Kamis, 30 April 2015

[Review] My Wicked Marquess





Judul : Rahasia Sang Marquess
Judul Asli : My Wicked Marquess (Inferno Club #1)
Pengarang : Gaelen Foley
Penerjemah : Swasti Nareswati
Penerbit : Dastan Books
Tebal : 544 Halaman
Tahun Terbit : Cetakan I, 2012
Kategori : Fiksi, Romance, Historical Romance, Dewasa
Harga : Rp. 10.000,-
ISBN : 978-602-247009-0
Ratingku : 1/5


Max St. Albans, Marquess of Rotherstone, adalah sang tokoh utama buku ini. Dia adalah mantan anggota dari sebuah organisasi mata-mata—Ordo Saint Michael, yang memutuskan untuk pensiun dan mencari seorang istri. Apalagi setelah mendapat kabar bahwa salah satu temannya meninggal karena tertangkap oleh musuh. Alasan Max untuk menikah juga demi membersihkan nama baiknya. Untuk itu Max meminta pengacaranya untuk mencarikan gadis pilihan yang sesuai syarat dari Max.
Daphne, salah satu yang dicalonkan oleh pengacaranya dan sudah diwanti-wanti bahwa gadis tersebut adalah pemicu skandal. Max harus menjauhi gadis itu walaupun sangat cocok dengan syarat yang diberikan oleh Max. Karena penasaran dengan catatan khusus yang diberikan pengacaranya, Max membututi Daphne ketika berkunjung ke salah satu panti asuhan yang tiap minggu di kunjungi oleh Daphne. Hingga pertemuan yang agak biasa di daerah kumuh di depan rumah bordil membuat Daphne tidak bisa melupakan Max.
Setelah pertemuan tersebut, Max memantapkan hati untuk melamar Daphne. Namun, Max belum mengetahui bahwa masa lalunya sebagai mata-mata menghalangi kisah cintanya dengan Daphne.

---------------------------------------------------------------
Sedikit banyak novel ini mengingatkan saya dengan seri Bastion Club dari Stephanie Laurens. Makanya saya lumayan penasaran dan akhirnya memutuskan untuk membeli. Dan apa yang saya dapatkan adalah kekecewaan. Padahal saya suka sekali dengan pertemuan Max dan Daphne di depan rumah bordil, membuat saya teringat dengan novel Sabrina Jeffries yang saya sukai. Tidak ada hal yang berkesan bagi saya dari novel ini. Selain saya yang merasa pusing dan agak tidak peduli dengan sekelumit organisai mata-mata Max, saya merasa kemistri Max dan Daphne kurang terasa dan tidak ada adegan yang membuat saya tersenyum.
Banyak paragraph yang saya skip dan diambil intinya saja. Setiap novel yang saya baca dan  berakhir dengan men-skip-nya, saya yakin sekali bahwa saya tidak akan bisa mengikuti novel yang dibaca. Saya mengakui bahwa sebagai novel action, seri pertama Inferno Club ini akan menarik. Dengan disuguhkan beberapa kilasan musuh bebuyutan dari organisasi Max dan keadaan teman Max yang disekap akan membuat novel ini sangat menarik. Namun, hanya jika novel ini dijadikan live-action saja saya akan menikmati novel ini.
Dan setelah saya merasa capek membaca dari awal sampai akhir saya diberitahu penulis bahwa novel ini ditamatkan dengan cara bersambung. Saya sangat membenci novel berseri seperti ini. Padahal jelas sekali bahwa tiap buku novel ini mempunyai tokoh yang berbeda kenapa pula dengan ending yang menggantung? Membuat saya emosi jiwa. Saya merasa bahwa cerita novel ini bagaikan satu buku dibagi menjadi beberapa novel. Penulis menganut paham estafet dalam menyelesaikan kasus yang ada, dan sungguh beruntung bagi yang menyukai seri ini akan melanjutkan ke buku berikutnya. Saya pribadi sama sekali tidak mempunyai niatan untuk membeli buku kelanjutannya. Saya hanya akan berani membaca seri lainnya ketika ada seseorang yang baik hati meminjamkan ataupun member novel ini pada saya *w*


0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)