Jumat, 15 Januari 2016

[Review] Bulan


Judul : Bulan [Bumi #2]
Pengarang : Tere Liye 
Penerbit : GPU
Tebal : 424 Halaman
Tahun Terbit : Cetakan kesatu, Maret 2015
Kategori : Teenlit, Adventure, Fantasi
ISBN : 978-602-03-1411-2
Harga : Rp. 88.000,-
Status Buku : Pinjam @iJak
Ratingku : 5/5
 Bisa dibeli di bukupediacom

Raib, Seli, dan Ali menjalani kehidupan sehari-hari mereka kembali setelah 6 bulan berlalu sejak pertempuran yang terjadi di Perpustakaan Sentral yang ada di dunia Bulan. Walaupun banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran mereka, semua itu harus mereka tahan. Miss Selena guru matematika sekaligus prajurit dari klan bulan memberi instruksi kepada mereka untuk menunggu. Miss Selena berjanji akan menjawab segala pertanyaan mereka bertiga ketika segala kekacauan di klan bulan diselesaikan. Banyak sekali yang harus Miss Selena urus. Mereka bertiga hanya bisa bersabar menanti.
Lumayan, walau absurb! lol
Setelah akhirnya Miss Selena muncul ketika Ali mulai berulah, lagi, yang mengakibatkan mereka bertiga berakhir di ruang BP. Mereka beritiga merasa lega karena sebentar lagi semua pertanyaan yang berkecamuk akan segera terjawab. Namun, sayang Miss Selena sendiri juga belum mengetahui banyak hal. Berita baiknya kemunculan Miss Selena adalah untuk mengajak mereka bertiga berdiplomasi dengan klan Matahari. Leluhur Seli. Tamus, si hitam, musuh mereka sewaktu terjadi peperangan di dunia Bulan memang sudah terkurung bersama Tanpa Mahkota di petak penjara Bayangan di Bawah Bayangan. Tapi hal itu masih tetap mengkhawatirkan seandainya Tamus bisa lolos dari penjara tersebut. Untuk itu klan Bulan berencana untuk menjalin kerja sama dengan Klan Matahari.
Perjalanan mereka bertiga ke Klan Matahari tanpa diduga menjadi suatu petualangan berbahaya. Mereka tidak pernah menyangka akan diikutsertakan dalam kompetensi Festival Bunga Matahari Klan Matahari. Festival yang diadakan tiap tahun oleh Klan Matahari untuk menemukan Bunga Matahari pertama yang mekar di dunia Matahari.

*************

Rasanya sungguh bahagia bisa membaca buku ini. Walau sayang sekali di iJak hanya ada buku kedua dari series Bumi ini. Saya pertama kali tahu novel series ini adalah dari fanpage penulis. Beberapa bab diposting secara gratis oleh penulis. Dan saya yang awalnya agak skeptis merujuk judul buku yang cuma satu kata yaitu Bumi hanya iseng mengisi waktu luang membaca tulisan baru Tere Liye. Dan tanpa disangka saya langsung jatuh cinta dengan tulisan penulis. Saya tahu ada beberapa cerita yang ditulis penulis agak menyerempet ke genre fantasi, tapi baru kali ini saya membaca tulisan penulis yang berbau fantasi. Penulis yang satu ini selalu membuat saya takjub. Hampir semua genre sudah pernah ditulis dan selalu menghasilkan karya yang bagus. Semakin salut ketika menurut pengakuan penulis bahwa beliau menulis ketika hanya ada waktu luang dan viola dalam beberapa bulan saja penulis bisa menghasilkan satu buku series ini. Hmm, hebat kali penulis produktif yang satu ini.
Dan, penamaan tokoh pada cerita ini yang membuat saya takjub di awal membaca series bumi ini adalah, Raib. Nama yang aneh. Hingga beberap bab diketahui bahwa sang tokoh utama mempunyai kekuatan bisa menghilang. Berasa tertipu sekali saya waktu itu karena jelas-jelas persamaan dari kata Raib sendiri kan hilang. Saya makin semangat membaca kisah-kisah Raib yang waktu itu dengan kekonyolan remaja Raib menghilangkan jerawat yang mucul di wajahnya. Konyol, kan?
Namun, sayangnya penulis memberi kabar bahwa novel Bumi akan segera naik cetak dan postingan di FB dihentikan oleh penulis. Saya pun rada kecewa mengingat sudah penasaran. Hingga akhirnya novel Bumi sudah terbit dan saya sempat melupakannya. Dan karena sampai saat ini saya belum berkesempatan membaca buku Bumi aka kere akhirnya saya nekat loncat membaca buku kedua series ini. Dengan berbekal nanya-nanya ke teman yang sudah membaca buku kesatu. Dan tentu saja saya harus berterima kasih kepada Irnari @Treasure Island yang sudah memberi spoiler. :3
Baiklah, kita bahas tentang buku kedua ini.
Di buku kedua ini beberapa rahasia terkuak bahwa Raib adalah keturunan Dunia Bulan, Seli keturuan Dunia matahari dan Ali, yah, dia keturunan dari bangsa paling rendah, Bumi. Mereka bertiga masih mempunyai banyak pertanyaan setelah apa yang terjadi pada mereka selama ini. Hanya saja walau bagaimana pun rasa penasaran memang masih menggerogoti mereka bertiga. Apa lagi Miss Seline yang menghilang.


