Minggu, 31 Juli 2016

[Review] Strawberry Ice Cream and You


Judul : Strawberry Ice Cream and You
Pengarang : Anisa Maryanti
Tahun Terbit : Cetakan I, April 2015
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 184 hal
Kategori : Romance, Teenlit
Harga : Rp. 48.000,-
ISBN : 978-602-03-1550-8
Rating : 3/5
Bisa dibaca secara gratis melalui aplikasi @iJakarta

           
Nara
Aku membenci Ayah. Lelaki itu menikahi Ibu tanpa cinta.
Setiap Nara mengetahui orangtuanya bertengkar, Nara selalu dibelikan es krim oleh ibunya. Sejak itu, es krim menjadi obat bagi segala kejadian buruk yang menimpa Nara. Bahkan ketika ibu dan kakaknya, Alvin, meninggal.

Yoza
Mengapa wajah itu selalu terlihat sedih? Mengapa dia begitu membenciku?Yoza tidak mengerti, Nara begitu sulit untuk didekati. Sejak pertemuan pertama, Nara selalu bersikap dingin. Sikap itu semakin menjadi ketika Nara bertemu mama Yoza.

********

            Sejujurnya saya tidak pernah menyangka bahwa ice cream dalam judul novel ini ditujukan untuk pemeran cowok dalam novel ini. Ah, bukannya main gender hanya saja ice cream biasanya berhubungan dengan cewek. Kebanyakan cowok tidak suka dengan ice cream, kan? Walau selalu ada pengecualian.
            Nara sangat membenci ayahnya. Sejak kecil Nara tahu bahwa dirinya tidak dicintai oleh ayahnya. Dua orang yang sangat dicintai Nara di dunia ini hanyalah kakak dan ibunya. Hingga kematian merenggut keduanya membuat Nara menjadi pribadi yang tertutup. Nara menutup diri dari ayahnya dan dunia. Hingga kedatangan cewek bernama Yoza dalam hidupnya. Bagi Nara, Yoza adalah cewek berisik yang selalu mengikuti kemana pun dirinya pergi. Hingga kesukaan Yoza pada ice cream mengingatkan Nara pada ibunya. Perlahan Nara tidak menganggap Yoza sebagai cewek yang mengganggunya. Hingga suatu hal pada diri Yoza membuat Nara sangat membencinya. Nara pun mulai membenci Yoza dan semakin menjadi pribadi yang tertutup.
            Bisa dibilang novel ini sangat menyedihkan. Anak sekecil Nara sadar bahwa dirinya tidak dicintai oleh ayahnya itu sangat menyakitkan. Padahal Nara kecil selalu membanggakan ayahnya yang seorang dokter. Dan ketika dikecewakan wajar Nara menjadi membenci ayahnya. Nara tidak bisa lagi bersikap sopan pada ayahnya. Ah, entahlah kalau saya menjadi Nara akan seperti apa. Untungnya penderitaan Nara tidak ditambahkan dengan kemunculan ibu tiri yang jahat. Kalau iya, bakalan dramaqueen banget.
            Sosok Yoza yang periang sangat mengimbangi Nara yang tertutup. Yoza tidak pernah menyerah untuk menarik perhatian Nara, dan Nara memang perlu sosok seperti Yoza. Yang membantu dirinya untuk keluar dari kesedihannya. Apa lagi Yoza selalu memergoki Nara yang sedang menangis. Alasan Nara sering menangis memang cukup kuat, tapi rasanya kurang sreg saja ketika tahu cowok gampang menangis.
            Karena ketipisan buku ini sebenarnya saya kurang puas dengan cerita Yoza dan Nara. Saya merasa masih kurang puas dengan akhirnya. Overall, bagi yang penasaran apa hubungan ice cream dengan Nara silakan dibaca. Selamat membaca.


[Review] Pay It Forward


Judul : Pay It Forward
Pengarang : Emma Grace
Tahun Terbit : Cetakan I, April 2015
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 256 hal
Kategori : Romance, Young Adult,
Harga : Rp. 50.000,-
ISBN : 978-602-03-1501-0
Rating : 3/5
Bisa dibaca secara gratis melalui aplikasi @iJakarta


Tedjas
            Astaga, gadis itu sudah gila. Pasti! Gue nggak pernah berminat untuk komentar di status orang di Facebook, apalagi ikut-ikutan dalam permainan apa pun. Tapi, gadis itu bilang apa tadi? Pay It Forward? Cih, permainan apa itu?

