Senin, 09 Juli 2012

'Sunset Bersama Rosie'

Sunset_bersama_rosie
Judul : Sunset Bersama Rosie
Pengarang : Tere Liye
Tahun Terbit : Cetakan II, Desember 2011
Penerbit : Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)
Jumlah Halaman : 426 hal
Kategori : Romance, Fiction
ISBN : 978-602-98883-6-2
Harga : Rp. 60.000,-

Demi mengikuti prosesi indahnya perayaaan ulang tahun pernikahan kedua sahabatku—Rosie dan Nathan—yang ke-13. Kami bertujuh aku, Rosie, Nathan dan ke-4 kuntum bunga mereka—Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili menikmati indahnya sunset di pantai Jimbaran, Bali walau aku terpisah jauh di Jakarta dengan kemajuan teknologi aku tidak ketinggalan setitik pun momen terindah ini.
Hanya saja kami semua tidak pernah mengetahui bahwa takdir berkata lain. Kesakralan acara kami direngut sekejap dengan sebuah bom yang tanpa diduga meledakkan restoran dimana keluarga Rosie berada. Aku yang panik berusaha menghubungi Rosie—yang sayangnya tidak ada jawaban karena memang HP Rosie sengaja dinonaktifkan. Aku tanpa memikir ulang langsung menuju Bali tanpa menghiraukan atau lebih tepatnya melupakan janji masa depanku yang besok akan ku ukir bersama Sekar.
Bom yang meledakkan Bali, meninggalkan sisa-sisa kesedihan pada setiap korban—termasuk Rosie. Nathan telah pergi, meninggalkan Rosie dan keempat kuntum bunga mereka. Ya Tuhan, aku hanya bisa berharap kesedihan ini berkurang—walau sedikit. Tapi kesedihan ini tidak berkurang sejengkal pun. Rosie yang mengalami intensitas kebahagiaan selama 13 tahun tidak sanggup menghadapi kesedihan dihatinya. Rosie depresi, dia berusaha untuk bunuh diri dan tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata. Dan dia harus menjalani terapi. Entah akan sembuh besok, lusa, bulan depan, tahun depan, bahkan bertahun-tahun.
Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Bagaimana dengan ke-4 kuntum bunga ini yang telah ditinggal pergi ayahnya, kemudian disusul ibunya? Demi keluarga ini aku meninggalkan segalanya. Meninggalkan semua hal yang kubangun di Jakarta sana selama 6 tahun terakhir dan meninggalkan Sekar. Dan janji-janji kehidupan dengannya.

