Kamis, 30 April 2015

[Review] Halfway to The Grave





Judul : Sang Pemburu Vampir
Judul Asli : Halfway to The Grave (Night Huntress #1)
Pengarang : Jeaniene Frost  
Penerjemah : Endang Sulistyowati
Penerbit : Dastan Books
Tebal : 496 Halaman
Tahun Terbit : Cetakan I, April 2011
Kategori : Fiksi, Dewasa, Paranormal Romance
ISBN : 978-602-8723-78-7
Ratingku : 4/5



 Bagi Catherine Crawfield, Cat, vampir adalah makhluk yang harus segera dia bunuh. Sejak diberitahu oleh ibunya bahwa dirinya adalah setengah vampire, Cat merasa hidupnya yang sejeak dulu aneh semakin aneh. Cat selalu merasa berbeda, dia tidak pernah punya teman, selalu dikucilkan. Cat selalu merasa alasannya adalah karena dia tidak pernah punya ayah. Cat selalu berburu vampire, demi alasan dirinya maupun demi menyenangkan ibunya. Tentu saja Cat penasaran siapa ayahnya, yang dengan kejam membodohi ibunya dan sampai melahirkan dirinya.
Hingga Cat bertemu dengan seorang vampire tangguh yang sudah berumur ratusan tahun bernama Bone. Bone yang seperti Cat berprofesi sebagai pemburu vampire menculik Cat dengan alasan Cat adalah seorang mata-mata. Bone yang merasa terpesona dengan Cat akibat darah campurannya meragukan kemampuan Cat dalam berburu vampire. Bone merasa terkejut dengan kenyataan bahwa Cat adalah seorang setengah vampire. Hubungan mereka berdua semakin aneh ketika Bone mulai mengajari Cat untuk menjalani latihan sebagai pemburu vampire yang handal.

-----------------------------------------------------

Bisa dibilang saya sangat menyesal karena menunda-nunda membaca novel ini. Novel yang pertama kali saya beli dan baru beberapa bulan kemudian dibaca. Novel ini masih tidak jauh berbeda dengan novel yang belum lama say abaca, yaitu tentang vampire. Namun, dari segi cerita saya lebih menyukai cerita Cat dan Bone dibanding dengan Elena dan Raphael.
Sudut pandang yang digunakan novel ini adalah menggunakan sudut pandang Cat. Dan saya sungguh menyukai semua pandangan Cat akan dunia. Saya suka kekonyolan Cat, sarkasmenya, dan segala hal tentang Cat. Cat sama seperti remaja pada umumnya yang sedang mengalami krisis identitas. Apalagi Cat adalah setengah vampire, tentu saja hal ini semakin menegaskan keanehan yang terjadi pada dirinya.
Entah kenapa saya kurang merasakan kemistri Cat dan Bone dibuku awal ini. Tiba-tiba saja Bone mengakui dengan jelas bahwa dari awal pertemuan Bone sudah tertarik dengan Cat. Disinilah saya merasakan keanehan. Karena tentu saja sepanjang buku ini menceritakan tentang bagaimana Bone melatih Cat dalam berburu vampire. Saya selalu merasa Bone itu seorang pria yang cerewet karena memang kerjaan Bone adalah ribut dengan Cat. Sifat Cat yang sangat keras kepala tidak pernah mau mendengarkan apapun yang disuruh oleh Bone. Hal ini memang mendarah daging pada diri Cat, Bone adalah vampire, tentu saja Cat sama sekali tidak pernah mau berhubungan dengan Bone. Dipikiran Cat hanyalah satu bahwa semua vampire, baik itu vampire baik/vampire jahat, harus berakhir pada belati perak Cat.
Bagian yang paling saya suka selain pertengkaran Bone dan Cat adalah ketika Bone memberikan misi kepada Cat dengan bertemu seseorang bernama Crispin di sebuah bar. Sama seperti Cat yang siaga ’45 demi berburu vampire, saya dikejutkan bahwa yang harus ditemui Cat adalah Bone sendiri. Crispin adalah nama Bone ketika menjadi masih menjadi manusia.
Buku pertama ini sukses membuat saya jatuh cinta dengan Cat dan Bone. Sampai detik ini sudah buku ke-5 dan 4 buku spin-off yang sudah saya baca. Review akan menyusul ketika mood menulis saya muncul :3

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)