Gitta
Aku nggak pernah mengira bisa membenci seorang pria, seperti aku membenci Tedjas. Sejak pertama bertemu, dia selalu bersikap menyebalkan. Seakan belum cukup, dia juga menghinaku habis-habisan  di depan banyak orang. Semakin jauh jarak terbentang di antara kami, itu semakin baik! Itu yang Tedjas dan Gitta pikirkan. Tapi ketika rasa cinta menggedor semakin kuat, sanggupkah mereka berdua  tetap berpura-pura bahwa kedekatan itu tak pernah nyata?
"Kisah romansa dan keluarga dengan konsep yang unik. Eksekusinya apik, membuat kita tak ingin berhenti membaca. Dan ini juga merupakan cerita yang memberikan kehangatan di hati lewat hal-hal sederhana yang diungkapnya." –Winna Efendi, novelis–


********

            Novel ini bercerita tentang Gitta yang mengikuti permainan Pay It Forward yang dibuat melalaui status Facebook teman Gitta. Permainan ini mengharuskan setiap pemain memberikan gift surprise kepada 3 peserta yang memang ingin mengikuti Pay It Forward. Dari permainan ini Gitta tidak pernah menyangkan bahwa Tedjas akan ikut bermain. Gitta keheranan dengan kemunculan nama Tedjas di kolom komentar status Facebooknya. Gitta tahu bahwa Tedjas tidak akan pernah mau mengikuti permainan semacam ini. Karena dulu saja Gitta hampir tidak lulus gara-gara Tedjas tidak bertanggung jawab mengerjakan semua tugasnya ketika awal masuk kuliah. Namun, Gitta berusaha untuk tidak berprasangka. Permainan Pay It Forward sempat terlupakan Gitta karena hubungan Gitta dengan ayahnya yang perfeksionis renggang. Gitta merasa ayahnya terlalu mengekang dirinya. Gitta selalu dianggap sebagai anak kecil dan keinginannya untuk mengetahui keluarga dari pihak ibunya pun selalu ditolak ayahnya.
            Hingga pertemuan Gitta dengan Tedjas mengubah hidup Gitta. Setelah perkenalan Gitta dengan Tedjas yang unik dan permasalahan permainan Pay It Forward yang sama sekali tidak diacuhkan oleh Tedjas. Tanpa Gitta sangka Tedjas justru mengarahkan Gitta pada masa lalu yang selalu ingin diketahuinya.
            Permainan Pay It Forward sendiri menurutku unik. Menyebarkan hadiah melalui status? Siapa yang tidak mau? Beberapa kali saya pun pernah melihat seorang teman membuat status barter buku 1 dan akan mendapat 36 buku. Yah, permainan Pay It Forward juga sebenarnya mirip sih. Intinya sama, saling berbagi hal yang disukai oleh sang penerima.
            Jujur saya kurang menyukai sifat Gitta. Gitta ini tipe-tipe anak manis penurut tetapi dia juga bisa menjadi sangat keras kepala. Cerita buku ini lebih banyak menceritakan tentang keluarga Gitta. Dan, saya pikir hal itu lumayan membosankan. Saya sih kepenginnya lebih mengeksplor hubungan Gitta dan Tedjas. Cuman ya, Gitta dan Tedjas pun dekat gara-gara masalah keluarga Gitta jadi mau bagaimana lagi.
            Buku ini lumayan untuk dinikmati. Bukan buku favorit saya. Namun, jika yang penasaran tentang permainan Pay It Forward yang dilakukan Gitta, patut dicoba dibaca. Selamat membaca.


[Review] LDR 2 L’Amore di Romeo


Judul : LDR 2 L’Amore di Romeo (LDR Series)
Pengarang : Cassandra Massardi dan Silvarani  
Tahun Terbit : Cetakan I, Agustus 2015
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 256 hal
Kategori : Romance, Young Adult,
Harga : Rp. 58.000,-
ISBN : 978-602-03-1813-4
Rating : 3/5
Bisa dibaca secara gratis melalui aplikasi @iJakarta

           
Cinta abadi tak hanya ada di Roma!
Untuk sementara, biarlah Carrie beranggapan begitu. Jadi sekarang, mari lupakan kesedihan dan siap melangkah ke depan!
Carrie pun berkenalan dengan kota baru yang siap mengobati luka hatinya, siap memperkenalkan cinta baru untuknya.
Nama kota kecil itu adalah Verona...
Di tempat yang menjadi saksi kekuatan cinta abadi Romeo dan Juliet itu, Carrie berharap Verona memberinya kesempatan untuk merasakan cinta.
L’amore di Romeo—cinta seorang Romeo...
Semoga Verona tak mengecewakannya.
Semoga ia bisa mengobati hati Carrie.
Dan mempertemukan Carrie dengan Romeo-nya…