Terlalu menyakitkan..........
Setelah belum lama ini aku membaca karya Tere Liye yang walau ada beberapa hal yang bikin sedih tetapi kebanyakan bikin tertawa Aku, Kau dan Sepucuk Angpao Merah. Sekarang lagi-lagi disuguhkan kisah yang begitu menyedihkan dan menyakitkan bagi tokoh maupun yang membacanya. Awalnya aku yang sedikit tahu bagaimana jalan cerita tentang novel ini—tentang insiden Bom Bali—yang pastinya banyak kesedihan-kesedihan mencoba untuk tidak mentitikkan air mata. Walau akhirnya sampai buku ini selesai dibaca hanya mataku yang berkaca-kaca—pada akhirnya. Aku jujur paling sebal dengan cerita dengan tema seperti ini. Dua orang bersahabat sejak kecil, tiba-tiba tumbuh rasa tetapi pada akhirnya tidak bisa bersatu dikarenakan munculnya seseorang yang lain. Menyedihkan. Hal itu lah yang dirasakan oleh Tegar—Tegar Karang. Dia bersahabat sejak kecil dengan Rosie. Selama 20 tahun memendam rasa dikalahkan oleh Nathan yang hanya mengenal Rosie selama 2 bulan. Tegar yang tidak bisa menerima kenyataan memutuskan untuk pergi. Dan selama 6 tahun baru bisa berdamai dengan perasaannya dan selama 6 tahun pula Tegar berusaha menerima. Tetapi nasib berkata lain insiden Bom Bali mengubah semuanya. Tegar yang begitu mencintai anak-anak Rosie tanpa ragu meninggalkan semua yang dimilikinya untuk menjaga dan mencurahkan segala kasih yang dimilikinya. Selama 2 tahun Tegar menjalankan peran Paman yang hebat, keren dan super. Selama 2 tahun pula Tegar lagi-lagi terjebak dengan masa lalunya—begitu yang dibilang Oma.
Sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang orang pertama yaitu Tegar. Alur yang maju mundur menjadikan kita lebih mengetahui sebesar apa perasaan Tegar kepada Rosie. Walau penuh hal yang menyedihkan dan menyakitkan tidak kupungkiri bahwa aku menikmati membaca novel ini. Bagian tersedih dan menjadi favorit ku adalah ketika Om, Uncle, dan Paman Tegar menjelaskan makna pergi dengan penggambaran kunang-kunang dan lilin kepada ke-4 kuntum bunga Rosie. Aku ikut tergugu ketika membaca penggambaran yang indah yang diberikan oleh Tegar. Dengan pemahaman yang begitu sederhana. Tak elak membuat mataku berkaca-kaca—bahkan saat mengetik resensi ini. Memang benar apa yang kebanyakan orang bilang ditinggalkan lebih menyakitkan daripada meninggalkan—khusus kematian. Orang yang mati telah selesai urusan di dunia ini dan tidak bisa kembali lagi—tentu saja. Sebaliknya yang ditinggalkan merasa hidupnya paling hancur dan sengsara sama halnya seperti yang terjadi pada Rosie. Novel ini mengajarkan kita cara untuk bisa berdamai—bukan melupakan hal-hal yang menyedihkan. Sebelumnya aku menyinggung tentang Om, Uncle, dan Paman Tegar. Menarik bukan? Kenapa ada panggilan yang begitu banyak untuk Tegar. Om untuk panggilan Anggrek kepada Tegar, Uncle yang dipilih oleh Sakura, dan Paman yang lebih indah menurut Jasmine. Nah apa panggilan Lili untuk Tegar? Harus baca novelnya sampai selesai—tentu saja :D.
Akhir dari novel ini hanya mempunyai 2 pilihan. Tegar melanjutkan hidupnya dengan Rosie atau melanjutkan janji kehidupannya dengan Sekar. Pilihan sederhana tapi pilihan yang sama-sama menyakitkan banyak pihak. Inilah lagi-lagi hal yang kubenci, apapun pilihan yang diambil oleh Tegar berdambak besar bagi semuanya, Rosie dan ke-4 kuntum bunganya dan juga Sekar yang sudah menjalani semua dengan berpegang janji Tegar kepadanya. Aku yang sudah membaca pada bab-bab terakhir mulai menebak-nebak akhir dari cerita Tegar, berkali-kali menebak selalu salah bahkan sampai pada akhir cerita. Entah tiba-tiba aku malah berpikir cerita tentang Tegar, Rosie dan Nathan seperti film Bollywood yang terkenal pada zamannya—Kuch Kuch Ho ta Hai. Apalagi ketika ditanya oleh Anggrek, Tegar dan Rosie mendefinisikan bahwa ‘Cinta adalah Persahabatan’. Ya ampun langsung deh aku punya pikiran janga
n-jangan memang seperti film India yang menjadi favoritku juga—walau memang sama sekali tidak sama persis. Harus kuakui aku agak kecewa dengan pemikiranku ini, bukan, bukan karena aku membenci karya ini yang sedikit sekali  mirip. Entahlah, aku hanya menginginkan cerita Tegar ini berbeda.
Tokoh yang paling kusukai adalah Oma, tidak banyak bicara tetapi mempunyai peran yang sangat besar dalam novel ini. Jujur harus kuakui, aku sangat membenci Rosie—dengan semua jalinan perasaan yang terhubung dengan Tegar. Menyakitkan, sekali lagi aku mengulang. Segalanya terasa menyakitkan apabila kita memandang dari sudut masing-masing tokoh. Novel yang kubenci sekaligus yang kusuka. Oia ada hal yang sangat membuatku penasaran sekali karena sampai menamatkan buku ini aku sama sekali tidak tahu siapakah gerangan anak muda yang mengajarkan arti kata cukup pada Tegar yang padahal jelas-jelas Tegar pada halaman 403 mengatakan ‘esok lusa aku baru tahu siapa anak muda tersebut’. Sangat menyebalkan memang karena aku tidak mendapatkan penjelasan apapun lagi. So who are you kid?
Untuk Om, Uncle, Paman, dan (sebutan Lili) Tegar aku beri nilai 5 :)

Aku suka sekali sinopsis dibelakang buku ini.
Sebenarnya, apakah itu perasaan? Keinginan? Rasa memiliki? Rasa sakit, gelisah, sesak, tidak bisa tidur, kerinduan, kebencian? Bukankah dengan berlalunya waktu semuanya seperti gelas kosong yang berdebu, begitu saja, tidak istimewa. Malah lucu serta gemas saat dikenang
Begitulah waktu, waktu yang selalu akan menjawab semuanya. Sepahit dan semanis apapun yang terjadi dalam hidup kita :)

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan segan buat ngasih komen ya :)