Kamis, 30 Juni 2016

[Review] Les Masques


Judul : Les Masques
Pengarang : Indah Hanaco
Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2014
Penerbit : PT Grasindo
Jumlah Halaman : 240 hal
Kategori : Romance, Thriller, Young Adult
Harga : Rp. 40.000,-
ISBN : 978-602-251-465-7
Rating : 4/5


            Fleur Radella, lahir karena kebuasan hasrat yang tak bisa ditolak. Elektra Valerius, jiwa berani yang terpaksa bersemayam di tubuh yang salah. Tatum Honora, gadis pemurung yang tercipta karena ketidakmampuan manusia menundukkan diri sendiri. Semua yang dimulai di masa lalu, tak seharusnya menjadi hantu yang menempel tanpa pengampunan. Lalu Adam Dewatra hadir. Menggenapi jejak horror masa lampau.

************

            Bulan ini genre novel Suspense/Thriller jadi pilihan bacaan saya karena ada tantangan baca yang harus diikuti. Dan, ketika ada yang bilang novel Les Masques adalah tulisan Indah Hanaco yang suram, tanpa ragu saya pun mulai membaca novel ini.
            Begitu memasuki prolog buku ini saya disuguhkan bahwa novel ini menceritakan tokoh utamanya yang memiliki kepribadian ganda. Wow. Tema yang masih jarang digunakan oleh penulis. Tentunya dalam hitungan menit membaca prolog buku ini menarik minat saya. Sangat.
            Dikisahkan dengan memakai alur maju mundur bagaimana kelamnya masa lalu Fleur Radella. Bagaimana Fleur masa kini menjadi gadis remaja pemalu dan bahkan menjadi orang yang sangat tertutup. Sayangnya Fleur sendiri tidak tahu mengapa dirinya menjadi seseorang yang begitu suram. Fleur selalu merasa inilah jalan hidupnya.
            Suram. Itulah yang saya rasakan untuk semua kehidupan yang sudah dijalani Fleur. Saya pribadi tidak tahu bagaimana cara kerja atau alasan seseorang mempunyai kepribadian ganda. Saya mengenal tentang seseorang yang mempunyai kepribadian ganda dari film Sybil. Dimana Sybil mempunyai 16 kepribadian yang berbeda dalam tubuhnya. Saat itu saya belum sempat menamatkan untuk menonton film Sybil. Waktu tayang dini hari saat itu tidak memungkinkan. Dan, membaca novel ini sangat mengingatkan akan rasa penasaran saya.
            Kebanyakan seseorang yang memiliki kepribadian ganda tidak menyadari bahwa ada kepribadian lain dalam dirinya. Begitu pun yang terjadi pada Fleur. Fleur merasa hidupnya normal-normal saja walaupun ketakutan tidak biasa yang dialami Fleur ketika berhadapan dengan Neneknya. Fleur selalu merasa ketakutan ketika di dekat Neneknya. Fleur sendiri tidak tahu dengan jelas mengapa dirinya begitu takut. Fleur selalu hanya bisa pasrah dengan keadaan hidupnya. Hingga kematian Neneknya mengubah segala hidupnya. Fleur menjadi gadis berani dan berbeda.
            Ketika membaca novel karangan Indah Hanaco, saya selalu tidak melewatkan halaman terima kasih yang ditulis Mbak Indah. Entahlah, ada sesuatu yang membuat saya merasa nyaman ketika membaca halaman terima kasih yang ditulis Mbak Indah. Di halaman terima kasih tersebut Mbak Indah bilang bahwa dirinya tidak bermaksud membuat Lagu Heaven yang dinyanyikan Bryan Adam menjadi sesuatu yang horror. Damn. Begitu cerita sampai pada bagian lagu Heaven yang diceritakan Mbak Indah, lagu Heaven tidak akan bisa terdengar sama lagi karena yang ada di bayangan saya adalah penderitaan Fleur.
            Semua pembaca yang sudah menamatkan novel ini pasti akan berpikiran sama dan mengamini bahwa ending novel ini kurang memuaskan. Saya pun merasakannya. Akhir yang dipilih Mbak Indah memang penuh twist dan epik, sayangnya super kentang. Mau bagaimana lagi, halaman novel ini hanya 250 halaman kurang. Mau dibuat bagaimana pun pasti akan terasa kentang. Dan, kehidupan Fleur masih jauh dari tamat. Masih banyak yang dapat dikembangkan dari novel ini. Saya pribadi sudah deg-degan dengan dugaan bahwa Fleur akan berakhir di rumah sakit jiwa. Untungnya dugaan saya tidak terduga sih. Karena akan menjadikan novel ini terlalu biasa.
            Jujur, saya sangat menyukai novel ini dari semua tulisan Indah Hanaco yang sudah saya baca. Walau temanya berat anehnya saya yang baca asik saja dan sangat menikmati. Dan, setelah saya teliti hampir semua tulisan Mbak Indah yang bergenre remaja selalu berakhir saya sukai ketika menamatkannya. Saya jadi teringat tulisan Primadonna Angela. Saya pun lebih menyukai tulisan Mbak Donna ketika mengambil genre remaja. Yah, walau masih terlalu dini saya berpendapat seperti ini. Perjalanan saya untuk membaca semua tulisan Mbak Indah masih panjang.
            Buku ini sangat saya rekomendasikan. Segera baca kalau ingin bacaan yang benar-benar berbeda. Dijamin nggak bakalan nyesel. Selamat baca.

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)