungkin apartemen Caroline tidak terlalu besar jadi space dia untuk tidur ya di kamar tersebut.

Duo cover ini sama-sama mesum (?) (^་།^)

            Setelah insiden labrakan tersebut, puji Tuhan, Caroline tidak pernah mendengarkan lagi aktivitas sang Wallbanger. Alur yang dipilih penulis lumayan cepat dengan langsung mempertemukan mereka dalam sebuah pesta perayaan rumah baru Jillian, bos Caroline. Pertemuan yang mengagetkan kedua belah pihak. Dan menjadi bahan lelucon teman-teman Caroline dan Simon. Simon dengan julukan Wallbanger, dan Caroline yang dipanggil Cewek Daster Pink.
            Saya salut dengan penulis sebenarnya, ide penulis dengan mempertemukan mereka berdua dalam suasana canggung, khususnya Simon. Siapa sih yang ingin kehidupan pribadinya diketahui secara publik. Suka atau tidak suka Caroline tahu aktivitas seks Simon yang sungguh tidak biasa. Setiap hari berganti pasangan dengan tiga wanita benar-benar suatu fakta yang tidak ingin Simon beberkan pada siapa pun. Apalagi seorang wanita. Kepalang tanggung bagi Simon yang bertemu dengan wanita blak-blakan seperti Caroline menceritakan awal muasal hubungan dengan tiga wanita tersebut. Simon merasa sulit menutupi segalanya mengingat Caroline tahu dengan baik aktivitas berisik Simon. (*˘˘*)

“…. Simon mengacak-acak rambutnya bingung. “Aku harus memberitahumu, sejujurnya ini percakapan paling aneh yang pernah kulakukan dengan wanita.” (p.193)

             Suka sekali dengan sifat Caroline yang selalu tahu kapan waktunya mengejek harem-harem Simon. Simon yang merasa canggung agak kesulitan membalas Caroline dan berakhir dengan tebar pesona yang kebetulan Caroline tidak kebal. Mereka berdua sama-sama pria dan wanita dewasa, sama-sama tertarik dan tidak menutup-nutupi rasa ketertarikan mereka berdua. Jalan menuju akhir novel ini sungguh sangat bisa ditebak sebenarnya. Seperti biasa saya selalu menyukai proses dimana para tokoh saling tertarik dan menyatakan cinta mereka.
            Hubungan mereka berdua semakin dekat semenjak pertemuan mereka. Gencatan senjata yang dipilih Simon meredakan ketegangan mereka berdua dan menyudahi segala sindiran Caroline. Namun, ketegangan lain muncul diantara mereka berdua. Mereka memutuskan untuk berteman. Walaupun mereka berdua tidak yakin harus menjadi teman seperti apa.
            POV yang dipakai dari sudut pandang Caroline. POV orang pertama yang selalu saya sukai. Dan dari novel ini saya baru sadar mengapa menyukai POV orang pertama karena saya yang membenci narasi begitu menikmati bacaan ketika menggunakan POV ini. Berasa sedang mengobrol dengan diri sendiri. Kadang saya tidak mengerti mengapa banyak yang tidak menyukai POV ini, kebanyakan mengatakan bahwa seperti membaca buku diari. Yah, selera orang-orang memang berbeda. (´• ᵕ •`)
            Karena bed scene muncul di akhir cerita tensi mereka berdua cukup panas. Apalagi mereka berdua suka sekali melontarkan dirty jokes ketika saling bertukar sms ataupun ketika mengobrol biasa. Selalu suka ketika membaca sms mereka berdua. Hubungan lewat tulisan selalu membuat saya terpesona. Saya merasa manis sekali percakapan mereka berdua. Dan walaupun akhir buku ini tepat untuk mereka berdua saya merasa ada yang kurang. Baru setelah mengecek di google ternyata buku kedua seri Cocktail ini masih menceritakan tentang Simon dan Caroline. Antara senang dan sedih mengetahui hal ini. Tentunya membuat saya penasaran dan ingin segera membaca buku lanjutannya. Dilema juga ingin membaca versi ebook atau menunggu pas beli buku terjemahannya di Gramedia. (•́︿•̀)
            Akhir kata, untuk review yang lumayan panjang ini saya sungguh sangat merekomendasikan buku ini sebagai bacaan yang menghibur. Banyak sekali percakapan lucu antara Simon dan Caroline. Walau tentunya harus diketahui bahwa label buku ini adalah Novel Dewasa. ˖✧◝(⁰⁰)◜✧˖

Salah satu percakapan lewat sms antara Simon dan Caroline.    
S : Kau sudah sampai di rumah?
C : Yup, baru saja turun di depan rumah.
S : Oke, kutunggu sampai masuk.
C : Aku berani bertaruh kau tak sabar lagi untuk ‘masuk ke dalam’
S : Kau kejam, kautahu itu?
C : Aku sudah pernah bilang. Oke, sudah masuk. Baru saja menendang pintumu, omong-
      omong
.
.
.

4 komentar:

  1. Terjemahannya bagaimana? Saya agak trauma membaca terjemahan Elex >.< kecuali komiknya

    BalasHapus
  2. Terjemahannya bagus mbak, cuman ya typo tetep aja ada, dan sebutan Caroline yang cewek daster pink itu sangat .... aneh.
    Harusnya cari padaan kata lain selain daster :(

    BalasHapus
  3. Punya link pdf yg bhs indo gak?

    BalasHapus
  4. tertarik nih. thank you dah kasih sinopsisnya ya

    BalasHapus

Jangan segan buat ngasih komen ya :)