Sabtu, 30 April 2016

[Review] Always The Bride

Judul : Always The Bride Pengantin baru (Lagi)
Pengarang : Jessica Fox
Penerjemah : Alphonsus W. P. T. Nugroho
Tahun Terbit : Cetakan I, 2016
Penerbit : Esensi
Jumlah Halaman : 242 hal
Kategori : Ciklit, Domestic Romance,
Harga : Rp. 75.000,-
ISBN : 978-602-7596-27-6
Rating : 4/5

            Calon pengantin mana yang tidak akan terkejut ketika diberi tahu bahwa dirinya akan menikah dua kali. Apalagi di pesta lajang sebelum besok dirinya akan mengikrar janji suci. Zoe Forster menganggap omongan cenayang yang dibawa adiknya, Libby, sebagai angin lalu. Bagaimana mungkin hal itu akan terjadi pada dirinya. Semua orang juga tahu bahwa Steve adalah cinta sejatinya. Ramalan cenayang bukan masalah besar bagi dirinya dan Steve yang suda bersama selama 7 tahun.
            Pernikahan Zoe dan Steve berjalan normal, tidak ada tanda-tanda dirinya akan berpisah dengan Steve. Hal itu semakin membuat Zoe tenang dan melupakan ramalan bodoh di pesta lajang dirinya. Zoe kembali disibukkan dengan pekerjaannya sebagai penulis naskah film. Kali ini Zoe akan berkolaborasi dengan suaminya yang seorang sutradara. Yang tidak Zoe ketahui adalah sang produser, Rufus, menghendaki film yang digarap kali ini mendapat sorotan besar. Rufus dengan seenaknya mendatangkan aktor Hollywood terkenal yang bernama Luke Scottman. Dan, aktris terkenal Trinity.
            Zoe tidak menduga bahwa seseorang dari masa lalunya hadir kembali. Zoe kelimpungan ketika di hadapkan aktor superseksi mengaku masih memiliki perasaan pada Zoe. Ditambah lagi terjadi hal yang menimpa keutuhan pernikahan Zoe. Akankah ramalan Zoe terbukti?

*********

            Ok, tema buku ini adalah domestic romance, tema yang sudah pernah saya katakan sangat saya tidak sukai. Tapi, begitu membaca prolog dan bab 1 buku ini saya merasa bahwa buku ini ceritanya keren banget. Buku ini bagus banget. Saya langsung suka. Sangat nggak sabar untuk baca. Dan, hal yang semakin membuat saya ingin menceburkan diri adalah saya begitu bersemangat ketika Zoe bertemu dengan mantan kekasihnya. Dan, sangat mendukung Zoe untuk lebih baik SELINGKUH dari suaminya.
Oh. My. God. Pikiran macam apa itu? Saya kok bisa kurang ajar banget, sih? Saya tidak pernah sekalipun ingin mendukung hal-hal yang berbau perselingkuhan. Ew, engga banget deh. Siapa pula yang ingin mengalami hal diselingkuhi dari pasangannya. Amit-amit, jangan sampai.
            Steve adalah cinta sejati Zoe. Begitulah yang selalu mereka dengar dari orang-orang terdekat. Makanya, semuanya juga tidak terkejut ketika pada akhirnya Steve melamar Zoe. Steve begitu mudah tertebak dan menyukai rutinitas. Teman-teman Zoe selalu menyindir bahwa Steve adalah orang yang membosankan. Nah, mungkin itulah yang membuat saya berani-beraninya mempunyai pikiran Zoe lebih baik bersama Luke. Steve ini seperti dibuat tokoh tempelan saja oleh penulisnya. Penulis lebih suka mengeksplor hubungan Zoe dengan Luke yang ceritnya akan CLBK. Ugh, siapa yang tahan dengan pesona Luke. Aktor seksi dari Hollywood.
            Masalah semakin rumit ketika suami dan sahabat Zoe tahu bahwa Zoe pernah menjalin hubungan  dengan Luke. Bagaimana tidak rumit kalau kita pernah menjalin hubungan dengan mantan kekasih sahabat sendiri? Selalu rumit ketika menyangkut persahabatan wanita, kan? xD
            Pokonya buku ini bagus, harus saya akui bahwa saya jatuh cinta dengan tulisan Jessica Fox. Twist yang diberikan penulis di akhir sangat membuat saya kaget. Entahlah, saya harus bilang menyukainya atau tidak yang pasti saya kelewat syok dengan akhir ramalan Zoe! xD
            Dan, pastinya buku ini sangat saya rekomendasikan. Selain ceritanya bagus, terjemahan dari Penerbit Esensi sangat bagus. Buku terjemaha semakin enak dibaca ketika terjemahannya bagus, bukan? So, tunggu apalagi jangan lupa baca buku ini, ya. :D

