Jumat, 04 Maret 2016

[Review] Cinder


Judul : Cinder (The Lunar Chronicles #1)
Pengarang : Marissa Meyer
Penerjemah : Yudith Listiandri
Tahun Terbit : Cetakan I, Januari 2016
Penerbit : Penerbit Spring
Jumlah Halaman : 384 hal
Kategori : Remaja, Romance, Young Adult, Fantasi, Sci-Fic
Harga : Rp. 79.000,-
ISBN : 978-602-71505-4-6
Rating : 4/5
 Bisa dibeli di bukupediacom


"Mereka mengambil gaun-gaunnya yang indah, menyuruhnya memakai baju kerja abu-abu tua, dan memberinya sepatu kayu."


Linh Cinder adalah remaja berusia 16 tahun yang mendapat julukan mekanik ternama di New Beijing. Julukannya ini tidak membuatnya lebih baik karena saat ini Cinder masih hidup dalam kungkungan ibu tirinya, Adri. Cinder selalu menginginkan kebebasan. Cinder merasa lebih baik dia menghilang saja daripada hidup bersama walinya itu. Cinder sendiri tidak pernah tahu alasan Garan mengangkat dirinya menjadi anak angkat keluarga Linh. Karena ayah tirinya itu meninggal ketika dalam perjalanan dari Eropa.
Adri sendiri tidak pernah membicarakan mengenai suaminya lagi setelah satu-satunya barang yang diwariskan suaminya hanyalah seorang cyborg. Cinder adalah cyborg. Satu lagi deretan hal yang semakin menyulitkan Cinder terbebas dari walinya. Sebagai cyborg, Cinder tidak akan pernah bebas kecuali Adri rela melepaskannya. Dan hal itu sangat mustahil. Karena Cinder tahu bahwa dari dirinyalah Adri dan kedua saudara tirinya bisa menikmati hidup. Ibu tirinya tidak akan rela melepas Cinder yang dianggapnya sebagai budak yang harus bekerja keras untuk membayar seluruh tagihan mereka.
Hingga suatu hari Pangeran Kai mendatangi stan Cinder dan meminta bantuan Cinder untuk memperbaiki android sang Pangeran.  Tentu saja Cinder terkejut dengan kedatangan Sang Pangeran yang tidak biasa ini. Apalagi di tempat seramai pasar mingguan New Beijing. Setelah kepergian Sang Pangeran, terjadi kehebohan di dekat stan Cinder. Salah satu pemilik stan roti terkena wabah Letumosis. Penyakit yang sudah menggeroti masyarakat bumi beberapa tahun terakhir. Dan sampai saat ini belum ada vaksin yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut.
Namun, tanpa diduga Peony, adik tiri Cinder, juga terserang wabah Letumosis. Adri menyalahkan Cinder yang membuat Peony tertular Letumosis. Dan tanpa segan-segan mengirim Cinder untuk dijadikan kelinci percobaan demi menemukan vaksin Letumosis. Para peneliti sudah melakukan segala percobaan untuk menemukan vaksin tersebut.
Wabah Letumosis tidak pandang bulu dalam memilih korbannya. Sang Kaisar New Beijing pun saat ini sedang menjalani karantina akibat wabah tersebut. Hal ini membuat Pangeran Kai semakin tidak sabaran untuk segera menemukan petunjuk sekecil apa pun mengenai wabah Letumosis. Sayangnya bukan hanya wabah Letumosis yang harus diprioritaskan Pangeran Kai. Ratu Bulan, Levana, tidak pernah lelah untuk mencoba melakukan aliansi dengan Kaisar New Beijing. Ratu Bulan yang terkenal dengan kekejaman dan kemampuan mengendalikan pikiran yang dimilikinya. Tentu saja Ratu Bulan pun menjadi salah satu ancaman bagi warga Bumi.