********

            Setelah membaca buku pertamanya, kurang afdol ketika saya belum baca buku keduanya. Apa lagi akhir yang masih menggantung, membuat saya penasaran Carrie akan berakhir dengan siapa nantinya.
Cerita buku ini masih sama tentang Carrie. Setelah patah hati karena Demas kembali pada pacarnya, Carrie berusaha untuk melupakan Demas. Setahun setelah perjalanan Carrie ke Roma, akhirnya Carrie bisa kembali terbang ke Eropa. Kali ini tujuan Carrie bukan lagi Kota Roma, melainkan Kota Verona. Carrie kebetulan menjadi tour guide dan bisa terbang mengunjungi kota pasangan terkenal Romeo dan Juliet. Walau Carrie sudah bisa melupakan Demas, kepergian Carrie ke Verona tetap mengingatkan dirinya pada Demas. Hingga ahirnya Carrie bertemu Paul yang menyelamatkannya dari badai salju. Perlahan perasaan Carrie pada Demas semakin surut.
Seperti buku pertama, ada saja kemalangan yang menimpa Carrie ketika berkunjung ke Eropa. Setelah kehilangan dompetnya sekarang Carrie terjebak dalam badai salju. Untungnya lagi-lagi ada cowok ganteng yang menyelamtkannya. Polanya bikin bosan sebenarnya. Hanya saja kemunculan Paul sedikit mengobati kebosanan saya. Saya sangat penasaran dengan Al yang memaikan Paul. Akan seperti apa acting Al nanti. Ah, rasanya kepengin buru-buru menonton seri 2 LDR ini.
Buku ini hampir menceritakan tentang Carrie dan Paul, Demas hanya muncul di akhir saja. Dan membuat saya bertanya-tanya mengapa Demas harus dimunculkan di akhir saja? Seperti Demas ini pemain sampingan saja.
Akhir seri ini memang bisa ditebak. Saya sendiri merasa lumayan terhibur membaca seri LDR ini. walau tidak menjadi buku favorit saya, novel ini masih layak untuk dinikmati. Selamat membaca.

[Review] LDR L’Eternita di Roma




Judul : LDR L’Eternita di Roma (LDR Series)
Pengarang : Cassandra Massardi dan Silvarani  
Tahun Terbit : Cetakan I, April 2015
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 256 hal
Kategori : Romance, Young Adult,
Harga : Rp. 55.000,-
ISBN : 978-602-03-1599-7
Rating : 3/5
Bisa dibaca secara gratis melalui aplikasi @iJakarta

           
Dengan backpack belel, kalung berbandul kompas, dan tongsis, Carrie sangat berani dan percaya diri untuk bertualang seorang diri di kota penuh cinta, Roma. Mulai dari Colosseum, Spanish Steps, Ponte Sant’Angelo, dan tempat-tempat terkenal lainnya, semua ia kunjungi.
Semua tempat itu penuh cinta. Semua memancarkan energi cinta bahagia untuk turis yang datang.Namun, siapa sangka, di sana Carrie malah bertemu dengan seseorang yang justru tengah menagih janji kota Roma.
Janji apa?
Janji L’eternita di Roma….
Apakah janji itu benar-benar ada?
Atau hanya mitos yang melegenda?
Tentunya di bawah naungan langit Roma, Carrie akan menemukan jawabannya...

********

            Membaca novelisasi film memang jarang saya lakukan. Karena genre buku ini adalah young adult saya menyempatkan diri untuk membacanya.
            Impian Carrie adalah berkunjung ke Roma. Carrie berusaha mewujudkan mimpinya dengan berbagai cara. Bekerja part time, menghemat pengeluaran sehari-sehari demi menabung. Sampai akhirnya impian Carrie bisa tercapai. Akhirnya Carrie bisa terbang ke Roma.
            Carrie yang sampai di Roma tentunya merasa senang. Namun, kesenangan Carrie harus cepat berakhir ketika dia menyadari bahwa dompetnya hilang. Semua uang Carrie habis dicuri. Padahal Carrie sama sekali belum memesan kamar inap. Untungnya Carrie bertemu seseorang yang menyelamatkannya. Cowok yang seharusnya diselamatkan Carrie malah akhirnya menyelamatkan nasib jalan-jalan Carrie di Roma. Petualangan Carrie tidak lagi membosankan ketika Carrie bertemu Demas. Demas yang sedang putus asa setelah putus dengan pacarnya pun merasa terhibur dengan kehadiran Carrie.
            Sejujurnya saya kurang menikmati membaca buku ini. Terlalu banyak kebetulan. Carrie yang kehilangan dompetnya tiba-tiba bertemu malaikat baik hati dan akhirnya bisa berlibur dengan mewah ketika Demas yang menemaninya. Maksudku, kenapa harus ada insiden kemalingan? Rasanya terlalu mainstream banget. Terasa terlalu mengada-ada. Padahal pertemuan Carrie dengan Demas sudah terasa natural. Carrie yang tidak sengaja melihat percobaan bunuh diri Demas karena patah hati, tanpa ada insiden uang Carrie pun sudah pas.
            Saya rasa cerita Carrie ini tidak cocok dijadikan buku. Memang sepertinya lebih asyik langsung menonton filmnya. Melihat langsung keindahan kota Roma. Walau penggambaran buku ini begitu detail dan disertai foto-foto, memang lebih asyik melihat langsung keindahan Romanya. Sayang sampai saat ini saya belum sempat menonton film Carrie. Semoga dalam waktu dekat bisa.
            Bagi yang sudah menonton film Carrie, rasanya tidak ada salahnya untuk mencoba menikmati kisah Carrie dalam bentuk buku. Selamat membaca.