“Ketahuilah, mau seberapa maju teknologi dunia ini, mau bagaimanapun mereka mengubah peraturan kompetensi, maka sejatinya kompetensi ini tetap tentang alam liar. Kamu tidak akan membutuhkan kekuatan besar, atau senjata-senjata terbaik untuk menemukan bunga pertama mekar. Kamu cukup memiliki keberanian, kehormatan, ketulusan, dan yang paling penting, mendengarkan alam liar tersebut.” (Nenek Hana-p.147)


Setelah kedatangan Miss Seline, mereka tidak diberi pilihan untuk melontarkan kebingungan mereka karena harus mengikuti festival Bunga Matahari. Kompetensi yang terpaksa mereka ikuti demi kemulusan perjanjian yang akan dibuat dengan Dunia Matahari. Kompetensi yang akan diikuti mereka adalah menemukan bunga matahari mekar pertama. Mereka harus melawan 9 grup lain yang mengikuti kompetensi Bunga Matahari. Ada 4 tantangan yang harus mereka pecahkan dan saya harus mengakui bahwa petulangan mereka ini benar-benar seru. Seandainya dibuat movie pastinya keren!
Setelah mereka berdua sampai di Dunia Matahari di tengah hiruk pikuk kehebohan festival Bunga Matahari yang terlintas di benak saya adalah pertandingan Quiddick yang pernah didatangi Harry. Dan beberapa petualangan Ra dkk mengingatkan saya juga ketika Harry mengikuti kompetensi Piala Api dengan Cedric. Ah, mungkin penulis benar-benar terinspirasi dari novel Harry Potter, tapi entahlah.
Lagi-lagi penulis selalu memberi akhir yang membuat saya lemes. Ada satu kejadian yang membuat saya sedih dan hampir menangis saking tidak relanya. Jempolan banget deh penulis ini. Walau memang petualangan mereka berdua hampir selalu mulus, twist di akhir itu lho yang benar-benar jleb banget menghantam saya, Ra, Seli, dan Ali. Aargh .... kenapa pula harus dibuat seperti itu! Efek dramatisirnya memang dapet banget sih, tapi .... T_T



“Sungguh ada banyak sekali hal di dunia ini yang bisa jadi kita susah payah menggapinya, memaksa ingin memilikinya, ternyata kuncinya dekat sekali : cukup dilepaskan, maka dia datang sendiri. Ada banyak masalah di dunia ini yang bisa jadi kita mati-matian menyelesaikannya, susah sekali jalan keluarnya, ternyata cukup diselesaikan dengan ketulusan, dan jalan keluar atas masalah itu hadir seketika.” (Raib-p.209)


Saya selalu menyukai tulisan penulis, cara penulis bercerita itu memang khas sekali. Selalu ada kalimat-kalimat khas penulis sekali di tiap bukunya. Seakan penulis tidak pernah kehilangan identitas dirinya. Contoh yang jelas adalah buku ini. Buku ini mengambil tema fantasi, dikhususkan untuk remaja tapi anehnya penulis tidak memakai gaya bahasa khas remaja. Penulis masih tetap menulis dengan gaya tulisannya yang tidak baku tapi tidak terlalu gaul. Anehnya tidak ada keanehan ketika saya membaca novel remaja tapi menggunakan bahasa resmi. Novelnya tetap asik saja dibaca. Selalu khas Tere Liye. Dan tidak terasa sebagai novel terjemahan walau genrenya fantasi. Tetap terasa bahwa setingnya adalah remaja Indonesia walau dengan segala hal-hal ajaib di dalamnya.
Satu hal yang membuat saya super kecewa adalah cover buku ini. Ampun, saya benar-benar gagal paham mengapa dibuat seperti itu. Boro-boro terlihat seperti novel fantasi, khas remaja pun tidak. Saya mikirnya seperti cover-cover novel romance! xD
Setelah membaca buku ini tentunya saya makin penasaran dengan buku selanjutnya. Yang katanya akan terbit pada tahun 2016 ini. Semoga saja saya bisa membaca buku kelanjutan bumi ini. :)


0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)