*************

Awalnya saya tidak pernah tahu bahwa novel Cinder adalah adaptasi dari dongeng-dongeng Grimm bersaudara yang sudah sangat terkenal. Yang ada di pikiran saya saat itu hanyalah: Oh judul bukunya Cinder, nama yang aneh. Dan setelah diberi kesempatan untuk membaca buku ini sendiri saya dibuat takjub dengan segala ide penulis yang mampu menceritakan ulang dongeng Cinderella dengan versi yang sangat berbeda. Versi yang lebih modern.
Saya salut dengan penulis. Sangat. Begitu brilian dengan mengangkat dongeng Cinderella yang seorang cyborg! Wow, cerita klasik dipadu dengan unsur modern, efek yang sangat mengejutkan. Siapa yang tidak penasaran ketika tokoh Cinderella berubah menjadi setengah robot setengah manusia? Yap, tokoh Cinder di sini diceritakan pernah mengalami kecelakan ketika masih kecil. Membuat dirinya mempunyai kaki dan tangan buatan. Keadaan Cinder ini tidak serta merta membuatnya terlihat lebih kuat atau apa pun, sayangnya di dunia Cinder seorang cyborg dianggap rendah. Para cyborg malah dijadikan kelinci percobaan oleh para ilmuwan.
Setting yang digunakan oleh penulis adalah dunia setelah perang dunia ke-4 dengan latar belakang kota New Beijing. Ugh, rada salut dan ngeri sebenarnya ide perang dunia ke-4 ini, membuat saya membayangkan seandainya memang benar telah terjadi perang setelah perang dunia ke-2. Dan, saya sempat penasaran dengan pemilihan Kota New Beijing yang diambil penulis. Mendengar kata Beijing tentu saja mengingatkan saya kepada Negara Cina. Saya sih menebak karena dongeng Ciderella pertama kali ditemukan Cina, mungkin, penulis mengikuti referensi tersebut (sumber).
Penulis begitu jenius dalam meramu setiap detail hal-hal yang dialami Cinder dan mengarahkannya tetap pada cerita aslinya sendiri. Walau tidak sama persis, memang. Bagian favorit saya terutama ketika pesta dansa berlangsung. Saya selalu menunggu-nunggu akan seperti apa pesta dansa nantinya. Dan akan seperti apa sepatu Cinder yang terjatuh di tangga dan ditemukan oleh Kai. Melebihi rasa deg-degan saya kapan akhirnya Kai tahu bahwa Cinder adalah cyborg. Dan begitu sampai pada adegan legendaris itu, lagi-lagi saya dibuat takjub karena begitu mulusnya pemilihan penulis dalam tiap detail cerita. Bagaimana akhirnya sepatu Cinder ditemukan Kai. Wow. Saya hanya bisa bilang wow.
Saya semakin memahami mengapa novel Cinder ini begitu digemari, karena selain mengingatkan dengan dongeng masa kecil kita yang begitu familier, novel ini tidak kehilangan identitasnya. Dari awal sampai akhir kita tidak akan pernah dibuat lupa bahwa novel ini memang adaptasi dongeng Cinderella. Dari Cinder yang selalu dizalimi ibu tirinya sampai pesta dansa dengan sang pangeran. Semuanya tetap urut seperti dongeng Cinderella.
Kemunculan Ratu Bulan sendiri membuat saya bertanya-tanya apakah penulis mencampur dongeng Putri Salju dengan Cinderella. Karena penggambaran Ratu Bulan yang begitu membenci cermin mau tidak mau mengingatkan saya pada quotes terkenal pada cerita putri salju.
Dan hal yang paling menyebalkan dari membaca buku berseri adalah saya penasaran dengan buku ke-2 Cinder! Dan saking nggak sabar menunggu terjemahannya terbit sempat terbesit di pikiran saya untuk membaca versi aslinya saja, walau saya takut nanti banyak kosakata asing yang saya temukan. Lol
Mengenai terjemahan buku Cinder sendiri sebenarnya tidak ada masalah. Penerjemah berhasil menyampaikan cerita dengan terjemahan yang enak, mudah dipahami dan membuat ceritanya tidak aneh. Walau awalnya saya merasa canggung dengan pemilihan penerjemah yang berbeda dari seri To All The Boys I’ve Loved Before. Saya sudah kepalang tanggung menyukai terjemahan Spring sebelumnya. Makanya, agak sedikit kecewa sebenarnya.
Dan, seandainya ada yang bertanya apa novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca. Jawabannya hanya satu, iya. Tidak akan ada penyesalan ketika sudah berkenalan dengan Cinder. Pembaca akan dibuat penasaran bagain-bagian dongeng Cinderella apa saja yang akan muncul. Dan tentunya membaca novel ini akan menjadikan seperti nostalgia sambil mengingat dongeng Cinderella masa kecil, tapi Cinder ini dalam versi yang lebih modern.
          



The Lunar Chronicles series :

  1. Glitches (The Lunar Chronicles, #0.5)
  2. The Little Android (The Lunar Chronicles, #0.6)
  3. Cinder (The Lunar Chronicles, #1)
  4. The Queen's Army (The Lunar Chronicles, #1.5)
  5. Scarlet (The Lunar Chronicles, #2)
  6. Cress (The Lunar Chronicles, #3)
  7. Carswell's Guide to Being Lucky (The Lunar Chronicles, #3.1)
  8. Fairest (The Lunar Chronicles, #3.5)
  9. Winter (The Lunar Chronicles, #4)

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)