[Review] Bridget

Judul : Bridget Si Ratu Sekolah
Pengarang : Paige Harbison
Penerjemah : Inosensus Rotorua
Tahun Terbit : Cetakan I, 2016
Penerbit : Esensi
Jumlah Halaman : 238 hal
Kategori : Teenlit, Romance,
Harga : Rp. 80.000,-
ISBN : 978-602-6847-01-0
Rating : 3/5

            Dulu Bridget Jane Duke bukanlah gadis populer yang selalu mendapat sanjungan dari teman-teman sekolahnya. Bridget hanyalah gadis manis biasa yang berperilaku seperti remaja kebanyakan. Sampai akhirnya Bridget salah dalam memilih teman. Bridget mulai berubah. Dan, puncaknya ketika Bridget memasuki masa SMA. Bridget menjadi gadis populer yang selalu mendapat sanjungan dari teman-temannya. Banyak yang segan kepada Bridget. Banyak yang mengganggap apa pun yang dilakukan oleh Bridget adalah sesuatu yang keren. Tidak ada yang berani melawan Bridget. Apa pun yang diinginkan Bridget hampir semua teman-temannya selalu menuruti keinginan Bridget. Hal itu juga yang membuat Bridget menjadi gadis yang sombong, egois dan berperilaku seenaknya sendiri dan tidak mau menghargai orang lain.
            Namun, kepopuleran Bridget terancam ketika datang murid pindahan yang bernama Anna Judge. Semua teman-teman di sekolahnya selalu membicarakan Anna. Hampir tidak ada yang ingat bahwa Bridget adalah gadis populer. Mereka semua hanya peduli pada keramahan sang murid baru. Tentunya Bridget kesal dengan kehadiran Anna. Bridget harus melakukan sesuatu agar dirinya tetap menjadi gadis paling populer di sekolahnya. Dan, Liam mantan pacarnya, tidak perpaling pada Anna.


*********

            Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada Penerbit Esensi yang memilih saya untuk mereview kedua buku terjemahan keluaran terbaru dari penerbit. Saya termasuk dari 10 Blogger beruntung. Terima kasih.
            Dari sinopsis di novel ini tokoh Bridget adalah tipe-tipe gadis populer yang paling dibenci. Tipe-tipe gadis penindas. Awalnya saya sendiri ragu akankah tokoh Bridget dapat saya sukai. Mengingat, yah, Bridget memang sangat menyebalkan. Bridget ini sebenernya punya pengaruh besar di sekolahnya. Sayangnya, dia memilih untuk menjadi seseorang yang menyebalkan. Seandainya saja Bridget memilih untuk menjadi gadis manis yang ramah sudah tentu dia akan menjadi semakin populer di sekolahnya.
            Siapapun akan tahu bahwa yang mau menjadi teman Bridget tentu saja seseorang yang takut pada dirinya. Bukan pertemanan loyal dari hati, kan? Siapa juga yang akan mau menjadi teman seseorang yang menyebalkan seperti Bridget. Saya sih awalnya salut juga ketika Bridget diceritakan mempunyai teman dekat. Atau paling tidak anggapan Bridget seperti itu.
            Dan, lambat laun semakin membaca lembaran demi lembaran saya mulai paham isi hati Bridget. Remaja seperti apa Bridget. Dan apa alasan yang membuat Bridget menjadi semenyebalkan itu. Yah, khas para remaja ababil, memang. Mengingat novel ini juga bertema teenlit. Tema pencarian jati diri belum bosan dipakai oleh para penulis.
            Nah, yang jadi masalah adalah jika novel ini hanya tentang Bridget yang menyebalkan, rasanya semua pembaca akan merasa kesal. Kehadiran tokoh Anna yang menjadi kunci pada kehidupan Bridget membuat novel ini lebih menarik. Tokoh Anna yang sangat bertolak belakang dengan Bridget memporak-porandakan kehidupan Bridget. Dan, mulai terkuaklah semua hal yang membuat Bridget menjadi gadis menyebalkan. Perubahan-perubahan sikap Bridget pun menurut saya cukup masuk akal. Yah, kalau Bridget belum berubah setelah melalui hal itu bersama Anna rasanya Bridget bisa dibilang sangat bebal.
            Saya cukup puas dengan akhir buku ini. Klimaks yang diberikan penulis tentang hubungan Bridget dan Anna pun sangat pas dan cukup masuk akal. Dan, hubungan percintaan Bridget dengan Liam berakhir dengan cukup memuaskan sampai-sampai membuat saya kepikiran kepengin sekali buku ini ada sekuelnya.
Karena buku ini adalah buku terjemahan, saya berani jamin bahwa terjemahan penerbit sangat mulus. Hampir seperti bukan membaca buku terjemahan. Saya yang membaca pun merasa sangat nyaman dengan terjemahan buku ini. Semua terasa mengalir dan pas. Dan, kover buku ini sangat manis. Khas remaja dan perpaduan warna yang kalem membuat buku ini sangat eye-catching.
Overall, buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca. Bagi yang menyukai bacaan ringan dan walaupun genre buku ini teenlit siapapun bisa membaca buku ini. Karena menurutku membaca genre teenlit sangat menyengkan. Seperti nostalgia zaman-zaman masih remaja. Ah, berasa sekarang saya super tua saja! xD

[Review] Legend



Judul : Legend (Legend #1)
Pengarang : Marie Lu
Penerjemah : Lelita Primadani
Tahun Terbit : Cetakan I, November 2012
Penerbit : Mizan Fantasi
Jumlah Halaman : 382 hal
Kategori : Remaja, Romance, Young Adult, Fantasi, Sci-Fic
Harga : Rp. 55.000,-
ISBN : 978-979-433-724-0
Rating : 3/5


            Day adalah remaja yang dianggap mati oleh Republik dan keluarganya. Selama 5 tahun Day selalu hidup di jalanan dan menyokong keluarganya secara sembunyi-sembunyi. Day selalu khawatir salah satu keluarganya akan divonis Republik terjangkit wabah. Hingga kenyataan pahit, adiknya Eden. Day berjanji pada kakaknya John untuk membawa obat untuk Eden. Day berusaha untuk mendapatkan obat untuk adiknya dengan mencuri di Rumah Sakit Pusat Los Angels. Day yang tidak berhasil mendapat obat untuk adiknya terluka parah ketika berhasil kabur dari kejaran para tentara.
            June adalah remaja jenius yang mempunyai kehidupan bertolak belakang dengan Day. June hidup berkecukupan dan mendapat pendidikan layak demi menjadi tentara Republik. June mendedikasikan hidupnya untuk menjadi warga Republik yang baik. Hingga kabar kematian kakaknya, Metias, menghancurka hidup June. Saat ini yang ada di pikiran June adalah membalas dendam. June diberi tahu yang membunuh kakaknya adalah Day. Remaja pembuat onar yang gencar dicari oleh Republik. June bersedia membantu untuk menangkap Day. Namun, kenyataan pahit didapat June ketika berhasil menangkap Day. June pun dilanda keraguan ketika mengenal Day lebih dekat. Loyalitas June pada Republik tergoyahkan. Dan, benarkah Day yang membunuh Metias?

*************

            Sejujurnya membaca buku ini bukan sesuatu hal yang menyenangkan bagi saya. Cerita di awal buku ini begitu membosankan sampai-sampai membuat saya mengantuk. Jadi, harus sabar membaca buku ini karena keseruan baru terjadi ketika mendekati akhir cerita buku satu ini.
            Buku ini mengambil setting masa depan. Di mana negara di dunia Legend hanya tinggal Amerika saja, itu pun tidak sepenuhnya karena Negara Amerika dipecah menjadi 2 menjadi Republik dan Koloni. Dunia Legend bukan dunia yang damai, karena Republik dan Koloni saling berperang demi memperluas daerah kekuasaan masing-masing negara.
            June dan Day hidup di masa di mana anak-anak sekolah untuk menjadi tentara dan berperang melawan Koloni. Hanya saja Day yang miskin tidak bisa menikmati kenyamanan hidup seperti June yang terlahir di keluarga yang kaya. June si jeniu dan Day si pembuat onar. Keduanya selalu bertolak belakang. Takdir yang kelam pun mempertemukan mereka berdua.
            Yah, seperti yang saya bilang cerita awal dunia Legend ini sangat membosankan. Hanya berkisah tentang rutinitas June dan Day. Dan perkenalan masing-masing tokoh. Penggunaan pov bergantian antara June dan Day pun seharusnya membuat cerita semakin menarik karena masing-masing pikiran tokoh tergambar dengan jelas. Sayangnya, buku ini kurang aksi antara kedua tokoh. Makanya memang agak membosankan sih membaca novel Legend ini.
            Tokoh yang sangat saya sukai selain June adalah Metias. Ya ampun, kok ya begitu flashback-flashback tentang Metias muncul saya punya pikiran kayaknya buku ini bakalan seru. Habisnya, duo Metias dan June ini pasti duo yang nggak akan terkalahkan. Pasangan jenius, gitu. Pastinya petualangan June akan semakin menarik. Sayangnya, penulis memilih kematian Metias sebagai awal petualangan June. Ah, Metias cepet banget sih kamu dimatikan oleh penulis. xD
            Saya membeli buku ini dengan harga super murah. Pastinya saya bahagia banget bisa mendapatkan buku bagus dengan harga murah. Walau kover buku ini super nggak banget, yang penting saya dapat buku bagus dengan harga murah! xD
            Selama ini saya jarang membaca buku fantasi Mizan, saya sempat syok ketika tahu Mizan mulai menggunakan kertas koran sebagai pilihan untuk novel fantasinya. Saya sempat mengira mendapat buku bajakan karena setahu saya Mizan suka sekali memakai kertas kuning. Well, nggak jadi masalah lah yang penting original dan harganya murah. xD
           


Legend series :
1.      Legend (Legend #1)
2.      Prodigy (Legend #2)
3.      Champion (Legend #3)

[Review] Lockwood & Co. The Screaming Staircase

Judul : Lockwood & Co. The Screaming Staircase Undakan Menjerit
Pengarang : Jonathan Stroud
Penerjemah : Poppy D. Chusfani
Tahun Terbit : Cetakan I, Januari 2014
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 424 hal
Kategori : Young Adult, Fantasi
Harga : Rp. 70.000,-
ISBN : 978-602-03-0136-5
Rating : 5/5

            Aaaarrggghh .... novel ini sukses membuat saya jatuh cinta dengan tulisan penulis. Dan semakin membuat saya penasaran membaca karya-karya lain tulisan penulis dan kelanjutan cerita Lucy dan Lockwood. Saya jatuh cinta pada kekonyolan kalian berdua! xD
            Membaca novel ini mengingatkan saya pada aksi para pemburu hantu Goosebusters. Walaupun kesamaannya cuman perihal berburu hantunya saja selebihnya beda banget, kok.
            Lucy Joan Carlyle adalah remaja yang mempunyai kemampuan merasakan keberadaan hantu. Makanya Lucy pun bekerja sebagai pemburu hantu. Demi membantu kehidupan keluarganya. Lucy pun bangga akan kemampuannya ini. Hingga insiden yang menewaskan rekan kerjanya membuat Lucy trauma dan melarikan diri ke London.
            Harapan Lucy untuk segera mendapat pekerjaan di London pun harus kandas. Karena Lucy keluar dari pekerjaan secara tidak resmi, Lucy mendapat kesulitan ketika melamar sebagai agen pemburu hantu professional. Hingga akhirnya Lucy melamar pada Lockwood co. Awalnya Lucy ragu dengan agensi yang hanya memiliki satu karyawan dan pemilik yang masih remaja. Namun, di Lockwood co. Lucy menemukan arti kerja sama sesungguhnya dan mendapat keluarga baru di London.
            Tokoh favorit saya di buku ini tentu saja Lucy dan Lockwood. Duo maut ketika berhadapan dengan para hantu. Selalu suka ketika Lockwood selalu bersikap kelewat optimis dan Lucy kesal dengan tingkah Lockwood. Saya menyukai bagaimana kemampuan mereka berdua ini saling melengkapi. Lucy dengan kemampuan mendengar dan Lockwood dengan kemampuan melihatnya.
            Walau awal buku ini berisi tentang perkenalan kehidupan Lucy dari awal sampai dia bertemu dengan Lockwood saya begitu menikmati tiap lembar membaca cerita tentang Lucy. Bagaimana awal Lucy mendapat kemampuannya dan perasaan terluka Lucy ketika hanya dirinya yang selamat ketika terakhir kali bekerja sama dengan rekan-rekannya.
            Terasa sekali bagaimana Lucy begitu terluka dan tidak menyukai pemikiran orang dewasa. Mungkin itu juga yang membuat Lucy begitu mempercayai Lockwood. Walaupun kehidupan sehari-hari mereka bertiga, dengan George, selalu bertengkar.
            Kasus semakin serius ketika Lucy menyimpan kalung ketika melakukan pekerjaan pengusiran hantu bersama Lockwood. Saya sih sudah menduga akan terjadi sesuatu ketika Lucy berani-beraninya mengambil kalung dari seorang gadis yang tinggal tulang belulangnya saja.
            Dan, sungguh walau dalam buku ini masih belum terlihat kejelasan akan dibawa kemana cerita antara Lucy dan Lockwood saya semakin penasaran membaca buku kedua ketika sampai pada bab terakhir. Ah, super penasaran dengan series buku ini. Semoga saja ada rezeki bisa membaca kelanjutan cerita Lucy dan Lockwood. :D